Menu

Mahyeldi Resmikan L’ile Chocolate Factory & Museum

  Dibaca : 504 kali
Mahyeldi Resmikan L’ile Chocolate Factory & Museum
RESMI— Wako Padang, Mahyeldi Ansharullah meresmikan L’ile Chocolate Factory & Museum, Rabu (26/2).

PADANG, METRO
Wali Kota Padang, Mahyeldi Ansharullah meresmikan L’ile Chocolate Factory & Museum, Rabu (26/2) yang beralamat di Jalan MH Thamrin, Alanglaweh, Padang Selatan. Pada kesempatan itu, Mahyeldi mendorong para milenial mengembangkan usaha kreatif yang mencakup hulu dan hilir.

“Kami dari Pemko Padang terus mendorong para milenial menggagas usaha kreatif. Keberadaan rumah cokelat sekaligus museum dan outlet yang dimulai Priscila adalah contoh bagus untuk memotivasi milenial lainnya,” ujar Mahyeldi disela peresmian L’ile Chocolate.

Mahyeldi juga mendukung cita – cita Priscila yang ingin memperkenalkan produk cokelat asal Sumbar ke dunia internasional. Dia akan mengikuti festival cokelat berskala nasional dan internasional.

“Cita–cita Priscila yang ingin mengikuti kontestasi cokelat internasional sudah pasti kita dukung bersama,” tukas Mahyeldi.

Mahyeldi menjelaskan, pengembangan cokelat yang dari hulu hingga hilir ini merupakan yang pertama, setidaknya untuk wilayah Sumatera. Ia menjelaskan, bahwa kehadiran L’ile Chocolate menjadi salah satu solusi meningkatkan gairah pertanian, khususnya petani kakao.

“Selama ini petani kakao mengalami kelesuan, namun sekarang bisa lebih bergairah. Menyusul adanya rumah cokelat yang mengelola dari perkebunan sampai ke pengolahan dan melahirkan beragam produk coklat,” tukasnya.

Priscilla Partana sendiri merupakan pengusaha muda asal Kota Padang dan pemilik L’ile Chocolate di Jalan MH. Thamrin, Alang Laweh, Padang Selatan. Gerai cemilan dan minuman serba coklat miliknya telah soft opening pada 8 November 2019 lalu.

Ia menceritakan kisah yang memotivasi dirinya membuka usaha gerai coklat. Bermula dari keprihatinan atas lesunya petani kakao di Sumatera Barat akibat imbas merosotnya ekspor komoditi kakao. Banyak faktor penyebabnya.

“Saat itu ekspor komoditi kakao mulai lesu. Petani kakao di Sumatera Barat banyak yang beralih ke tanaman lain. Bahkan perkebunan kakao milik keluarga kami juga tidak terkelola dan petani penggarapnya banyak yang kemudian bekerja serabutan,” sebut Priscilla.

Ia merasa prihatin dengan kondisi. Terutama prihatin terhadap petani yang telah menanam pohon kakao dengan mengeluarkan biaya banyak. Dia juga menyayangkan biji kakao sebagai bahan baku coklat akhirnya dijual murah.

Oleh karena itu, Priscilla terus mendalami tentang coklat. Mulai dari menanam, merawat dan memanen pohon kakao sampai proses mengolah biji kakao hingga produksi bahkan sampai jadi produk dan mengemasnya, dipelajarinya secara otodidak.

Setelah menamatkan studi bisnis di Inggris dan Perancis, Priscilla memutuskan menggeluti usaha coklat. Sambil terus belajar, ilmu yang didapat secara otodidak mulai dia terapkan. Imulai membina petani di kebun sendiri. Mulai dari menanam sampai memanen dan memproses pasca panen biji kakao dilakukan sendiri. (r)

Editor:
KOMENTAR

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Fanpage Facebook

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional