Menu

Masyarakat Banjaronah Minta PT SRI Beroperasi Kembali 

  Dibaca : 69 kali
Masyarakat Banjaronah Minta PT SRI Beroperasi Kembali 
SURAT DUKUNGAN— Perwakilan Masyarakat Banjaronah menyerahkan surat dukungan agar PT SRI beroperasi kembali kepada Pemkab. (ramadalius/posmetro)

LIMAPULUH KOTA, METRO  – Perwakilan masyarakat Jorong Banjaranah, Nagari Pangkalan, Kecamatan Pangkalan Koto Baru, datang mengadu kepada Bupati Limapuluh Kota menyampaikan aspirasi untuk mengoperasikan kembali pabrik pengolahan Gambir milik PT. Sumatera Resources Internasional (PT.SRI), Selasa (20/8). Mereka menginginkan agar pabrik pengolahan gambir milik Pemodal Asing (PMA) asal India itu dioperasikan kembali. Keinginan itu dilakukan warga setempat dengan cara menggalang dukungan melalui surat yang dilayangkan kepada Bupati Limapuluh Kota.

Dimotori tokoh masyarakat Jorong Banjaranah, Bahtiar J didampingi Ketua Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (SPSI) Nagari Pangkalan, Agus, Hendri, Ine dan Ita, utusan masyarakat Jorong Banjaranah itu juga menyampaikan surat dukungan masyarakat dan minta kepada Pemkab Limapuluh Kota untuk mengaktifkan kembali pabrik gambir PT.SRI.

Utusan warga Jorong Banjaranah itu diterima Asisten Perekonomian, Fitma Indra Yani. Surat yang tembusannya disampaikan kepada Kapolres Limapuluh Kota, Ketua DPRD Limapuluh Kota, Kepala Kejaksaan Negeri Pangkalan Kotobaru, Kapolsek Pangkalan Kotobaru, Koramil 02 Pangkalan, Camat Pangkalan, Walinagari Pangkalan dan pihak PT.SRI.

Dijelaskan bahwa, usaha pelarangan agar warga atau suplayer tidak menjual atau memasok daun gambir kepada PT.SRI, hanya dilakukan oleh sekelompok warga yang mengatasnamakan masyarakat Banjaranah.

Menurut Bahtiar J, larangan untuk tidak memasok daun gambir ke PT.SRI tersebut  bahkan diwarnai ancaman sosial kepada warga yang berbunyi, bagi warga yang tidak mendukung seruan demo dan penghentian pasokan daun gambir kepada PT.SRI, kalau ada keluarganya yang meninggal warga tidak akan datang ke rumah duka dan tidak akan membantu penggalian kubur termasuk mengancam tidak akan datang ke rumah mereka jika ada yang melaksanakan hajatan.

Menurut Bachtiar J, seruan larangan agar tidak memasok daun gambir kepada PT.SRI tersebut dimotori oleh sekelompok orang dan didukung oleh mamak kaum dan bukan Ninik Mamak yang ada di Bajaranah. Dampak tidak beroperasi PT.SRI, sebanyak 70 orang tenaga kerja lokal kehilangan pekerjaan. Tak hanya itu, ekonomi masyarakat merosot. Akibatnya, tindak kejahatan di Jorong Banjarnah meningkat dan merajalela.  Bahkan setiap malam rumah warga digerayangi pencuri dan terbukti sudah ada uang warga dan HP yang hilang. Kemudian kolam ikan juga dicuri, hasil pertanian seperti jengkol dan petai juga menjadi sasaran pencurian.

Bukan itu saja, baru-baru ini di Jorong Banjaranah telah terjadi aksi kejahatan pemerasan dan perampokan sepeda motor. Pelaku kejahatan begal itu memakai sebo dan menghunuskan senjata tajam ke leher korban, kemudian memaksa korban bernama Ilul untuk menyerahkan uang sebanyak Rp22 juta yang tersimpan di dalam jok hondanya.

Intinya, sejak pabrik gambir PT.SRI tidak lagi beroperasi di Banjaranah, banyak tindak kejahatan terjadi di daerah ini. Padahal, kondisi di daerah ini sebelumnya aman-aman saja.  Dalam surat tersebut, juga diungkapkan bahwa uang sebanyak Rp.216 juta yang telah diberikan oleh PT.SRI untuk Jorong Banjaranah, agar diaudit oleh pihak penegak hukum.

Warga Banjaranah berharap, kalau PT.SRI beroperasi kembali mereka berharap agar bantuan yang diberikan untuk Jorong Banjaranah sebanyak Rp 12 juta diaktifkan kembali. Kemudian rekrutmen tenaga kerja baru utamakan warga Banjaranah sesuai dengan pendidikan dan ijazahnya. Disamping itu warga setempat menuntut agar suplayer daun gambir diberikan kepada warga Banjaranah, termasuk Humas PT.SRI juga ditunjuk orang Banjaranah.  Di samping itu warga meminta agar kebutuhan sarana air bersih dibantu oleh PT.SRI, jalan trans diaspal dan anak yatim, orang miskin, anak sekolah  kurang mampu dan panti jompo diberikan bantuan.

Sementara itu Kepala Jorong Banjaranah, Rio Hendra yang diminta komentarnya terkait adanya desakan warga setempat agar PT.SRI diaktifkan kembali menyatakan bahwa pihak masyarakat Banjaranah tidak pernah menutup operasional PT.SRI.

Namun warga Nagari Pangkalan menuntut agar pihak PT.SRI membeli daun gambir dengan harga yang wajar sesuai dengan pasaran global. Artinya, membeli daun gambir bukan sesuka hati pihak PT.SRI dengan harga murah. Tuntutan warga lainnya adalah soal limbah pabrik jangan dibuang ke sungai, kemudian tenaga kerja utamakan warga lokal sehingga keberadaan PT.SRI di Jorong Banjaranah benar-benar mendatangkan manfaat bagi masyarakat  karena telah berperan meningkatkan eknomi masyarakat dan daerah. (us)

Editor:
KOMENTAR

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Fanpage Facebook

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional