Close

Menjaga Kualitas Beras jadi Perhatian Serius Pemko

TANAM PERDANA— Wakil Wali Kota Solok Reinier ketika melakukan penanaman padi perdana di lahan pertanian.

Menjaga kualitas beras Solok merupakan salah satu perhatian serius pemerintah Kota Solok. Karena sudah ada aturan tentang harga beras Solok. Harga Eceran Tertinggi (HET) beras premium di kisaran Rp10.000 per kilogram dan kisaran Rp13.000 per kilogram untuk beras kualitas super. Setidaknya, dengan munculnya berbagai isi soal kualitas beras Solok menjadi perhatian semua pihak. Data produksi, peredaran gabah dan pemasaran di kota Solok harus terekam secara jelas.

Wakil Wali Kota Solok Reinier menyebutkan, Kota Solok dan sejumlah wilayah di Kabupaten Solok memiliki varietas unggul Anak Daro. Kota Solok dan Sejumlah kecamatan di Kabupaten Solok juga mengantongi sertifikat Indikasi Geografis dari Kemenkumham sebagai pengakuan terhadap produk dan kualitasnya. “Kita bersama Dinas terkait dan pihak yang terlibat dalam produksi dan distribusi beras Solok selalu berupaya menjaga kemurnian beras Solok, aliran produksi sampai distribusi harus dikawal,” ujar Reiner.

Isu negatif soal praktik pengoplosan beras Solok dengan beras jenis lain akhir-akhir ini kian meresahkan, konon, Beras Solok murni kualitas premium sangat sulit untuk didapatkan kendati berlabel Beras Solok Asli.

Isu yang berkembang ditengah masyarakat tersebut membuat “galau” pedagang beras Solok. Konsumen kerap dihantui dengan rasa was-was terhadap keaslian beras Solok. Hal tersebut sangat merugikan pedagang dan daerah.

Menanggapi soal tersebut, Pemerintah Kota Solok terus berupaya menjalin komunikasi intensif dengan petani, pengusaha Huller dan pedagang beras. Menjaga kemurnian beras Solok menjadi tanggungjawab semua pihak. “Isu soal praktik pengoplosan beras Solok ini sangat menggangu pemasaran beras kita, untuk itu peran semua pihak sangat diperlukan untuk menjamin keaslian beras Solok,” tambah Reiner.

Dikatakan, rumor negatif soal beras Solok memang sudah ada sejak lama, bahkan disebut-sebut, hanya sebagian kecil beras Solok yang beredar di Kota Solok. Sementara untuk menutupi kekurangan, didatangkan beras jenis lain dari berbagai daerah.

Bahkan, dikabarkan, gabah atau beras yang didatangkan dari luar Kota Solok tetap dilabeli dengan beras Solok dengan harga lebih murah. Ada juga informasi yang beredar, Beras Solok hanya sebagai pencampur dari jenis beras lain dan di packing dengan nama Beras Solok.

“Isu-isu seperti itu sangat mengganggu pemasaran beras Solok, bahkan petani dan pedagang pun juga merasa terganggu, karena mereka menjual beras Solok asli, belum ada daya dan fakta yang mengarah soal isu tersebut,” ungkap Reiner.

Dikatakannya, jika dilakukan penghitungan sederhana, produksi padi di kota Solok pada 2019 mencapai lebih kurang 17.382 ton. Jika dikonversikan dari gabah ke beras sebesar 62,74 persen, maka produksi beras tahun 2019 mencapai 10.905 ton. “Jumlah ini sudah melebihi dari kebutuhan penduduk kota Solok yang berkisar diantara 8.095 ton dengan asumsi jumlah penduduk sebesar 71.010 jiwa dan konsumsi 114 kg/kapita/tahun,” terang Reiner.

Dijelaskannya, dalam 6 bulan terakhir dinas pangan kota Solok telah menggelar beberapa kali pertemuan antara pengelola pemilik Huller dengan pedagang grosir beras, dan petani untuk menjaga kemurnian Beras Solok. (vko)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

0 Comments
scroll to top