Close

Mahyeldi Ansharullah Pencetus Singgah Sahur, Menyelami Kehidupan Masyarakat yang Mengalami Keterbatasan

Bedah Rumah— Gubernur Sumbar, Mahyeldi Ansharullah menyerahkan bantuan bedah rumah dari Baznas Provinsi Sumbar, saat singgah sahur ke rumah warga di Lasi, Kecamatan Canduang Kabupaten Agam.

PROGRAM singgah sahur yang pertama kali dilaksanakan di Pemprov Sumbar pada Ramadhan tahun ini, menghadirkan berbagai kisah pilu masyarakat yang hidup dengan keterbatasan. Dengan mendatangi kediaman, berinteraksi dan komunikasi serta ikut sahur bersama keluarga mereka, dapat diketahui bagaimana nasib mereka yang mencoba berjuang untuk bertahan hidup.

Rabu sore, pukul 17.00 WIB (5/5) Gubernur Sumbar, Mahyeldi Ansharullah bersiap-siap di rumah dinasnya, di Jalan Sudirman, Kota Padang. Menggunakan baju kemeja berwarna putih dan ciri khas peci melekat di kepala, Mahyeldi Ansharullah hendak berangkat bersama tim safari ramadhan, menuju Masjid Taqwa Bakaruh Koto Tangah, Tilatang Kamang, Kabupaten Agam.

Safari ramadhan mengunjungi masjid-masjid merupakan agenda rutin tahunan yang dilaksanakan Gubernur Sumbar dan Wakil Gubernur pada bulan ramadhan.  Dalam kunjungannya, tim safari ramadhan yang melibatkan OPD di lingkungan Pemprov Sumbar dan Forkompimda Sumbar menyampaikan informasi program pembangunan yang telah dilaksanakan. Selain itu, tim safari ramadhan datang membawa bantuan untuk pembangunan masjid dan program lainnya.

Namun, ada yag berbeda pelaksanaan safari ramadhan tahun ini. Tidak hanya sekedar mengunjungi masjid saat berbuka puasa, ikut shalat magrib, isya dan tarawih bersama jemaah. Safari ramadhan berlanjut hingga sahur. Nama programnya singgah sahur.

Program singgah sahur ramadhan yang awalnya terlaksana di Kota Padang dicetuskan pertama kali oleh Wali Kota Padang saat itu, Mahyeldi Ansharullah. Kini Mahyeldi Ansharullah telah menjadi Gubernur Sumbar. Program tersebut dilanjutkan di tingkat provinsi dengan jangkau daerah lebih luas.

Program singgah sahur ini tidak hanya dilaksanakan oleh Mahyeldi Ansharullah saja. Tetapi Wakil Gubernur, Audy Joinaldy juga ikut terlibat. Tentunya berbagi tugas dengan tim dan daerah yang berbeda.

Program singgah sahur dilaksanakan setelah safari ramadhan selesai. Di mana, Mahyeldi Ansharullah bersama tim berpindah ke masjid dan mushala lain yang berdekatan denan target rumah yang akan disinggahi di waktu sahur.

Di masjid itu, Mahyeldi Ansharullah tidak segan-segan tidur di atas lantai beristirahat. Selama di masjid malam hari, Mahyeldi Ansharullah juga menyempatkan melaksanakan ibadah sunnah seperti, shalat tahajud dan beritikaf. Setelah memasuki waktu sahur, Mahyeldi Ansharullah bersama tim mendatangi rumah warga yang masuk kategori tidak layak huni. Tentunya rumah yang didatangi telah melalui survey sebelumnya.

Kedatangan Mahyeldi Ansharullah ke rumah warga tersebut, tidak diketahui sama sekali oleh penghuni rumah. Jadi, tidak ada rekayasa sama sekali. Dengan datang tiba-tiba, sehingga dapat diketahui kondisi kehidupan sebenarnya warga yang akan mendapat bantuan.

Saat datang ke rumah warga, Mahyeldi Ansharullah ikut sahur bersama keluarga mereka. Melihat kondisi di dalam rumah yang mereka huni, menggali informasi bagaimana mereka menjalani kehidupan sehari-hari untuk bertahan hidup. Mahyeldi Ansharullah datang juga untuk memotivasi mereka untuk berjuang agar dapat hidup lebih baik di masa mendatang.

Selain sahur bersama, Mahyeldi Ansharullah yang datang bersama tim sudah menyiapkan bantuan bedah rumah. Nilai bantuannya sebesar Rp25 juta yang berasal dari Baznas Provinsi Sumbar. Bantuan diberikan untuk memperbaiki rumah mereka untuk layak ditempati.

Tidak jarang, selama program singgah sahur yang dilaksanakan diliputi suasana haru dan isak tangis kebahagiaan. Mereka yang selama ini luput dari perhatian pemerintah dan merasakan kerasnya perjuangan hidup sendirian, tidak menyangka mendapat perhatian khusus dan dikunjungi orang nomor satu di Sumbar ini.

Mahyeldi Ansharullah mengatakan, latar belakang program singgah sahur ini, karena dirinya perlu menyelami bagaimana betul kehidupan masyarakat yang mengalami keterbatasan. “Dengan kita kunjungi, kita tahu kehidupan mereka sesungguhnya. Masih banyak masyarakat Sumbar yang tidak punya rumah yang layak dan hidup dengan keterbatasan ekonomi,” ungkap Mahyeldi Ansharullah.

Kenapa dikunjungi pagi dini hari jelang sahur? Mah yeldi Ansharullah mengatakan, karena sahur waktu yang sangat baik. “Dengan hadir di waktu sahur, kita bisa bangun lebih awal dan bisa melaksanakan ibadah tahajud di malam hari,” ungkap Mahyeldi Ansharullah.

Mahyeldi Ansharullah mengatakan, dengan datang dan ikut bersama-sama sahur dengan keluarga mereka, maka dirinya bersama tim menemukan pelajaran dan nilai keberadaan masyarakatnya yang ditemui. Sehingga memahami betul kondisi masyarakatnya.

“Mereka yang berangkat ikut singgah sahur akan memberikan umpan balik terhadap pikirannya, agar tahu ada masyarakat yang susah di sekitarnya. Merasakan kesusahan dan kepayahan sebagian masyarakatnya. Dengan pikiran dan sentuhan rasa menggerakan hati menghadirkan program yang akan menjawab permasalahan masyarakat,” ungkap Mahyeldi Ansharullah.

Mahyeldi Ansharullah juga menyebutkan, saat jadi Wali Kota Padang, program singgah sahur dilaksanakan di Kota Padang. Program ini terlaksana dengan baik dan direspon sangat baik oleh warga dan berbagai pihak serta dermawan. Sehingga terbukti begitu banyak program bedah rumah di kota ini.

Bahkan, Mahyeldi Ansharullah mengaku, dengan berlanjutnya program singgah sahur ini di tingkat provinsi, dirinya istrinya, Harneli Bahar Mahyeldi banyak mendapat laporan rumah warga yang tidak layak huni. “Ini akan kita coba membantu secara bertahap. Program ini insya Allah berlanjut setiap ramadhan. Apa yang positif di Kota Padang dilanjutkan di Pemprov Sumbar,” ungkapnya.

Tahun ini, karena perdana di tingkat Provinsi Sumbar, program singgah sahur dilaksanakan di 16 lokasi di beberapa kabupaten kota di Sumbar.  Selain dirinya bersama wakil gubernur, program ini juga didukung oleh komunitas singgah sahur di media sosial (medsos) bersama Harneli Bahar Mahyeldi. Program ini juga dilaksanakan OPD di Pemprov Sumbar.

Mahyeldi Ansyarullah berharap bupati dan wali kota serta semua pihak, bisa ikut terlibat dalam program singgah sahur ini. “Yang penting kita merasakan banyak masyarakat yang masih susah. Kita hadirkan program yang berpihak kepada mereka. Masyarakat yang berkecukupan diharapkan memiliki kepedulian terhadap mereka yang  mengalami keterbatasan secara ekonomi. Kepekaan itu yang ingin kita bangkitkan. Jika semangat ini bisa diterapkan oleh seluruh lapisan masyarakat, saya yakin tidak akan ada lagi warga yang terlantar di Ranah Minang ini,” harapnya.

Sementara, Sosiolog dari Universitas Andalas (Unand) Dr Indraddin mengatakan, pemerintah memiliki program jangka panjang dan jangka pendek. Program safari ramadhan dan singgah sahur gubernur dan wakil gubernur masuk kategori jangka pendek.
“Jika dilihat dari kondisi masyarakat saat ini, tentu ini program positif, karena yang dibantu itu masyarakat yang dilihat langsung keadaannya. Ini berbeda dengan program bantuan lain yang berjenjang dan punya tahapan panjang. Bahkan butuh waktu lama untuk pendataan dan rentan tidak tepat sasaran. Karena yang melakukan pendataan biasanya adalah petugas dan petugasnya belum memiliki kompetensi,” katanya.

Program seperti ini, menurutnya, dapat dijadikan landasan atau dasar pengambilan keputusan atau pembuatan kebijakan bagi kepala daerah. Sebab, sudah melihat langsung apa yang dialami masyarakat. Program ini juga bisa jadi ajang perkenalan atau sosialisasi kepala daerah baru kepada masyarakat.

“Kalau dilihat dari sisi politis tentu ini bisa saja dinilai sebagai gimmick. Namun dari kacamata sosial ini grass program yang positif yang bisa dirasakan langsung manfaatnya oleh masyarakat. Selagi program ini tidak menganggu kerja atau tugas dan wewenang pokok kepala daerah bersangkutan, tidak masalah,” katanya.

Indraddin berharap, dari program dadakan semacam ini dapat lahir kebijakan yang dampaknya bisa dirasakan oleh masyarakat luas. Ia memberi saran agar ke depan program lebih bersifat kepada pemberdayaan.

“Jika hanya diberikan bantuan bedah rumah, bisa saja itu malah menambah beban bagi masyarakat. Jika fasilitasnya sudah ditingkatkan, seharusnya ekonomi keluarganya juga harus ditingkatkan lewat pemberdayaan. Orang yang sudah mendapatkan bantuan bedah rumah itu harus dicatat, bahwa keluarga itu mesti diberdayakan ke depan, agar mereka yang sudah punya tempat tinggal yang nyaman juga bisa nyaman berusaha. Sehingga ada peningkatan ekonomi dari keluarga itu,” katanya. (adv)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

0 Comments
scroll to top