Menu

Masyarakat masih Mengira Epyardi, Mulyadi, Shadiq Calon Gubernur Sumbar

  Dibaca : 1678 kali
Masyarakat masih Mengira Epyardi, Mulyadi, Shadiq Calon Gubernur Sumbar
Cawagub Sumbar Audy Joinaldy blusukan di Kawasan Pasar Ibuh, Kecamatan Payakumbuh Barat , Kota Payakumbuh. 

Logo Pilkada Serentak 2015 oke

PADANG, METRO–Masa kampanye yang telah dilakukan pada 27 Agustus lalu, ternyata belum dirasakan oleh masyarakat. Buktinya, banyak masyarakat yang yang belum mengetahui siapa calon dan kapan jadwal pencoblosan. Parahnya lagi, masyarakat menilai calon gubernur Sumbar itu lebih dari dua pasang calon.

Salah seorang masyarakat Parak Karakah, Gusni (55) mengakui, dirinya belum mengetahui secara pasti siapa-siapa calon gubernur dan wakil gubernur. Katanya, calon-calon yang dia ketahui hanya calon gubernur, dan tidak mengetahui siapa calon wakinya.

Begitu juga calon gagal yang dinilainya sebagai calon gubernur yang telah ditetapkan oleh Komisi Pemilihan Umum. Seperti Shadiq Pasadigoe, Mulyadi, Syamsu Rahim dan Epyardi Asda. Dia menilai orang-orang tersebut adalah calon Gubernur Sumbar. Lucunya, Fauzi Bahar disangkanya adalah calon Gubernur yang padahal Fauzi Bahar adalah Calon Wakil Gubernur.

”Kalau Cagub itu banyak seperti yang saya lihat di spanduk-spanduk mereka. Ada Epyardi Asda, Mulyadi, Irwan Prayitno, Shadiq Pasadigoe, Fauzi Bahar, Muslim Kasim. Kalau wakil yang saya lihat di spanduk hanya Nasrul Abit,” jelasnya saat ditemui, Rabu (9/9).

Menurutnya, hal itu diketahuinya dari spanduk-spanduk calon yang terpasang. Tapi, setelah dijelaskan kebenarannya, dia mengaku tidak mendapatkan informasi tentang itu. “Baru tahu saya kalau calon gubernur itu cuma dua pasang. Padahal saya sudah rencanakan untuk mencoblos yang lain,” jelasnya.

Kemudian, terkait jadwal pencoblosan, dirinya mengaku belum mengetahui. Hanya saja, dirinya mengaku telah didata dari petugas pemilu. “Kemarin saya sudah didata. Katanya mencoblos itu bulan Desember, tapi tanggalnya kita tidak tahu,” tutur Gusni.

Sementara, Nurmayenti (21) mahasiswa Universitas Bung Hatta juga tidak mengetahui tahapan kampanye pilkada telah berlangsung. Bahkan, katanya kondisi pilkada-pilkada saat ini jauh berbeda dengan sebelumnya. ”Sebenarnya selaku mahasiwa kita harus tahu juga tahapan Pilkada, begitu kita baca di media massa, tak begitu banyak informasi tentang pilkada. Bahkan, mereka masih banyak tidak kenal dengan calon,” sebutnya.

Menurutnya, sosialisasi terkait Pilkada begitu minim. Sehingga untuk kalangan mahasiswa masih belum mendapatkan informasi. Apalagi dikalangan masyarakat akar rumput. “Kami saja yang banyak berkomunikasi sesama mahasiswa masih kekurangan informasi terkait Pilkada, apalagi masyarakat badari,” sebutnya.
Hal yang sama disampaikan Riko, (28). Pemuda pemilik usaha jual pulsa di Simpang Haru ini mengaku tidak peduli dengan hingar bingar pilkada. Menurutnya memilih atau tidak dirinya, tidak akan berpengaruh dengan usahanya. “Memang kapan Pilkada bang? Kalau ada saya tidak akan memilih. Lebih baik saya golput. Lagi pula tidak ada manfaatnya buat saya, saya hanya jual pulsa,” sebutnya dengan logat Minang.

Menurutnya, selama ini dirinya telah bosan untuk datang ke tempat pemungutan suara (TPS). Sudah meluangkan waktu untuk memilih, namun tidak berpengaruh bagi kehidupan mereka secara langsung. “Sudahlah kita libur, hasil tidak ada,” ujarnya.

Sementara, pada Rabu (9/9) pilkada serentak yang dicanangkan di halaman kantor Gubernur Sumbar tidak begitu disambut antusias oleh masyarakat. Buktinya, pencanangan tersebut umumnya hanya dihadiri PNS dan kalangan pendukung Paslon.

Sebelumnya, Pengamat Politik dari Unand, Asrinaldi menilai, hal itu terjadi karena aturan yang membatasi pasangan calon untuk bersosialisasi. Sehingga, hal ini diprediksi membuat tingginya angka golongan putih (golput) di Sumbar.

Menurutnya, berkaca pada dua Pilkada sebelumnya, yakni Pilgub 2005 yang partisipasinya hanya 64,3 persen, dan Pilgub 2010 malah turun jadi 63,62 persen. Bahkan, di tahun ini dengan mekanisme yang yang ada saat ini, akan mengancam lebih rendahnya angka partisipasi pemilih.

Sementara itu, Komisioner Divisi Sosialisasi KPU Sumbar, Nova Indra kepada wartawan mengatakan, KPU Sumbar berkomitmen mencapai target partisipasi nasional diangka 77,5 persen.  Dijelaskannya, untuk menyukseskan itu perlu peran semua pihak, seperti parpol, pemerintah daerah, ormas dan sebagainya. Dia mengklaim sosialisasi yang diatur dalam KPU sebenarnya sangat mengakomodir agar calon dikenal oleh masyarakat.

Banyak bahan kampanye yang difasilitasi KPU, seperti baliho, spanduk, poster, pamflet. Khusus pamflet terang dia, KPU mencetaknya sebanyak Kepala Keluarga  (KK) yang ada di Sumbar. “Masing-masing KK sudah tahu calon yang mana, ini tentu cukup membantu, sudah sampai kerumah-rumah,” tuturnya. (d)

Editor:
KOMENTAR

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Fanpage Facebook

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional