Close

Mengenal Karya Budaya Hasil Tambang 2 Daerah, Pameran Perhiasan Emas dan Perak dari Sumbar dan DI Yogyakarta Resmi Dibuka

KERAJINAN PERAK— Kadis Kebudayaan Sumbar, Syaifullah bersama Kadis Kebudayaan DI Yogyakarta, Dian Lakshmi Pratiwi dipandu Kurator dari Dinas Kebudayaan DI Yogyakarta, Sektiadi menyaksikan kerajinan perak asal Kota Gede DI Yogyakarta.

PADANG, METRO–Ratusan pengunjung antusias menyaksikan ko­leksi kerajinan emas dan perak dari sejumlah daerah di Provinsi Sumatera Barat (Sumbar) dan Kota Gede Daerah Istimewa (DI) Yogyakarta, yang dipamerkan di Museum A­ditya­warman, Kota Pa­dang, Rabu (26/10). Ada 90 koleksi perhiasan emas dan perak yang dipamerkan pada pameran yang berlangsung hingga Senin (30/10) itu. Koleksi perhiasan tersebut terdiri dari 75 perhiasan emas dan perak dari Sumbar dan 15 perhiasan perak dari DI Yog­yakarta.

Pameran bertajuk “Kerajinan Karya Budaya Hasil Tambang” itu merupakan pameran bersama Jalinan Mahakarya Budaya antara Dinas Kebudayaan Provinsi Sumbar dengan Dinas Kebudayaan DI Yogyakarta.

Kepala Dinas Kebudayaan Provinsi Sumbar, Syaifullah mengatakan, saat ini jumlah koleksi perhiasan emas dan perak yang ada di Museum A­dityawarman sebanyak 300 perhiasan. Namun, yang dipamerkan hanya 75 perhiasan. Menurutnya pameran ini yang pertama kali dilangsungkan oleh Dinas Kebudayaan Sumbar. Tujuannya sebagai edukasi bagi masyarakat untuk mengenal produk kerajinan emas dan perak Minangkabau.

“Kebudayaan telah menjadi isu dunia. Oleh karena itu keberadaan kebudayaan harus diprioritaskan. Dengan pameran produk emas dan perak yang telah berusia puluhan tahun ini, diharapkan menjadi edukasi bagi generasi muda. Selain itu, sebagai bentuk dukungan pariwisata di Sumbar. Apalagi 80 persen orang melakukan kunjungan wisata itu untuk melihat produk kebuda­yaan,” jelasnya.

Kepala Dinas Kebudayaan DI Yogyakarta, Dian Lakshmi Pratiwi me­ngucapkan terima kasih, karena dilibatkan dalam pameran  emas dan perak ini. “Salah satu tujuan kami terlibat dalam pameran ini adalah melestarikan benda koleksi hingga menjadi bukti materil bagi generasi yang akan datang, untuk pengembangan keilmuan,” tutupnya.

Dalam pameran ini, Dinas Kebudayaan DI Yog­yakarta menampilkan kerajinan perak dari Kota Gede berupa replika dari koleksi, serta peralatan pembuatan kerajinan perak. Kurator Pameran Bersama Salaka Kerajinan Perak Kota Gede dari Dinas Kebudayaan DI Yogyakarta, Sektiadi mengatakan, kerajinan logam yang dipamerkan kerajinan perak dari Kota Gede, yang merupakan kota tua bahagian dari DI Yogyakarta.  “Kota Gede artinya Kota Besar. Kalau di Sumbar ada Koto Gadang  di Kabupaten A­gam yang juga menjadi sentra kerajinan perak. Ada kesamaan. Ini menjadi semangat persauda­raan,” harapnya.

Kerajinan perak Kota Gede saat ini terang Sektiadi sudah didaftarkan warisan budaya takbenda Indonesia di DI Yogyakarta. Melalui pameran budaya bersama nanti, se­jumlah kerajinan perak, baik itu perhiasan baru dan lama, berupa perabot, perangkat minum teh dan souvenir yang cukup khas dari Kota Gede yang populer di Eropa di masa kolonial dipamerkan.

Kepala UPTD Museum Adityawarman, Dewi Ria menjelaskan, perhiasan perak dan emas yang dipamerkan adalah perhiasan yang dipakai perempuan Minangkabau dalam berbagai acara.  “Kita menampilkan perhiasan emas dan perak yang dipakai perempuan dan pria Minangkabau yang melangsungkan pernikahan. Per­hiasan– perhiasan yang kita tampilkan ini sudah berumur puluhan tahun,” jelasnya.

Dewi Ria menambahkan, target dari pameran emas dan perak ini bertujuan untuk memperkenalkan produk perhiasan e­mas dan perak yang dipakai masyarakat Minangkabau kepada masyarakat. Di mana pada saat ini perhiasan–perhiasan tersebut tidak pernah dipakai lagi. “Kita menitik beratkan a­gar, produk – produk per­hiasan masa lalu ini menjadi inspirasi bagi generasi penerus tentang hasil kar­ya emas dan perak yang telah dibuat para pendahulu,” tam­bahnya. (fan)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

0 Comments
scroll to top