Menu

Mahasiswa Toboh Gelar Seminar Adat Minangkabau

  Dibaca : 619 kali
Mahasiswa Toboh Gelar Seminar Adat Minangkabau
SEMINAR— Wakil Bupati Suhatri Bur menghadiri acara seminar adat (efa nurza/posmetro)

PDG.PARIAMAN, METRO – WabupPadangpariaman Suhatri Bur, kemarin, membuka secara resmi seminar adat Mahasiswa-Mahasiswi Kecamatan Sintuk Toboh Gadang (Imasintogo). Adapun tema seminar kali ini adalah duduak basamo salingka nagari sarato mambumikan kato nan ampek. Bertindak sebagai nara sumber adalah Musra Bahrizal Katik Rajo Mangkutoalias (Mak Katik).

Hadir saat itu anggota DPRD Sumbar Firdaus Wiros, Anggota DPRD Padangpariaman Topik Hidaya, Camat Sitoga Asyari Eri, Wali Nagari, serta niniak mamak, tokoh masyarakat se Kecamatan Sintuk Toboh Gadang.

Suhatri Bur menyatakan seminar ini sangat perlu terus menerus dilakukan agar budaya minangkabau tidak habis dikikis zaman yang serba canggih saat ini. “Kita sangat mendukung kegiatan adik-adik mahasiswa ini,” ungkapnya.

Apalagi katanya, bicara budaya minangkabau tidak akan lepas dari berbagai macam falsafah adatnya yang kaya akan makna dan filosofi kehidupan masyarakatnya yang sangat memegang teguh adat.

Katanya, berbagai macam filosofi atau ungkapan ungkapan adat yang memberikan contoh untuk bertindak bagi masyarakat minang kabau, diantaranya ialah ungkapan adat “ tau di kato nan Ampek” tahu dengan kata yang empat, kato mandaki (kata mendaki) merupakan sebuah ungkapan pendidikan bagai mana cara berbicara dan bersikap kepada orang yang lebih tua.

“Kato mandaki merupakan sikap sikap yang kita tunjukan kepada orang yang lebih tu seperti kalau berbicara tidak membentak/ kasar, mendengarkan nasihatnya, tidak membantah pembicaraan atau pengajarannya,” ujarnya.

Dikatakan, ungkapan kata mendaki ini adalah cara pergaulan kepada orang yang lebih tua seperti anak kepada orang tuanya, kemanakan kepada mamak, murid kepada guru dan adik kepada kak, kato manurun (kata menurun) ungkapan yang menggambarkan bagai mana cara bersikap, berbicara seseorang dengan yang lebih muda dengannya.

Dikatakan, yang di artikan juga dengan tindakan mengayomi, menyayangi yang lebih kecil. Ungkapan ini digunakan oleh orang tua kepada anak, guru kepada murid, mamak kepada kemanakan dan lainnya.

Sementara kato mandata (kata mendatar) ialah ungkapan sikap berbuatan atau tindakan, cara berbicara kepada yang sama besar, ungkapan ini digunakan oleh teman sepermainan, saling menghormati dan menghargai sebaya. Kato malereng ungkapan sikap tindakan dan cara berbicara dengan orang yang di segani, hormati, ungkapan ini ditujukan dalam pergaulan sehari-hari antara mando jo sumando, ipa jo bisan.

Jadi katanya, ungkapan kato nan ampek atau biasa juga disebut dengan jalan nan ampek sudah menjadi ciri khas pergaualan masyarakat minangkabau dari nenek moyang sampai pada saat sekarang ini.

“Orang minang yang salah berperilaku atau menempatkan posisinya disebut dengan indak tau jo nan ampek atau urang indak baradaik, pergaulan sehari hari orang minangkabau dapat digambarkan dengan ungkapan adat, nan tuo di hormati nan ketek di sayangi samo gadang baok baiyo,” tandasnya. (efa)

Editor:
KOMENTAR

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional