Menu

Menpora Gerah dengan Pemain Naturalisasi, Pas Dipanggil, Malah Pulang Kampung

  Dibaca : 76 kali
Menpora Gerah dengan Pemain Naturalisasi, Pas Dipanggil, Malah Pulang Kampung
Zainudin Amali

JAKARTA, METRO–Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora), Zai­nudin Amali gerah dengan perilaku pemain natura­lisasi, terutama di Timnas Indonesia. Menurutnya, beberapa atlet yang di­bantu menjadi Warga Ne­gara Indonesia (WNI) tidak bersikap profesional. “Khu­sus untuk naturalisasi di cabang olahraga sepak bola, saya melihat tidak begitu efektif untuk pem­bentukan Timnas Indonesia,” kata Amali.

Amali juga menilai bah­wa kualitas pemain natu­ralisasi tidak jauh berbeda dengan atlet lokal. “Kua­litas mereka yang dinatu­ralisasi juga tidak terlalu berbeda dengan pemain asli kita,” imbuh menteri asal Gorontalo tersebut. Soal attitude pe­main natu­ralisasi, Amali merujuk pada kejadian di Piala Men­pora dan pemu­satan lati­han Timnas Indonesia. Amali melihat pe­main na­tu­ralisasi tidak dapat men­jadi role model bagi pe­main lokal karena kelakuan­nya di atas lapa­ngan.

Menteri berusia 59 ta­hun itu juga kecewa de­ngan sikap pemain natura­lisasi yang meninggalkan pemusatan latihan Timnas Indonesia sebelum Kua­lifikasi Piala Dunia 2022 Zona Asia.

Amali tidak menje­la­s­kan secara spesifik siapa pemain naturalisasi yang dimaksud, namun dite­nga­rai menyindir Marc Klok. Gelandang kelahiran Ams­terdam, Belanda itu pulang ke Bali di tengah-tengah pemusatan latihan Timnas Indonesia di Jakarta pada Mei 2021 karena harus me­nemani istrinya yang akan melahirkan.

Marc Klok juga menjadi satu-satunya pemain natu­ralisasi yang dipanggil ke Timnas Indonesia sejak timnas level senior sibuk menatap Kualifikasi Piala Dunia 2022 pada bulan lalub. “Pada Piala Men­pora, saya sangat serius memperhatikan kualitas pemain naturalisasi. Me­reka belum bisa menjadi panutan bagi para pemain lokal,” terang Amali.

“Bahkan ada dalam sa­tu pertandingan, pemain naturalisasi tidak membe­rikan contoh bermain se­pak bola yang baik se­hingga harus dikartu me­rah oleh wasit.”

“Yang lebih mengece­wakan lagi, ada pemain naturalisasi yang dipanggil untuk memperkuat Timnas Indonesia yang akan ber­tanding di luar negeri ma­lah beralasan macam-ma­cam dan pulang kam­pung.” “Itu pertanda pemain na­turalisasi tersebut tidak ada kepedulian terhadap ke­pentingan nasional Indonesia. Dia sekadar bermain sepak bola saja, tapi jiwa patriotisme dan nasio­nalis­menya rendah. Sangat be­da dengan pemain yang memang asli, lahir, dan besar hidupnya di Indonesia,” papar Amali.

Sebelumnya, PSSI ma­s­ih terbuka dengan program naturalisasi. Asalkan, yang meminta adalah ma­najer pelatih Timnas Indonesia, Shin Tae-yong. PSSI baru menuntaskan status ke­war­ga­negaraan Ezra Wa­l­ian di FIFA. Penyerang Persib Bandung itu sebe­nar­nya telah dinaturalisasi sejak 2017, namun dilarang mem­bela Timnas Indonesia.

Saat ini, lumayan ba­nyak pemain berdarah dan keturunan Indonesia yang tersebar di Eropa. Keba­nyakan dari Belanda. Ma­yo­ritas netizen mendesak PSSI untuk menaturalisasi pemain-pemain tersebut. Sekjen PSSI, Yunus Nusi tidak bisa begitu saja me­nampung saran dari war­ganet. Sebab, pihaknya hanya akan memproses naturalisasi pemain ber­dasarkan pilihan dari Shin Tae-yong.

“Ketua PSSI, Mocha­mad Iriawan menyam­pa­i­kan kepada saya untuk meminta rekomendasi dari Shin Tae-yong, apakah ada pemain yang diminta untuk dinaturalisasi,” kata Yunus Nusi dinukil dari channel YouTube PSSI TV. “Sebab, kebutuhan ini harus reko­mendasi langsung dari Shin Tae-yong. Kami membuka diri selama rekomendasi naturalisasi itu datang dari Shin Tae-yong.”

“Mudah-mudahan ka­sus Ezra Walian dapat men­jadi evaluasi dan pembe­lajaran bagi kamu. Mengu­rus naturalisasi pemain itu harus serius dan semua harus dipersiapkan,” jelas­nya. (*/boy)

Editor:
KOMENTAR

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional