Close

Manajemen PSP Padang Layangkan Protes ke PSSI, Laga PSP Versus PSKB Tidak Sah

PROTES--Manajemen PSP Padang menggelar jumpa pers terkait pertandingan semifinal PSP Padang versus PSKB Bukittinggi tak sesuai dengan regulasi.

PADANG, METRO–Manajemen PSP Pa­dang protes terhadap per­tandingan semifinal PSP Padang versus PSKB Bukittinggi, yang berakhir de­ngan skor 2-1, untuk kemenangan PSKB. Pasalnya, pertandingan yang dihelat di Sungai Sarik Pa­dangpariaman tersebut mengangkangi regulasi pertandingan, kaena tidak mengantongi izin dari kepolisian. Sebab, ketika di­pertanyakan izinya kepada panitia pertandingan, pa­nitia tak hisa memperlihatkan bukti perizinanya.

Tidak itu saja, pertan­dingan tersebut hanya bo­leh disaksikan sekitar 200 penonton, dengan alasan protokoler kesehatan (Pro­kes). Namun, kenyataan penonton meluber hingga ke pinggiran lapangan. Bahkan, penonton sampai menumpuk hingga ke belakang gawang.  Diperkirakan penonton mencapai 10.000 orang.

Selain itu pertandingan masih menyisakan waktu kurang lebih 5 menit, pengadil pertandingan atas nama Farizon kabur dari pertandingan. Sehingga, pertandingan masih berlangsung hingga sekarang. Buktinya, hingga sekarang wasit belum meniup pluit panjang pertanda pertan­dinga 90 menit dihentikan.

“Artinya, pertandingan semifinal Liga 3 Sumbar yang mempertemukan PSP Padang versus PSKB Bukittinggi tidak sah. Karena pertandingan liga 3 telah melanggar regulasi, jika pertandingan tak seuai aturan tentu hasil dari pertandingan tersebut tak sah,” ujar Direktur Teknik (Dirtek) PSP Paang Joni Effendi kepada media di kawasan GOR Agus Salim Padang, Selasa (7/12).

Ditambahkan Joni, jika bicara pertandingan sepakbola harus mengacu terhadap regulasi, sekarang yang dilanggar pertandingan itu adalah regulasi. Buktinya, tak ada izin dari kepolisian. Sementara, a­tu­ran perizinan dari kepolisian itu adalah baku. Jadi tak ada izin dari polisi, maka pertandingan tak bisa digelar. Jadi bisa disimpulan yang menggelar per­tandingan tak paham de­ngan regulasi. “Sebab yang tertinggi dalam sepakbola itu adalah regulasi,” kata Joni.

Tak ada perizinan dari kepolisian sehingga tak ada pengamanan dari polisi. Walapun, dilihat ada beberapa polisi di lapangan, namun tak sesuai dengan jumlah penonton. Selain itu juga dilihat ada personel Satpol PP, namun Satpol PP bukan Tupoksi-nya mengamankan pertandingan se­pakbola. Sedangkan, Tupoksi Satpol PP  mengawal Perda dan kebijakan kepala daerah. “Sehingga, tak ada pengamanan dari polisi. Seharusnya, pertandi­ngan ditunda,” ujar Joni.

Dikatakan, ini hal yang pertama dalam pertandi­ngan, biasanya tim yang mundur dari pertandingan. Tetapi dalam pertandingan ini wasit yang kabur dari pertandingan. Ini wasit telah mengingkari sumpahnya memimpin pertandi­ngan dalam 2 X 45 menit.

Kemudian, jika ada permasalahan seperti panitia melaksanakan dalam jang­ka 120 menit atau 2 jam, panitia harus memanggil kedua tim, pengamanan. Hal itu  untuk membuat keputusan apakah pertan­dingan ditunda atau dilanjutkan. Namun hal itu tak dilakukan panitia. Sehingga, perlau dipertanyakan legalstanding dari pertan­dingan PSP vs PSKB ini dipertanyakan. “Jika lega­litas pertandingan tak ada, maka hasil pertandingan tak sah,” ucap Joni.

*Layangkan Protes ke PSSI Pusat

Manager PSP Padang Irwan “Sangir” Afriadi me­ngaku, telah melayangkan protes ke PSSI pusat, karena pertandingan tersebut tak layak disebut pertan­dingan. Kemudian pertan­dingan tersebut tidak la­yak dilaksnakan karena tak ada izin dari kepolisian. “Dan anehnya, pertandingan menyisakan waktu 5 menit, wasit yang memimpin per­tandingan Farizon dengan KTP asal Kota Padang ka­bur dari pertandingan,” ujar Irwan.

Selain itu, jelas Irwan, pertandingan tersebut je­las-jelas melanggar aturan Prokes. Sementara, per­tandingan yang diizinkan hanya ditonton 200 orang, kini penonton diperkirakan mencapai seribu penonton.

Sekum PSP Padang Ha­ris Dt Batuah mengatakan, hingga sekarang pertan­dingan masih berlanjut,  karena hingga sekarang pertandingan yang dipim­pin wasit Farizon belum meniup pluit panjang. “Jadi pertandingan ini dinilai cacat, karena pertandingan tak sesuai dengan aturan, ” ujar  Harris.

Haris menilai ada permainan, kenapa Asprov PSSI Sumbar mengokomodir PSKB Bukittinggi melaksanakan pertandi­ngan di Sungai Sarik Pa­dang­pariaman. Ketika, diusulkan pertandingan se­mifinal ini dilaksanakan di GOR Agus Salim ia me­nolak.Begitu, juga  diusulkan ke daerah lain seperti Pessel da Sijunjung, manajemen PSKB menolak. Lalu, tiba-tiba disepakati per­tandingan di Sungai Sarik Padangpariaman. Ada apa ini. (boy)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

0 Comments
scroll to top