Menu

Mapattunggul yang Terisolir: Ketika HP Hanya untuk Mendengarkan Musik

  Dibaca : 1883 kali
Mapattunggul yang Terisolir: Ketika HP Hanya untuk Mendengarkan Musik
KONFERENSI— Plt Juru Bicara KPK Ali Fikri saat konferensi pers.
1

Meski hanya berjarak dua jam perjalanan dari pusat pemerintahan Pasaman, namun Jorong Marapan, Nagari Lubuk Godang, Mapattunggul jauh dari pembangunan. Satu-satunya cara ke sana, melewati sungai dengan ongkos yang mahal setelah naik motor.

JORONG Marapan, Nagari Lubuk Godang, Kecamatan Mapattunggul, Kabupaten Pasaman, adalah daerah terpencil nan jauh dari derap pembangunan. Di sana, orang-orangnya hidup “terkucil”, sebab minimnya fasilitas publik yang dimiliki. Namun, semangat masyarakatnya dalam berkehidupan tak diragukan. Di Marapan, pendidikan menjadi nomor satu, walau untuk bersekolah anak-anak dan guru di sana bertaruh nyawa.

Rahmat Wahyudi — PASAMAN

Awan cerah tanpa hujan menemani perjalanan panjang penulis di sepanjang hari, ketika menapaki jorong Marapan, Nagari Lubuk Godang, Kecamatan Mapattunggul, Kabupaten Pasaman. Padahal, hampir setiap hari hujan lebat terus mengguyur daerah ini. Bekal secukupnya dan tentu saja alat potret tak luput dibawa. Tanpa keraguan, penulis menerobos jalan tanah, berbukit. Padang hilalang di kiri-kanan jalan itu seolah menyambut perjalanan menuju pemukiman.

Meski tahun berganti, namun derap pembangunan di jorong yang dihuni puluhan keluarga itu jalan di tempat. Infrastruktur rusak parah. Kondisi sosial ekonomi berada pada posisi terendah. Apalagi berbicara pendidikan, menyedihkan. Secara geografis, Marapan berbatasan dengan Lubuk Godang pada bagian utara, pada bagian selatan, Bangkok, Kecamatan Mapattunggul Selatan pada bagian timur serta Rao Selatan pada bagian Barat.

Bermukim di balik perbukitan antara Mapattunggul dan Mapattunggul Selatan, memang menyebabkan daerah yang dihuni sepersekian kampung itu sedikit tertinggal dari daerah lainnya di Pasaman.
Infrastruktur jalan minim, menjadikan daerah ini sulit untuk diakses alias dijangkau. Bahkan, dari sekian program pembangunan untuk Mapattunggul, yang mampir untuk masyarakat Marapan hanya hitungan jari, jumlahnya tidak seberapa.

Pertama menginjakkan kaki di perkampungan itu, ada kearifan lokal yang hingga kini masih kental terpelihara. Keramahtamahan warganya terhadap pendatang semakin mengakrabkan suasana. Warga tak canggung membeberkan keluh kesah serta sejumlah penderitaan yang mereka alami selama ini. Mulai dari himpitan ekonomi, minimnya fasilitas, sarana prasarana, belum dialiri listrik PLN dan tak adanya jaringan telekomunikasi.

“Listrik kami ada tapi bersumber dari PLTA, dayanya terbatas. Untuk berkomunikasi dengan sanak sudara juga tak bisa, sinyal HP tak ada. Kadang hanya untuk mendengarkan musik. Kondisi ini otomatis ikut mempengaruhi kehidupan ekonomi warga setempat. Selama ini hasil bumi warga hanya menjadi sasaran para tengkulak mengingat tidak adanya informasi pasar yang bisa diperoleh petani setempat,” ujar Hendri, warga setempat.

Sumber daya air yang melimpah, dimanfaatkan warga setempat untuk membuat Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA). Secara ekonomi listrik yang menggunakan tenaga diesel akan lebih mahal, sebab menggunakan bensin dan solar yang harganya mahal. ”Kebutuhan listrik dan telekomunikasi harus ada sebagai solusi bagi masyarakat di sini. Itu agar dapat berdaya dan terbantu kehidupan ekonomi mereka,” ujar pria berkacamata ini.

Memang, pantauan POSMETRO, tiang-tiang listrik baru berdiri, tertancap di tanah sepanjang jalan menuju daerah itu, berjejer dari hilir hingga ke hulu. Namun, hanya tiang saja, sementara jaringannya belum. Demikian pula instalasi ke rumah-rumah warga belum terpasang sama sekali. Demikian pula dengan jaringan telekomunikasi tak tersedia di kampung itu.

Warga Marapan merasakan daerah mereka begitu terisolir. Untuk ke sana, hanya dapat melalui jalan darat, melintasi perbukitan curam dan saat musim hujan, jalan sangat becek dan cukup membahayakan bagi pengendara. Jika memiliki uang cukup, perjalanan juga dapat ditempuh melintasi sungai menggunakan perahu. “Daerah ini sangat terisolir karena jalan yang belum memadai,” ungkap Hendri, salah seorang warga Lubuk Godang.

Jalan belum beraspal, membuat daerah ini semakin sepi kunjungan para pejabat atau pun warga daerah lain. Untuk itulah, Hendri berharap pemerintah setempat dapat tersentuh memberikan bantuan perbaikan jalan dan sarana transportasi lainnya.

Meski masih terbatas sarana, prasarana serta infrastruktur, baik jalan maupun jembatan, tapi itu tidak menyurutkan denyut nadi kehidupan masyarakat di Jorong Marapan terhenti. Warga tetap bekerja giat. Menafkahi hidup keluarganya, mencukupi biaya pendidikan sekolah bagi anak-anaknya, baik yang duduk di jenjang Sekolah Dasar (SD), sekolah lanjutan bahkan perguruan tinggi sekalipun.
Mayoritas penduduknya bermata pencarian sebagai petani kebun. Karet, menjadi komoditi utamanya. Di saat harga karet lesu, turun-naik seperti sekarang ini, akan semakin berdampak bagi ekonomi masyarakat setempat. Tingginya harga kebutuhan pokok semakin menambah kesulitan.

Selain itu, harapan mereka, warga setempat, yakni terbukanya akses jalan dari kampung itu menuju pusat pemerintahan nagari di Lubuk Godang, berjarak kurang lebih 3 km.

Pengakuan warga, saban hari, mereka harus menempuh jalan tanah, berbukit, sempit dengan ketinggian puluhan meter. Meski dicor itu pun sebahagian, volumenya tak seberapa. Belum lagi jurang dalam mengancam disisi kiri-kanan bukit hitom itu. Bila menunggangi sepeda motor, lengah sedikit saja, maut mengintai bagi setiap warga yang melintasi jalur itu. “Permintaan kami cuma satu pak, jalan melintasi bukit hitom ini dibangun aspal. Agar kami mudah bepergian. Kebutuhan pokok juga gampang diraih,” ujar Ibeh (37) warga Marapan.

Keberadaan bukit itu, kata bapak dua anak ini menjadi penghalang warga di kampungnya dapat mengakses dunia luar dengan mudah. Namun, jika infrastruktur jalan dibangun oleh pemerintah lain pula ceritanya. “Saya yakin, warga di kampung ini akan maju dan tidak tertinggal informasi dengan kampung lainnya jika fasilitas itu ada,” tukasnya.

Kondisi ini, juga memaksa sebagian guru perempuan yang kebetulan bertugas di SD di Marapan, lebih memilih menggunakan jasa transportasi air, dalam hal ini perahu kelotok sebagai kenderaan mereka setiap hari.

Perahu itu disewakan oleh seorang warga setempat, khusus mengangkut para pahlawan tanpa tanda jasa ini bertugas. Perahu berlalu, melalui sungai mengelilingi perbukitan yang menyungkup kampung Marapan. Menariknya, dalam sehari mereka harus merogoh kocek sebesar Rp100 ribu sebagai uang jasa antar.

Padahal, tiga dari lima orang guru yang menjadi langganan jasa perahu itu berstatus honorer. Jelas, kondisi itu semakin menyulitkan penghidupan mereka. “Saya masih honorer, saya dari Ganting, ke Lubuk Godang naik motor, dari sini naik perahu. Melintasi bukit saya tak kuat, takut. Selain terjal, jalannya juga lengang karena diselimuti hutan belantara,” ucap Puspa.

Guru muda ini menuturkan, sudah setahun lebih dia mengabdi sebagai guru honorer di sekolah di kejorongan Marapan itu. Selain dia, masih ada dua orang rekannya juga bernasib sama seperti dirinya.
“Ini pilihan, saya mengabdikan diri untuk mencerdaskan anak-anak di kampung ini. Semua ini saya jalani dengan baik, karena ini adalah panggilan jiwa,” ujarnya.

Hidup di tengah keterbatasan, tak membuat warga Marapan patah arang. Mereka tetap bekerja, berusaha mencukupi kehidupan mereka sehari-hari. Hutan yang terbentang luas, mereka garap lalu jadikan ladang. Dari sinilah, mereka bertahan dari kerasnya terpaan hidup.

Selain berladang karet, mereka juga mencari damar maupun rotan yang berlimpah di dalam hutan itu. Berbagai komoditi itu pun mereka jual begitu hari balai tiba. Memang kondisi kehidupan masyarakat setempat sedikit kurang beruntung, bila dibanding masyarakat kebanyakan.

Miliki Potensi Strategis

Jorong Marapan memiliki posisi strategis. Jika jalur Marapan ini dibuka, jalannya dibangun sehingga layak tempuh, tak ayal dapat menjadi penghubung antara masyarakat di dua kecamatan itu (Mapattunggul-Mapattunggul Selatan). Otomatis perekonomian warga setempat pun akan lebih maju.
Yah, semoga saja segala harapan warga itu terwujud dan tidak sirna, seiring pergantian rezim nantinya. Kehidupan layak, ketersediaan infrastruktur lainnya adalah hak bagi setia warga negara, dalam hal ini rakyat. Itu harus diwujudkan oleh pemerintah secepatnya. (*)

Editor:
KOMENTAR

1 Komentar

  1. Verdi nandi

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional