Menu

Mahyeldi, Sarjana Pertanian yang Dipanggil Buya

  Dibaca : 391 kali
Mahyeldi, Sarjana Pertanian yang Dipanggil Buya
Mahyeldi Ansharullah

PADANG, METRO—Mahyeldi Ansharullah yang dua periode menjadi Wali Kota Padang, ibu kota Sumbar memiliki kekhasan tersendiri sebagai pemimpin. Dia adalah seorang anak sederhana di Kabupaten Agam, kuliah di Fakultas Pertanian Universitas Andalas (Unand) Padang. Namun, saat ini, Mahyeldi begitu dikenal dengan sebutan “buya”, bahkan mengalahkan panggilan “ustaz” yang dulu melekat padanya.

Menarik jika dikaji, bagaimana seorang Sarjana Pertanian (SP), malah dipanggil dengan sebutan seorang ulama. Bahkan, tak sedikit yang mengakui, ilmu agama Mahyeldi sangat mumpuni dan cocok disapa buya, sebutan untuk ulama di Sumbar. Bagaimana tidak, sejak remaja, Mahyeldi begitu dekat dengan surau, juga saat di kampus. Dia benar-benar melekat dengan pendidikan agama.

Setamat kuliah, Mahyeldi sangat dikenal sebagai pendakwah atau ustaz. Bahkan, dia memiliki jamaah yang sangat banyak. Saat berkecimpung masuk ke dunia politik Partai Keadilan (PK), dia tetap disapa ustaz. Saat jadi Wakil Ketua DPRD Sumbar 2004-2008 pun, sosok seorang ulama-nya begitu kental. Ketika menjadi Wakil Wali Kota Padang 2008, Mahyeldi semakin memantapkan diri sebagai pemimpin yang religius.

“Kharisma apa yang dimiliki ustaz Mahyeldi atau buya Mahyeldi orang memanggilnya, saya sendiri juga tidak tahu. Tetapi beliau telah hadir di hati banyak orang di Sumbar. Padahal tidak semua pernah bertemu hanya melihat di koran atau berita di berbagai media sosial saja,” kata Safrudin Nawazir Jambak, seorang politisi asal Kabupaten Agam.

Dia menyebut, beberapa waktu lalu perantau Agam di Padang membawa ustaz Mahyeldi mengisi acara Subuh berjamaah di masjid yang cukup besar di Kecamatan Kamang Magek. “Mereka menyatakan ikhlas untuk mempromosikan ustaz Mahyeldi sebagai sosok berasal dari Luhak Agam yang telah menjadi milik masyarakat Kota Padang,” katanya.

Menariknya, sebut Safrudin, Mahyeldi begitu punya daya pikat di hati masyarakat. Meski tidak terlalu banyak promosi foto dan gambar dengan baliho dan spanduk sebagaimana gencar dilakukan oleh para calon yang lain.

”Tentu ada faktor kunci (key factor) yang menjadi daya tarik, daya pikat yang manyuruak dalam hening sepi hati masyarakat Sumbar. Berjalan di atas alam bawah sadar, simpati, empati, meniti jiwa keikhlasan untuk membantu jika suatu saat dibutuhkan.

Banyak yang menyebut ‘kalau untuk Buya Mahyeldi kami siap berjuang.’ Jadi, tentu ini bukan dibangun semalam, tapi sangat lama dan alami,” katanya.

Meski hanya seorang Sarjana Pertanian, bukan tamatan pesantren bukan pula alumni perguruan tinggi Islam, Mahyeldi digelari buya karena juga berilmu agama dan rajin menyampaikan tausiah di berbagai masjid/mushalla di antero Sumbar.

”Profil ini cocok dengan jati diri orang Minang yang kental dengan nilai-nilai adat dan Islam. Mahyeldi, sosok penceramah yang bahasa dakwahnya simpel dan mudah dicerna,” katanya.

Diundang ke Arab Saudi

Soal keilmuan tentang agama, Mahyeldi tidak hanya terkenal di Sumbar, atau Indonesia saja, tapi mendunia. Bahkan, pernah mendapat undangan menjadi imam di Masjidil Haram. Hal tersebut disampaikan seorang ulama Arab Saudi, Syaikh Khalid Al Hamudi yang beberapa waktu lalu datang ke Kota Padang.

Mahyeldi aktif mendalami Islam sejak duduk di bangku sekolah. Ketika menjadi mahasiswa, ia aktif menjadi aktivis dakwah dan mubaligh. Ia juga pernah menjadi Ketua Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) Padang. Mahyeldi dikenal sebagai sosok pemimpin yang sederhana, santun dan rendah hati.

Di bawah kepemimpinan Mahyeldi, program mendekatkan siswa dengan Al Quran semakin ditingkatkan. Siswa yang memiliki hafalan Al Quran tertentu, boleh bebas memilih sekolah yang mereka inginkan sesuai jenjang kelanjutannya. Satu juz bagi siswa SD dan tiga juz bagi siswa SMP. Untuk siswa SMA yang hafal lima juz, dapat memilih kesempatan masuk ke universitas negeri di Sumbar.

Terima IKADI Award

Sebagai Wali Kota yang ulama, Mahyeldi menerima penghargaan dari Ikatan Da’i Indonesia (IKADI) Indonesia. Penghargaan itu diberikan karena Wali Kota yang memiliki motto kepemimpinan “Dekat dan Melayani” itu dinilai sukses di jalan dakwah dan selama menjadi Wali Kota, Mahyeldi tetap menjalankan aktivitas dakwah.

Ahmad Kusyairi Suhail, Ketua Tim Juri Granda Award 2020 mengatakan, Mahyeldi ditetapkan sebagai pemenang Grand IKADI Awards 2020 pada kategori The Most Favorite City Goverment Figures Caring for Da’wah. “Penghargaan tersebut kami berikan setelah memperhatikan dan menimbang masukan dari publik beserta seluruh pengurus pusat, wilayah hingga daerah IKADI,” ungkapnya usai menyerahkan penghargaan 7 Maret 2020 di Hotel Grand Cempaka Jakarta.

Dengan prestasi mencolok selama menjadi Wali Kota Padang, Mahyeldi kini didapuk PKS sebagai bakal calon Gubernur Sumbar 2021. Dia dipasangkan dengan kader PPP Audy Joinaldy untuk mengikuti Pemilihan Gubernur (Pilgub) Sumbar 9 Desember 2020. Mahyeldi-Audy, disebut-sebut sebagai pasangan yang cocok memimpin Sumbar, karena berlatar belakang pertanian, pengusaha, dan juga religius. (uki)

Editor:
KOMENTAR

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Fanpage Facebook

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional