Menu

Menteri PPN/ Bappenas RI Suharso Monoarfa, “Danau Maninjau jangan Hanya Tinggal Kenangan”

  Dibaca : 122 kali
Menteri PPN/ Bappenas RI Suharso Monoarfa, “Danau Maninjau jangan Hanya Tinggal Kenangan”
TINJAU— Menteri PPN/Bappenas Dr (HC) Ir H Suharso Monoarfa meninjau keberadaan Danau Maninjau di Kabupaten Agam, yang ketercemarannya mengkhawatirkan.

AGAM, METRO
Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN), Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas), Dr (HC) Ir H Suharso Monoarfa mengingatkan, Danau Maninjau berdasarkan hasil penelitian LIPI terjadi penurunan status tropik, dalam waktu hampir 100 tahun belakangan.

“Dari oligotropik tahun 1929, menjadi hipertropik pada tahun 2016, maka secara komulatif terjadi perubahan yang luar biasa,” ujar Suharso, saat mengunjungi langsung Danau Maninjau, yang salah satu dari 10 danau yang menjadi prioritas di Indonesia untuk diselamatkan dari ketercemaran lingkungan, Kamis (8/4).

Kondisi ini menjadi dua pilihan yang sangat sulit, satu sisi ingin selamatkan Danau Maninjau dari ketercemaran untuk kepentingan masyarakat. Karena danau ini telah memberikan kehidupan dan kelestarian alam agar keberlanjutan kehadiran danau bisa dinikmati anak cucu pada masa mendatang.

Sedangkan sisi lain di waktu yang bersamaan, masyarakat bekerja di keramba sehingga ini menjadi tugas yang berat bagi Bupati Agam Dr Andri Warman dalam mengatasinya.

Diharapkan, Pemkab Agam bersama masyarakat terutama sekitar danau, untuk menjaga dan memelihara danau itu. Karena ia sangat kagum dengan Agam yang memiliki kekayaan alam seperti memiliki danau, gunung, laut dan lainnya. “Jangan sampai nanti Danau Maninjau yang jadi kebanggaan masyarakat Minang terutama Rang Agam ini hanya tinggal kenangan,” kata Suharso saat mengunjungi Danau Maninjau.

Kunjungan ini didampingi Wagub Sumbar Ir Audy Joinaldy, Bupati Agam Dr Andri Warman, serta rombongan dari Menteri PPN itu sendiri dan lainnya. Suharso melihat secara langsung kondisi Danau Maninjau yang kini tengah alami ketercemaran. Bahkan dikatakannya ketercemaran air danau terlihat jelas, yang diakibatkan oleh sisa pakan ikan.

Hal ini karena, pakan yang diberikan kepada biota Danau Maninjau adalah pakan anorganik, sehingga dengan sendirinya pakan akan membentuk sedimentasi di danau. “Sedangkan seluruh dunia telah beralih ke pakan ternak organik termasuk ikan yang organik, karena tidak menghasilkan sedimen,” ujar Suharso.

Untuk itu, ia minta Pemkab Agam menerbitkan Perda dan melakukan pemeriksaan, agar pakan ikan dialihkan jadi pakan organik. Selain mudah didapat, harganya jauh lebih murah dibanding anorganik.

“Ini salah satu yang kita minta kepada Pemkab Agam, untuk bisa memproduksi pakan ikan organik, yang diikuti oleh Perda untuk menjelaskannya kepada masyarakat,” sebut Suharso.

Dengan begitu, menurutnya dua atau tiga tahun ke depan sedimen di danau akan berkurang, sehingga tidak terjadi pendangkalan seperti yang dialami Danau Limboto.

Sementara, Bupati Agam Andri Warman menyebutkan, terkait usulan Menteri PPN untuk membuatkan Perda, pihaknya akan mengkoordinasikannya dengan DPRD dan masyarakat setempat. “Karena setelah lebaran nanti kita akan mengunjungi seluruh nagari di Tanjung Raya, untuk menyerap informasi dan mengetahui apa sebenarnya permasalahan di salingka Danau Maninjau ini,” ujar Andri.

Diketahui, di danau selain masyarakat yang punya keramba, juga banyak dimiliki pihak ketiga, sedangkan warga salingka danau banyak yang hanya sebagai pekerja. “Belum lagi kita juga berwacana bangun kereta gantung dari Matur ke Danau Maninjau, kalau airnya seperti ini siapa yang mau datang. Tapi kalau kualitas airnya bagus, rakyat akan jadi aman dan pemerintah tidak punya kendala, tentu ekonomi masyarakat meningkat dengan sendirinya seiring meningkatnya wisatawan berkunjung,” ungkap Andri. (pry)

Editor:
KOMENTAR

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional