Menu

Masker Hilang dari Peredaran, Cari Penyebab Pemprov Gandeng Polda

  Dibaca : 355 kali
Masker Hilang dari Peredaran, Cari Penyebab Pemprov Gandeng Polda
MASKER HABIS— Sejumlah apotek di Kota Padang sudah tidak ada lagi yang menjual masker. Salah satu apotek terpaksa memasang pengumuman bahwa masker yang dijualnya habis.

TARANDAM, METRO
Wabah virus corona yang terus menyebar ke seluruh dunia membuat kepanikan di masyarakat. Terlebih, setelah Pemerintah Indonesia mengumumkan ada dua orang yang positif terjangkit virus corona, masker pun makin hilang dari peredaran di Kota Padang.

Dari pantauan POSMETRO di kawasan apotek yang berada Tarandam, tidak satu pun yang menjual alat pelindung pernafasan tersebut. Namun sejumlah masyarakat Kota Padang berbondong-bondong membeli masker baik secara eceran maupun dengan jumlah banyak di apotek-apotek yang berada di kawasan Tarandam Kecamatan Padang Timur, walaupun harganya naik drastis dan signifikan.

Karyawan Apotek Sentral Miranda (23) mengatakan, sudah sejak awal Februari lalu masker distribusinya kosong. “Adapun masker ini diborong sejak kunjungan wisatawan Cina beberapa waktu lalu. Masyarakat banyak memborong masker meskipun harganya naik,” ungkap wanita berjilbab itu.

Dia menambahkan, harga masker yang biasanya per satu kotak kisaran Rp30 ribu yang isinya 50 pcs. Namun kalau sekarang bisa mencapai Rp180 ribu hingga Rp200 ribu satu kotak yang isinya 50 pcs.

“Kalau ada orang pasti banyak membeli, namun masker tersebut tidak ada beredar. Namun untuk di online shop masih ada harganya tentu mahal. Kita juga mengimbau masyarakat apabila sudah memakai masker agar diguntuk talinya agar tidak dipungut lagi oleh pihak yang tidak bertanggung jawab diolah kembali dan dijual kembali,” ujarnya.

Hal yang sama juga ungkapkan oleh pengelola apotek lainnya, Doni (34). Pemilik apotek yang terletak di Jalan Kesatria mengungkapkan, sudah lama tidak menjual masker akibat harga yang sangat mahal di pasaran.

Dia menambahkan, masker biasa saja saat ini sudah mencapai Rp200 ribu per kotak. Dirinya mengungkapkan, sebelum adanya isu virus korona ini, harga satu kota masker hanya Rp25 ribu saja.

“Meskipun masyarakat banyak yang nanya masker di sini, tapi saya tidak ada niat untuk mengambil stok masker. Pasalnya harganya sudah tidak manusiawi lagi. Sampai ratusan ribu per kotaknya,” bebernya.

Sementara, salah satu masyarakat, Merry (34) mengatakan, dirinya sengaja membeli masker dengan jumlah banyak lantaran akan dikirim ke Depok untuk keluarga yang berada di sana. “Pasalnya, sejak Pemerintah menyebutkan ada dua orang warga yang terkena virus korona, banyak keluarga yang meminta dikirimkan masker,” ucapnya.

Karyawati BUMN itu menambahkan, meskipun harga satu kotak masker mencapai Rp200 ribu, dirinya tetap membeli masker tersebut. “Ini untuk jaga-jaga saja. Lagian pakai masker lebih aman jika beraktivitas di luar ruangan,” imbuhnya.

Masyarakat lainnya, Fenny (34) mengaku susah mencari masker di beberapa apotek di Kota Padang. Ia terpaksa berkeliling Kota Padang untuk membeli masker yang akan digunakan bersama keluarga.

“Saya tadi sudah mutar-mutar mencari masker di beberapa apotek, tapi habis semua. Padahal kalau hari-hari biasanya tidak seperti ini.
Sebenarnya kami mau ke Jakarta mau ada acara keluarga, takutnya stok masker di sana tidak ada, makanya kami waspada. Apalagi sekarang di Ibukota sedang maraknya isu virus corona dan ada warga yang suspect terkena virus mematikan itu,” terangnya.

Dia menambahkan, alasan membeli masker karena khawatir terhadap virus corona yang sudah masuk di Indonesia. Sebagai langkah antisipasi, ia segera membeli masker yang akan dibagikan kepada keluarga.
“Jadi kita was-was saja dan mempersiapkan diri dan nantinya kita bagikan juga kekeluarga di sana,” tukasnya.

Kepala Dinas Kesehatan Sumbar, Merry Yuliesday Merry mengaku memang terjadi kelangkaan pelindung itu di Sumbar. Pemprov Sumbar tidak bisa berbuat banyak karena tidak memiliki pabrik masker yang bisa menutupi kekurangan stok tersebut.

Merry menjelaskan, pihaknya sudah mencoba menayakan langsung ke tingkat distributor. Saat ini pabrik memang tidak produksi karena ada kelangkaan bahan baku.

“Mau gimana lagi masker memang tidak ada, kita tidak punya pabrik. Makanya kita minta masyarakat untuk selalu menjaga kesehatan diri. Kalau sakit segera periksa ke rumah sakit,” pintanya.

Dia berharap kelangkaan masker tidak berlangsung lama sehingga masyarakat yang membutuhkan bisa membeli kembali di apotek dan toko di Sumbar. “Mudah-mudahan seminggu dua minggu ini sudah ada bahan baku dan bisa produksi seperti biasa,” tukasnya.

Sementara itu, untuk mengatasi masalah ini, Pemprov Sumbar akan menggandeng pihak Polda Sumbar untuk menelusuri penyebabnya. “Apakah kelangkaan ini terjadi karena penimbunan masker oleh oknum yang tidak bertanggung jawab, perlu ditelusuri. Kita akan koordinasi dengan pihak Polda Sumbar,” ujar Gubernur Sumbar, Irwan Prayitno, Selasa (3/3).

Untuk mengatasi persoalan kelangkaan masker ini, Irwan mengaku juga akan mengadakan pertemuan dengan Dinas Kesehatan Sumbar untuk membicarakan solusinya. “Nanti kita tentukan apa langkah selanjutnya. Namun demikian saya minta masyarakat tidak panik,” ungkapnya.

Dia juga berharap media ikut berperan sehingga masyarakat tidak panik. Tepat memberitakan secara proporsional. (fan/cr1)

Editor:
KOMENTAR

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Fanpage Facebook

Iklan

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional