Close

Mahasiswa Layangkan Ultimatum kepada Gubernur Sumatra Barat, Oktober, Capaian Vaksinasi Harus Peringkat Papan Tengah, Minta Tak Ada lagi Perpanjangan PPKM   

DEMO— Aliansi Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Sumatra Barat (Sumbar) menggelar aksi demo di depan Kantor Gubernur.

PADANG, METRO–Ratusan mahasiswa dari Aliansi Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Sumatra Barat (Sumbar) menggelar aksi demonstrasi di depan Kantor Gubernur Sumbar, Rabu (15/9) siang. Mereka menuntut agar tidak ada lagi PPKM di Sumbar dan percepat vak­sinasi.

Pantauan koran ini, ratusan maha­siswa tersebut datang ke lokasi sekitar pukul 15.00 WIB. Mereka datang dengan memakai jaket almamater kampus ma­sing-masing. Para peserta aksi juga membawa span­duk yang berisi tuntutan atau aspirasi yang akan disampaikan serta mem­bawa keranda mayat se­bagai aksi teatrikal m­ereka, yang melambangkan mati­nya keadilan.

Massa juga datang ber­sama satu mobil komando. Aksi yang digelar oleh hampir semua kampus di Sumbar ini mendapat ha­dangan dari pihak kepo­lisian yang berjaga di de­pan gerbang dan juga me­ngatur lalu lintas di Jalan Jenderal Sudirman agar tetap lancar.

Salah seorang orator dalam aksi dari atas mobil komandomenyebut Pem­prov Sumbar gagal dalam menanggulangi pandemi Covid-19. Bahkan, massa juga meminta Gubernur Mahyeldi dan Wakil Gu­benur Audy keluar dari kantor untuk menemui pen­demo. Namun, massa hanya ditemui oleh Jasman Rizal selaku juru bicara Satgas Covid-19 Sumbar.

“Pemerintah Sumbar seolah tidak bisa menga­tasi pandemi di Sumbar ini,  selain itu pandemi ini sudah 1,5 tahun di Sumbar. Tapi sampai saat ini belum ada perubahan yang dibuat oleh pemerintah Sumbar,” ujar orator, Imam Wahyudi Afrizon.

Menurut Imam Wah­yudi Afrizon, Pemprov Sum­­bar belum maksimal da­lam penanggulangan pandemi Covid-19. Mereka juga menegaskan status PPKM di Padang yang tidak jelas, sehingga menim­bul­kan keresahan di ma­sya­rakat.

“Kami mahasiswa yang juga merupakan per­wa­kilan dari orang tua, hari ini, sengaja meninggalkan ku­liah demi menagih janji kam­panye Gubernur Sum­bar,” tegas s Imam Wah­yudi Afrizon yang meru­pakan mahasiswa Universitas Negeri Padang (UNP).

Menurut Imam, di Sum­bar sampai saat ini be­lum ada kejelasan infor­masi terkait pe­nanganan Covid-19. Seperti di Pa­dang, apakah di Padang PPKM level 4 atau bagai­mana, tidak ada disam­paikan kepada mas­ya­ra­kat.

“ Dan kami sudah juga melakukan audensi de­ngan beberapa kedinasan. Dinas kesehatan juga tidak mengetahui kejelasan PPKM di Padang ini. Jadi dari itu kami perlu keje­lasan dari Gubernur. Yang jelas, kami meminta tidak ada lagi perpanjangan PPKM di wilayah Sumbar,” ung­kap Imam sembari me­nye­but sangat keberatan dan kecewa karena mereka dilarang masuk ke area kantor gubernur.

Sementara, Teza Ku­suma, Presiden Mahasiswa Unand juga menyam­pai­kan bawah penang­gu­langan pandemi di Sumbar tidak jelas. Ia juga me­nying­gung tentang Pem­ber­lakuan Pem­batasan Ke­­giatan Ma­sya­r­akat (PPKM)­ Kota Pa­dang dan masalah vak­sin yang tidak kunjung jelas.

“Kami juga ingin me­nge­tahui bagaimana pe­merintah melakukan pe­nanggulangan masalah pan­demi yang tak kunjung berkurang di Kota Padang dan juga tentang masalah PPKM level 4 yang tidak juga menurun sampai seka­rang.” ucapnya

Irawan Ghoir Presiden Mahasiswa STKIP Azkia juga menyampaikan bah­wa pihiaknya ingin menge­tahui tentang seperti apa penegasan pemerintah di Sumbar dalam penang­gu­langan pandemi. Tentang vaksin yang belum maksi­mal dan juga tentang ma­salah penyalahgunaan da­na Covid-19.

Wakil dari Presiden Ma­hasiswa UPI Afri mewakili harapan dari para ma­hasiswa menyampaikan agar penanggulangan pandemi ini bisa segara diselesaikan dan semua aktivitas bisa berjalan kem­bali seperti semula.

Layangkan Ultimatum kepada Gubernur Sumbar

Selain meminta tak ada lagi PPKM di Sumbar, mela­yangkan ultimatum kepada Gubernur Sumbar Ma­h­yeldi agar capaian vak­sinasi di Sumbar berada pada peringkat papan tengah di Indonesia.

“Maka kami meminta di awal Oktober Gubernur harus membuat vaksinasi di Sumbar harus di pering­kat papan tengah. Dan juga da­lam perpanjangan PPKM nanti, kami meminta di Sumbar ini tidak ada lagi Kota dan Kabupaten dalam level 4 PPKM ini,” ujar Apriyan Candra, Per­waki­lan BEM SB.

Apriyan Candra mene­gas­kan, aksi demo ini juga bentuk kepedulian BEM SB atas keresahan ma­sya­rakat Sumbar. Bahkan, ia menilai Gubernur Mah­yeldi gagal dalam pe­nanga­­nan Covid-19 di Sum­bar.

“Gubernur gagal da­lam penanganan pandemi ini, jadi kami meminta kese­riusan dalam penanganan ini. Selain itu, semoga aksi kami ini ditindak lanjuti Gubernur. Agar Pandemi di Sumbar merendah. Kita akan melakukan demo lan­ju­tan jika tuntutan me­reka tidak direspons oleh Mah­yeldi,” tegasnya.

Mewakili Gubernur, Ju­ru Bicara Satgas Penanga­nan Covid-19 Sumbar yang juga Kadis Diskominfotik Sumbar, Jasman Rizal me­nyam­paikan maaf dari Gu­bernur dan Wagub karena sedang ada tugas di luar.

“Apapun yang disam­paikan tadi, telah kami dengar dan Insya Allah itu akan menjadi masukan yang berharga buat kami,” kata Jasman Rizal di depan ratusan mahasiswa.

Jasman mengatakan, semua masukan itu akan menjadi catatan dan akan ditindaklanjuti. Ia juga ber­janji akan menyampaikan semua tuntutan maha­sis­wa kepada pimpinan.

 “Kemudian saya ingin sampaikan, karena kita berjuang terkait masalah Covid-19. Bagi adek-adek yang ada masker tolong dipakai maskernya. Tolong ingatkan temannya untuk memakai masker,” pung­kas­nya. (rom)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

0 Comments
scroll to top