Menu

Mahyeldi, Sosok “Bajangguik” yang Dikagumi Semua

  Dibaca : 324 kali
Mahyeldi, Sosok “Bajangguik” yang Dikagumi Semua
H Mahyeldi Ansharullah Dt Marajo

PADANG, METRO–Pilgub Sumbar sudah hampir memastikan siapa yang akan maju bertarung pada 9 Desember 2020 dengan empat pasangan calon mendaftar ke KPU Sumbar 4-6 September 2020. Menarik bila melihat, siapa sebenarnya yang menjadi idola masyarakat saat ini. Karena, banyak foto atau baliho telah terpasang di sejumlah sudut nagari. Namun, sosok yang paling digandrungi ternyata tetap Mahyeldi Ansharullah.

Mahyeldi, adalah orang yang dikenal punya jenggot, atau “jangguik” dengan kharisma menarik dan dikagumi. Meski sempat diisukan paling tua karena jenggotnya panjang, ternyata Mahyeldi adalah calon Gubernur paling muda dari tiga pesaing lainnya. Wali Kota Padang itu kelahiran 1966 atau 53 tahun. Sedangkan Fakhrizal 57 tahun, Mulyadi 57 tahun dan Nasrul Abit 65 tahun.

Bahkan, dari sisi umur calon wakil pun, pasangan Mahyeldi yaitu Audy Joinaldy masih 37 tahun, Genius Umar 48 tahun, Indra Catri 59 tahun dan ALi Mukhni 63 tahun. Artinya, pasangan Mahyeldy-Audy adalah pasangan termuda dengan rataan umur 45 tahun (jika ditambahkan umur calon Gubernur dengan wakil Gubernur dibagi dua). Angka-angka ini cukup banyak menghiasi media sosial sepanjang, kemarin. Tapi kita tak ingin membahas itu, lebih pada jenggot Mahyeldi saja.

Juru Bicara Mahyeldi-Audy yang juga seorang ulama muda Mulyadi Muslim menyebutkan salah satu alasan mengapa Mahyeldi identik dengan jenggot. Sebagai dai atau pendakwah Mahyeldi sejak mahasiswa sudah terbiasa mengisi ceramah dan menjadi khatib Jumat. Walaupun sudah menjadi orang nomor satu di Kota Padang sejak 2013 dia tetap melakoninya. Bahkan, ketika menjadi wakil ketua DPRD Sumbar 2004, dia tetap berdakwah.

“Menariknya, saat berkunjung ke luar Kota Padang pun Ustaz Mahyeldi tetap berkenan memberikan ceramah dan mengisi khutbah. Karenanya Sarjana Pertanian (SP) itu pun kerap mendapat julukan Pak Jangguik dari masyarakat yang menjadi salah satu ciri khasnya sejak mahasiswa,” katanya.

Bahkan, sebut Mulyadi, saat diospek sebagai mahasiswa baru di Fakultas Pertanian Unand salah seorang senior menyuruhnya memotong jenggot, Mahyeldi tetap bersikukuh dan memegang teguh prinsipnya.”Karena dia berpegang pada hadis ‘pendekkan kumis dan panjangkanlah jenggot, bedakanlah diri dengan orang-orang musyrikin,” kata Mulyadi menirukan perkataan Mahyeldi.

Peluang Inyiak Jangguik

Sementara itu Peneliti politik muda yang juga surveyor asal Bukittinggi, Rio Friyadi menyebutkan, Wali Kota Padang dua periode ini masih unggul di berbagai lembaga survei. Sosok sederhana dan religius menjadi hal yang tidak terpisahkan dari pria yang akrab disapa buya ini.

“Menjadi Walikota di Ibukota menjadi keuntungan sendiri bagi bakal calon. Dengan jumlah penduduk 800 ribu orang menjadikan kans Mahyeldi untuk menghadapi kompetisi Pilkada 2020. Dua periode menjabat jadi Wali Kota, sederet prestasi dan pencapaian telah diraih membuat partainya PKS begitu optimis mengusungnya,” katanya.

Mahyeldi merupakan putra asli Gadut, Kabupaten Agam. Sebuah nagari yang terletak di pinggir Kota Bukittinggi. Maka, selain Padang yang menjadi basis utama, Agam dan Bukittinggi bisa juga menjadi basis selanjutnya bagi mantan Ketua DPW PKS sumbar ini. “Meskipun Agam dihuni oleh tiga bakal calon yang lain, namun Mahyeldi memiliki peluang untuk merebut hati masyarakat Agam terlebih karena Agam juga menjadi daerah dimana PKS memiliki suara yang cukup tinggi,” katanya.

Katanya, ada banyak faktor yang menjadi penyebab melesatnya elektabilitas Mahyeldi. Faktor terbesarnya adalah kriteria orang Minang dalam memilih pemimpin banyak melekat pada diri beliau. Selain menjabat sebagai Walikota, Mahyeldi dikenal sebagai da’i sehingga akrab disapa buya. Di kalangan adat, beliau termasuk niniak mamak sehingga diamanahkan Datuak Marajo oleh kaumnya. Bagi masyarakat Minang, gelar datuak masih cukup digandrungi untuk diangkat menjadi pemimpin.

Kuat di kalangan islamis dan adatnya, Mahyeldi dengan menggandeng Audy, segmentasi pemilih Mahyeldi akan semakin besar dengan menyentuh kalangan milenial. Audy sendiri masih berumur di bawah 40 tahun. Sebuah usia yang sangat muda untuk mencalonkan diri pada Pemilihan Gubernur. “Dengan fenomena tersebut, kekuatan ‘Inyiak Jangguik’ cukup sulit terbendung,” katanya. (*/uki)

Editor:
Tags
KOMENTAR

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Fanpage Facebook

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional