Close

Menggali Nilai-nilai Budaya Melalui Karya Instalasi

KARYA—Instalasi karya Kapten Moed dengan tema “Track Record”, yang dipajang di halaman pintu masuk Taman Budaya, saat pergelaran Pekan Kebudayaan Daerah, Jumat hingga Selasa (1-5/10).

PADANG, METRO–Hadirnya sejumlah instalasi unik hasil karya se­niman Provinsi Sumatera Barat (Sumbar) pada Pekan Kebudayaan Daerah (PKD)  tahun ini, menjadi magnet bagi masyarakat untuk mengunjungi lokasi PKD di Taman Budaya. Karya Instalasi pengembangan dari tekhnik assemblasi pada seni patung. Pengemba­ngannya terletak pada pemaduan kreativitas medium, tekhnik hingga masuk ke ranah lighting, gerakan (kinetis), video, tekhnologi multimedia hingga merespon bentuk alam (Susanto, 2012).

Kehadiran pameran se­ni instalasi ini, idealnya mampu memberikan edu­kasi serta pemahaman, dan dapat menggeser paradigma praktik kesenian yang belum berjalan seimbang.

Kepala Dinas Kebudayaan Provinsi Sumbar, Gemala Ranti, mengung­kapkan pada penyelenggaraan PKD tahun ini, ada tujuh instalasi yang disepakati untuk dipamerkan di luar ruang Taman Budaya.  Tujuh instalasi tersebut, yakni, karya Dedi Purwanto dengan tema “Yang Tergantikan, Karya Eriyanti Chan (Saruang), Erlangga (Times is Life), Kapten Moed (Track Record), Rizky Dwi Eka Putra (Adat Dipakai Baru, Jikok Kain Dipakai Usang), Sastra Hadi Kusuma (Alam dan Strategi) dan Afrizal Jasmann (Manyalo Lamak).

Kehadiran instalasi kar­ya seni ini mengundang pertanyaan bagi pengunjung yang hadir. Terutama, tentang makna dan pesan dari instalasi. Bahkan, de­ng­an hadirnya instalasi dengan permainan cahaya lampu yang terkesan seram itu, tidak jarang ada pengunjung yang me­ngait­kan dengan hal mistis.

“Itu kain sarung dipajang bentuknya seperti buaian  kemudian diterangi dengan lampu. Kesannya kok angker gitu. Kayak ada mistis-mistisnya. Bo­leh gak tu dalam agama,” ungkap Dela, salah seo­rang pengunjung malam itu.

Untuk menjawab semua pertanyaan tersebut, pengunjung yang datang ke PKD ini, juga dapat mengikuti Diskusi Seni (To­ur Curatorial) yang membahas tentang topik seni instalasi, Senin sore (4/10) di Galeri Taman Budaya Sumbar.   Bagaimana makna dari setiap karya instalasi yang dipamerkan ter­sebut. Melalui buku PKD yang berjudul “Festival Merawat Ingatan”, berikut disampaikan ulasannya.

Instalasi dengan tema Manyalo Lamak, karya Afrizal Jasmann memperlihatkan salah satu ke-kha­san tradisi memasak di Minangkabau. Proses memasak di Minangkabau memiliki nilai-nilai filosofi. Pada instalasi yang dipamerkan, terlihat tiga struktur vertikal  yang ma­sing-masingnya terpisah. Yakni, lantai, konstruksi segitiga dan bejana pada bagian atas.

Sementara, ketika dilihat jauh, keutuhan seluruh konstruksi tampak sebagai manifestasi symbol yang saling terkait satu sama lain. Hal ini mengandung makna keberagaman ma­sakan Minang yang hadir pada setiap prosesi adat. Ini menandakan demokrasi di tataran paling sederhana. Yakni siapa saja berhak untuk memilih makanan sesuai selera.

Instalasi Manyalo Lamak berbentuk menara serupa tabung dengan diameter dasar seluas tiga meter. Tinggi konstruksi lima meter. Sejumlah bagian akan diberi sisi antar kerangka dengan menggunakan stereofoam, plastik dan broacade.

Pada bagian lantai diisi dengan stereofam mirip bumbu-bumbu. Pewarna­an pada tiap bagian didukung oleh pencahayaan. Pa­da bagian atas digantung sejumlah kantong dengan bumbu asli di dalamnya. Ketika basah mengeluarkan aroma wangi bumbu khas dapur orang Minang.

Selanjutnya, instalasi bertema “Saruang” atau sarung, karya Erianto Chan. Instalasi ini berupa sarung yang dipasang se­perti berfungsi sebagai buaian untuk balita, yang digantung dengan ditopang dengan tiga tiang yang terbuat dari bambu, kayu dan besi.

Instalasi ini memiliki makna eksistensi kain sa­rung yang digunakan oleh kaum laki-laki, untuk bekerja, bepergian, acara adat berkesenian dan sebagai­nya.

Pada bagian atas sa­rung yang tergantung ter­sebut terdapat cermin. Hal ini memaknai rekam jejak dari fungsi sarung dalam setiap peristiwa dan menghadapi pengaruh-pe­nga­ruh yang menerpa eksistensinya.

Berikutnya, instalasi karya, Rizky Dwi Eka Putra dengan tema “Adat Dipakai Baru, Jikok Kain Dipakai Usang”. Instalasi ini merefleksikan  sebuah pe­renungan. Karya ini disusun dari perakitan berbagai elemen yang menjadi satu kesatuan. Berpijak dari persoalan adat, seniman melihat ke arah perspektif pergaulan yang terjadi saat ini. Posisi adat dianggap mendapat tempat yang jauh dari kehidupan sosial.

Konsep pemikiran ini, divisualkan dengan terdapatnya tiga figur besi me­nyerupai manusia dengan lilitan kain putih di tubuhnya. Namun, hanya terdapat satu figure yang berusaha menahan dinding reruntuhan yang dihadirkan. Di sisi lain terdapat carano yang merupakan elemen adat yang menyimbolkan sesuatu yang harus dilin­dungi.

Kemudian juga ada kar­ya Kapten Moed dengan tema “Track Record”. Bagi pengunjung awam, sangat gampang menilai karya instalasi ini memiliki makna tentang kisah Malin Kundang yang melegenda. Karena instalasi yang dihadirkan mirip kapal yang di dalamnya terdapat patung dari rotan yang dibuat mirip seperti manusia. Bahkan ada yang mirip posisi Malin Kundang yang saat di­kutuk jadi batu sedang dalam posisi bersujud.

Namun, bukan demikian makna dari instalasi ini. Karya ini terbuat dari batangan rotan yang dirangkai dan dirakit menyerupai beberapa figur manusia, yang maknanya bergerak secara bertahap sedang membawa sesuatu beban di pundak dan menggenggam sesuatu di tangannya. Figur ini perlahan sujud dan melebur menyatu da­lam menara rotan yang menjulang tinggi.

Di sisi tingkatan menara tersebut terdapat barisan limbah yang menyerupai rumah tradisi yang kemudian bertransformasi  menjadi gedung perkotaan. Karya ini menyinggung persoalan peradaban dan kebudayaan global yang telah membuat jarak ma­nusia dengan alam.

Hubungan ini kemudian saling menghancurkan dan berdampak pada produksi limbah dan kerusakan ling­kungan. Karya ini mengajak pengunjung yang menyaksikan untuk kembali melihat jejak masa lalu. Di mana kebudayaan yang diciptakan oleh pola hidup manusia selaras dengan alam dan saling menjaga keseimbangan hidup erta tidak melupakan jati diri­nya.

Masih ada karya instalasi yang terpajang di PKD yang perlu dipahami mak­nanya. Namun, cukup panjang narasi untuk menjelaskannya. Ingin tahu informasi lebih banyak tentang karya instalasi ini. Silahkan saja kunjungi PKD.(fan)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

0 Comments
scroll to top