Menu

Mati, Harimau Sumatra Dimakamkan  Secara Adat di Kenagarian Sontang Cubadak, Kabupaten Pasaman, Masyarakat Meyakini Milik Raja Tak Diperbolehkan Dibawa oleh BKSDA

  Dibaca : 184 kali
Mati, Harimau Sumatra Dimakamkan  Secara Adat di Kenagarian Sontang Cubadak, Kabupaten Pasaman, Masyarakat Meyakini Milik Raja Tak Diperbolehkan Dibawa oleh BKSDA
HARIMAU MATI— Harimau Sumatra yang mati di Kenagarian Sontang Cubadak, Kecamatan Padang Gelugur, Kabupaten Pasaman disemayamkan dan akan dimakamkan oleh masyarakat dengan kearifan lokal.

PASAMAN, METRO–Sempat mengalami sakit dan diberikan pengo­batan, seekor harimau Sumatra mati di Kenagarian Sontang Cubadak, Kecamatan Padang Gelugur, Kabupaten Pasaman, Sabtu (14/8).  Namun, ma­syarakat menolak harimau mati itu dibawa oleh BKSDA ke Padang untuk dinekripsi agar penyebab kematian terungkap.

Meski sudah dilakukan mediasi,  niniak mamak dan masyarakat setempat, tetap tidak memberikan izin kepada BKSDA mem­bawa harimau mati. Pasal­nya, masyarakat ingin me­ngu­burkan harimau ter­sebut sesuai kearifan lokal, yaitu dimakamkan di de­pan rumah raja karena ma­syarakat percaya hari­mau itu merupakan milik raja.

Babinsa Koramil 05/Rao Kodim 0305 Pasaman, Ser­san Naspo Hasibuan me­nga­takan, masyarakat me­nolak harimau yang mati itu dibawa oleh BKSDA ke Kota Padang. Pasalnya, masyarakat setempat mau menguburkan harimau ter­sebut secara adat. Menu­rut warga, harimau ada tiga ekor.

“Mereka takut dua hari­mau lagi bisa memangsa manusia. Makanya me­reka harus memakam­kan­nya secara adat. Dari pe­nga­kuan warga, harimau ini adalah milik  raja sudah turun temurun, seluruh masyarakatnya apaalgi keturunan raja Sontang mempercayainya,” kata Sersan Naspo.

Ditambahkan Sersan Naspo, masyarakat juga sangat meyakini dan sudah membuktikan, kalau  kam­pung mau datang masalah atau warga yang berjina, harimau akan datang ke kebun sang raja.

“Apabila harimau sakit, datang juga ke kebun raja untuk diobati. Bahkan su­dah beberapa kali mereka memberikanmakanan dan obat di kebun pondok raja. Setelah dilakukan dialog dengan masyarakat, akhir­nya harimau mati dikubur di depan rumah raja,” pung­kasnya.

Diduga Mati Akibat Dehi­drasi Berat

BKSDA Sumbar Ardi Andono dalam siaran pers­nya mengatakan, pihaknya pada Sabtu pagi sekitar pukul 9.00 WIB menerima laporan dari salah seorang anggota DPRD Kabupaten Pasa­man. Ia mengatakan, dapat laporan dari warga yang melihat harimau sakit dan tertidur di dekat Ben­du­ngan Sontang, di Ke­naga­rian Sontang Cuba­dak.

“Warga mengirimkan video harimau yang masih hidup dengan kondisi le­mas kepada BKSDA. Hasil analisa video tersebut, dokter hewan di BKSDA menduga, harimau ter­sebut mengalami dehidrasi berat. BKSDA kemudian berkoordinasi dengan Pol­sek Panti dan Koramil Rao untuk mengamankan hari­mau yang sakit,” kata Ardi.

Ditambahkan Ardi, pi­hak­nya juga berkoordinasi dengan kepala dinas kehu­tanan provinsi selaku wakil ketua tim koordinasi pe­nanganan konflik satwa di Sumbar untuk men­dapat­kan tenaga medis. Juga dengan Pemerintah Kabu­paten Pasaman dan Ka­polres Pasaman untuk me­minta dukungan personil guna mengamankan hari­mau itu.

“Tim BKSDA meluncur ke lokasi dengan mem­bawa kandang dan juga mempersiapkan dokter hewan dari Taman Marga­sat­wa dan Budaya Kinan­tan Bukittinggi,” kata Ardi, yang juga dihubungi lang­gam.id via telepon.

Sesampai di lokasi, hari­mau Sumatra sempat men­dapatkan perawatan oleh petugas medis dari Puskeswan Dua Koto. Kon­disi suhu badan yang tinggi kotoran berwarna hitam. Selanjutnya diberikan obat dan vitamin, namun pukul 11.00 WIB Harimau ter­sebut dinyatakan mati.

“Saat kita datang, telah banyak massa berkumpul di lokasi dan meminta agar harimau tersebut dikubur di kampung tersebut sesuai kearifan lokal setempat. Upaya negoisasi mem­ba­wa harimau ke Padang un­tuk nekropsi antara petu­gas BKSDA Sumbar, Kasat Reskrim dan Kasat Intel Polres Pa­sa­man dengan Ninik Ma­mak berlangsung alot,” tuturnya.

Meskipun telah men­da­patkan jaminan dari petu­gas atau pun dokter hewan datang untuk pengambilan sampel di lokasi, namun masih buntu. Masyarakat memaksa harimau terse­but untuk dikuburkan di depan rumah Alinurdin selaku ninik mamak. Untuk meng­hindari pencurian jasad harimau, masya­ra­kat mengecor makam ter­sebut dan menggelar upa­cara adat selama bebe­rapa hari.

“Petugas akan mela­kukan pengambilan data di la­pangan baik jejak, ko­toran, sumber air, kebera­daan pakan satwa serta memasang kamera trap dan sosialisasi penanga­nan konflik satwa kepada masyarakat. “Hal ini pen­ting sebagai bentuk upaya pencegahan konflik di ke­mu­dian hari,” ujarnya.

BKSDA memperkirakan harimau Sumatra yang ma­­­ti berumur 7-8 tahun. Je­nis kelaminnya jantan, pan­­­jang badan kurang le­bih 170 cm dan ekor sepan­jang 60 cm. Petugas me­ne­mu­kannya lebih 4 km dari hutan lin­dung di bawah pengelolaan Kesatuan Pe­nge­lolaan Hu­tan Lindung Pasaman Raya yang mem­bentang mem­ben­tuk kori­dor hutan Panti-Batang Ga­dis.

“Kami mengimbau ma­sya­rakat untuk menjaga harimau Sumatra. Mari kita jaga harimau Sumatra sebagai bagian dari jati diri budaya, dengan melapor dan memudahkan petugas dalam mengambil tinda­kan. Sehingga upaya pe­nyelamatan satwa dapat ber­ja­lan dengan baik,” ujar­nya. (mir)

Editor:
KOMENTAR

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional