Close

Menteri Desa PDTT, Abdul Halim Iskandar, “Transmigran sebagai Pahlawan dari Pinggir”

Menteri Desa PDT dan Transmigrasi, beserta robongan disambut Bupati Rusma Yul Anwar, Ketua DPRD Pessel, Gubernur Sumbar Mahyeldi dan Forkopimda Pesisir Selatan.

MENTERI Desa PDT dan Tran­s­migrasi RI, Abdul Halim Iskandar, yang akrab disapa Gus Halim mengunjungi kabupaten dengan sebutan Sejuta Pesona Pesisir Selatan ”Pasisie Rancak”. Menteri juga menjadi pemimpin upacara peringatan Hari Bakti Transmigrasi (HBT) ke-71 di kantor Bupati Pessel di Painan, Minggu (12/12).

Upacara peringatan bertema Transmigrasi Wujud Nyata Implementasi SDGs Desa untuk Pembangunan Berkelanjutan itu turut dihadiri pejabat Eselon I dan II Kementerian Desa. Bupati Rusma Yul Anwar, Gubernur Sumbar Mahyeldi dan Forkopimda Pessel.

Hari Bhakti Transmigrasi ke-71 tahun ini mengusung tema, ”Transmigrasi Wujud Nyata Implementasi SDGs Desa untuk Pembangunan Berkelanjutan”. Abdul Halim Iskandar dalam pidatonya mengatakan, program migrasi penduduk secara horizontal atas inisiatif pemerintah, yang saat ini dikenal dengan transmigrasi, sudah sejak lama diimplementasikan di nusantara. Bahkan, sejak masa kolonialisme belanda, yaitu pada 1905.

Pada tahun itu, pemerintah kolonial, untuk pertama kalinya, memberangkatkan 155 KK transmigran dari Kedu, Jawa Tengah, menuju Gedong Tataan, Lampung. Bagi pemerintah Indonesia, konsep transmigrasi untuk pertama kalinya, diperkenalkan Presiden RI Soekarno, melalui artikel di Harian Soeloeh Indonesia pada 1927. ”Karena itulah, program transmigrasi merupakan program khas Indonesia,” kata menteri.

Selanjutnya, Pemerintah Indonesia melaksanakan program transmigrasi untuk pertama kalinya 12 Desember 1950 , ketika Jawatan Transmigrasi memberangkatkan 25 KK atau 98 jiwa transmigran menuju Lampung dan Lubuk Linggau. ”Oleh karena itulah, sejak 12 Desember dikenal dan diperingati sebagai Hari Bhakti Trasmigrasi (HBT). Pada tahun ini diperingati di Painan,” kata Gus Halim.

”Karena itulah, kementerian mengajak semua, untuk menjadikan upacara ini sebagai momentum refleksi bersama demi kemajuan, kebangkitan, serta kemaslahatan Indonesia, khususnya warga transmigran yang tersebar dari Sabang sampai Merauke,” sebut Gus Halim.

Sebagai sebuah program khas Indonesia, program transmigrasi tidak hanya bertujuan menyelesaikan problem kepadatan dan persebaran penduduk. ”Tapi, transmigrasi bertujuan meningkatkan kualitas hidup warga, baik warga transmigran maupun warga sekitar kawasan transmigrasi,” ujar Gus Halim.

Sebagaimana disebut pada Pasal 3 Undang-Undang (UU) No.15/1997 tentang Ketransmigrasian bahwa, penyelenggaraan transmigrasi bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan transmigran dan masyarakat sekitarnya, peningkatan dan pemerataan pembangunan daerah, serta memperkukuh persatuan dan kesatuan bangsa.

Undang-undang ini jelas menyebutkan, bahwa sasaran program transmigrasi, tidak terbatas pada warga transmigrasi, program transmigrasi menyasar juga warga di sekitar kawasan transmigrasi.

Ia melanjutkan, program revitalisasi dibangun di atas 4 pilar, dengan konsep semangat gotong royong dan pendekatan interpreuneur agar mampu menjadi kawasan transmigrasi yang mandiri.  Ke-4 pilar itu antara lain menciptakan rantai wirausaha yang dapat menjadikan putaran manfaat di dalam kawasan transmigrasi dengan mengidentifikasi produk unggulan dan kemudian dilakukan analisis prospek bisnisnya.

Kedua, menciptakan pasar nonkompetisi sebagai tempat memperkenalkan produk masing-masing. Ketiga, mendorong daya saing dan kemudian yang keempat adalah penamaan yang kuat, sehingga produk yang dihasilkan bisa menembus pasar domestik, maupun mancanegara. ”Dengan demikian, investor bisa masuk, tapi tetap masyarakat yang lebih berkuasa,” terang Mendes.

Upaya tersebut dilakukan melalui inovasi transpolitan 4.0. Alasannya, pengembangan kawasan transmigrasi selama ini pada umumnya memakan waktu yang cukup lama, bahkan mencapai 30 tahun. Karena itu, ia mengajak semua pihak menjadikan peringatan HBT sebagai salah satu momentum refleksi bersama demi kemajuan, kebangkitan, serta kemaslahatan Indonesia, khususnya warga transmigran yang tersebar dari Sabang sampai Merauke.

”Pada kesempatan ini, kami atas nama pemerintah dan pribadi juga mengucapkan terima kasih pada pemerintah daerah dan masyarakat Pesisir Selatan atas suksesnya peringatan tahun ini,” ujar Mendes.

Di Indonesia, konsep trnasmigrasi pertama kalinya diperkenalkan Presiden Soekarno, melalui artikelnya di Harian Soeloeh Indonesia pada 1927. Presiden ketika itu menyatakan transmigrasi sebagai program khas Indonesia. Transmigrasi pertama dimulai 12 Desember 1950 bagi 25 KK atau 98 jiwa ke Lampung dan Lubuk Linggau. Untuk transmigrasi Lunang Silaut, dimulai pada 1978 dan terakhir 2009

Pemkab Dukung Transmigrasi

Terpisah, Bupati Rusma Yul Anwar menyampaikan, Pesisir Selatan sejak awal memberikan perhatian besar terhadap transmigrasi. Setelah bantuan pemerintah pusat berakhir, transmigran di Lunang dan Silaut mulai merasakan kesulitan ekonomi. Pemerintah daerah ketika itu mengajak dan menyosialisasikan perkebunan kelapa sawit di kawasan transmigrasi, mulai dari proses penanaman, pemeliharaan, panen hingga proses pengolahan. “Alhamdulillah, kini telah terlihat hasilnya. Mereka kini sudah mandiri, bahkan turut serta dalam memajukan pembangunan daerah,” terang bupati.

Kemudian ikut menyukseskan program percepatan pengembangan kawasan transmigrasi melalui pembentukan Kota Terpadu Mandiri (KTM) yang digagas pemerintah pusat di wilayah transmigrasi. Sebagai respon dari program tersebut, pemerintah kabupaten pada 2012 turut melahirkan Peraturan Daerah (Perda) tentang pembentukan KTM Lunang Silaut. Bahkan kini masuk dalam 52 kawasan transmigrasi prioritas nasional.

Pemerintah kabupaten dalam RPJMD 2021-2026 menargetkan pertumbuhan lembaga ekonomi dan sosial di wilayah transmigrasi sebanyak 35 unit per tahun. Menetapkan Lunang dan Silaut sebagai daerah potensi pariwisata. Menjadikan Kecamatan Silaut sebagai wilayah peruntukan industri, utamanya penholahan kelapa sawit. “Menetapkan Lunang dan Silaut sebagai kawasan perkebunan dan perhutanan industri,” terang bupati.

Karena itu, pada pertemuan tersebut bupati mengusulkan pada Mendes program cetak sawah guna menjaga ketahanan pangan di wilayah transmigrasi. Kemudian perbaikan pusat bisnis dan Kawasan Perkotaan Baru (KPB). Kawasan transmigrasi di Kecamatan Lunang dibuka 1973, masa pemerintahan Presiden Soeharto. Kecamatan Silaut pada 1979 dan terakhir pengiriman 2009. Mayoritas berasal dari Jawa.

Dalam kegiatan Kunker ke Pesisir Selatan, Abdul Halim Iskandar melaksanakan kegiatan lainya, seperti, Penyerahan Setifikat Hak Milik (SHM) Transmigrasi UPT Padang Tarok Kabupaten Sijunjung kepada 5 orang Transmigran Penyerahan Peta Nagari Kawasan Transmigrasi  Lunang Silaut kepada Ketua Forum Wali Nagari Lunang Silaut, Penyerahan Bantuan Peralatan Sarana Pendidikan dan Kesenian, Penandatanganan Prasasti Panggung Seni dan Kantor Wali Nagari Pulau Karam dan Penampilan Tari Kuda Lumping oleh Sanggar Lunang.

Pemotong tumpeng peringatan HBT ke-71 tahun 2021 dilaksanakan kediaman rumah dinas bupati, Peluncuran Buku “Jalan Terjal Putra Transmigrasi “ DR M Arifin SPd MPd dan pengukuhan persatuan anak Transmigrasi RI (PATRI) DPD Sumbar, DPC  Pesisir Selatan dan DPC kabupaten dan kota. (**)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

0 Comments
scroll to top