Close

Menteri BUMN Resmikan Pembentukan Holding Subholding PT PLN (Persero)

RESMIKAN HOLDING PLN— Menteri BUMN Erick Thohir meresmikan pembentukan Holding Subholding PT PLN, yang membuat seluruh aset pembangkitan PLN terkonsolidasi dalam dua Subholding Generation Company (Genco).

WAHIDIN, METRO–Kementerian Badan Usa­ha Milik Negara (BUMN) meresmikan pembentukan Holding Subholding PT PLN (Persero). Aksi korporasi ini  membuat seluruh aset pembangkitan PLN terkonsolidasi dalam dua Subholding Generation Company (Genco) yai­tu PLN Indonesia Power mengelola 18,4 Gigawatt (GW) pembangkit dan PLN Nusantara Power menge­lola 20,6 GW akan menjelma menjadi perusahaan pembangkit listrik terbesar di Asia Tenggara.

Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir menjelaskan salah satu poin penting dalam konsolidasi ini adalah untuk membuat proses bisnis PLN semakin efektif dan efisien. Sehingga mampu menjadi bagian penting dalam kebangkitan industri Indonesia.

“PLN ini jantungnya Indonesia. Listrik adalah pusat pertumbuhan ekonomi. Kalau kita lihat, suka tidak suka, industrialisasi perlu listrik,” katanya, dalam siaran pers yang diterima POSMETRO, Kamis (22/9).

Ia meyakini terbentuknya Subholding pembangkitan Genco akan me­ningkatkan kompetensi PLN, sehingga dapat menjadi modal untuk masuk dalam rantai suplai energi di kancah global. “Ini bukan hanya transformasi bisnis PLN. Tetapi untuk kesejahteraan rakyat dan posisi Indonesia menjadi salah satu negara yang sangat besar secara ekonomi,” tuturnya.

Sekretaris Jenderal Kementerian Energi dan Sum­berdaya Mineral, Rida Mu­lyana mengapresiasi langkah restrukturisasi PLN ini agar PLN lebih lincah gesit dalam menjawab kebutuhan tantangan energi Indonesia. Sehingga sistem kelistrikan makin andal dengan harga yang makin kompetitif.

“Kami berharap PLN makin efektif dan cepat mengambil keputusan da­lam semua lini,” tuturnya.

Direktur Utama PLN Darmawan Prasodjo mengungkapkan, pembentukan Subholding tersebut merupakan transformasi dengan merestrukturisasi organisasi di seluruh lingkungan PLN Group, sehingga aset yang tadinya tersebar dan tersekat dapat diintegrasikan dan difokuskan, sehingga lebih berbasis pada fungsional. Salah satunya di bidang pembangkitkan.

“Jika dulu pengelolaan pembangkit PLN ada di unit-unit regional dan divisi. Dengan konsolidasi organisasi ini, PLN sekarang memiliki dua subholding Genco terbesar se-Asia Tenggara, yaitu PLN Indonesia Power dan PLN Nusantara Power,” ujarnya.

Hal ini akan membuat proses bisnis pengelolaan pembangkit jadi lebih sederhana. Rantai pengambilan keputusan yang tadinya panjang dan kompleks menjadi ringkas, sehingga bisa lebih responsif mengubah tantangan menjadi peluang. Utilisasi aset pem­bangkitan yang tadinya kurang maksimal jadi bisa dioptimalkan.

“Sebagaimana arahan Pak Menteri BUMN, dengan program Holding Subholding ini bisnis proses akan lebih efektif dan efi­sien. Utilisasi aset lebih optimal. Technical skill jauh lebih fit dan relevan dalam menjawab tantangan zaman,” pungkasnya.

Tak hanya itu, untuk mempercepat transisi energi di Tanah Air, dibentuk juga dua entitas bisnis baru di bidang energi baru terbarukan (EBT) dan panas bumi yang berada di ba­wah subholding pembangkitan. Hal ini pengejawantahan komitmen PLN terhadap energi masa depan.

Nantinya hingga tahun 2025 pembangkitan PLN Nusantara Power akan me­nge­lola 23,5 GW dan PLN Indonesia Power me­nge­lola 22,9 GW tersebar di seluruh Indonesia.

“Akan muncul core kompetensi baru di bawah kedua Genco tersebut, yak­ni Geothermal dan EBT. Sehingga memperkuat posisi PLN dalam pergeseran energi fosil ke EBT yang menjadi tuntutan global. Competitive advantage PLN akan semakin kuat. Semakin punya daya saing di tingkat dunia,” pungkasnya. (ade)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

0 Comments
scroll to top