Close

LPSK Bongkar Kejanggalan Bharada E, Cuma Sopir dan Bukan Penembak Jitu…

TERSANGKA—Bhayangkara Dua Richard Eliezer alias Bharada E ditetapkan sebagai tersangka kasus polisi tembak polisi yang menewaskan Brigadir J.

JAKARTA, METRO–Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK) mengungkap kejanggalan soal Bhayangkara Dua (Bha­rada) E yang menjadi tersangka penembak Nofryansah Yosua Hutabarat alias Brigadir J. Wakil Ketua LPSK Edwin Partogi Pasaribu menyatakan Brigadir J bukan polisi yang jago menembak.  LPSK juga memperoleh informasi tepercaya bahwa Bharada E baru memegang pistol pa­da November 2021.  “Latihan menembak itu Maret 2022 di Senayan. Menurut informasi yang kami dapat, Bharada E bukan termasuk kategori mahir menembak,” kata Edwin saat dihubungi wartawan, Kamis (4/8).

 Oleh karena itu, Edwin menepis informasi yang menyebut Bharada E sebagai sniper alias penembak jitu. “Dia tidak masuk standar itu (sniper), bukan kategori penembak yang mahir,” ujar Edwin.

Mantan pegiat Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan itu juga membeber kejanggalan lain soal Bharada E. Edwin mengungkapkan awal­­nya Bharada E tidak ditugaskan menjadi ajudan Irjen Ferdy Sambo. “Bha­ra­da E ini bukan ADC (aide-de-camp) atau ajudan, bukan. Sprin (surat perintah penugasan) Bharada E ini (menjadi) sopir,” kata Edwin.

LPSK memperoleh informasi soal itu dari Bharada E. Saat menjalani peme­riksaan, Bharada E meng­ungkapkan ada delapan anggota Polri yang bertugas melekat dengan Irjen Ferdy Sambo.  “Menurut Bharada E, tiga di antaranya adalah sopir,” ucap Edwin.

Dari pemeriksaan di LPSK itu pula Bharada E menyebut ajudan Ferdy Sambo ada dua polisi, yakni Brigadir J dan Brigadir Daden. “J itu ADC. ADC yang cukup lama di Pak Sambo bersama Daden. Jadi, J sama Daden sudah melekat ke Pak Sambo dua tahun,” ujar Edwin.

Polisi yang Merintangi Kasus Penembakan Brigadir J Siap-siap Saja

Sementara itu Inspektorat Khusus (Itsus) Polri terlibat dalam penyidikan kasus kematian Brigadir Nofryansah Yosua Hutaba­rat atau Brigadir J di rumah dinas Kadiv nonaktif Propam Polri, Irjen Ferdy Sam­bo pada Jumat (8/7).

Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo bahkan mem­bentuk dua tim untuk mendalami adanya dugaan merintangi atau menutup-nutupi penyelidikan dan penyidikan kasus Itsus bertugas menyidiki keterlibatan anggota polisi lain dalam kasus kematian Bri­gadir J.  Kepala Divisi Hu­bungan Masya­rakat (Kadiv Humas) Polri Irjen Dedi Prasetyo memastikan Itsus bakal menindak dengan tegas setiap anggota polisi yang terlibat dalam kasus pembunuhan Brigadir J itu. “Semua yang terbukti terkait peristiwa di sekitar TKP akan diproses,” kata Dedi lewat pesan singkat kepada JPNN.com, kata Dedi saat di­konfirmasi, Kamis (4/8).

Dalam kasus itu, penyidik Bareskrim Polri telah menetapkan Bharada E sebagai tersangka.  Bharada E dijerat dengan Pasal 338 KUHP tentang pembunuhan, juncto Pasal 55 KUHP tentang Turut Serta, dan Pasal 56 KUHP tentang Membantu Melakukan Kejahatan. Irjen Dedi Pra­setyo sebelumnya mengatakan Inspektorat Khusus (Itsus) ikut membantu penyidikan kasus kematian Brigadir J.

Dedi mengatakan irsus itu nantinya ikut membidik kemungkinan tersangka lain dalam kasus kematian Brigadir J tersebut.  “Itsus ini melakukan pemeriksaan terhadap siapa saja yang menyangkut masalah peristiwa yang ada di TKP,” kata Dedi di Bareskrim Polri, Jakarta Selatan, Rabu.

Mantan Kapolda Kalteng itu mengatakan Itsus bertugas memeriksa siapa saja yang ada di lokasi kejadian saat insiden berdarah tersebut. “Itsus ini melakukan pemeriksaan-pemeriksaan dan pendalaman,” ujar mantan Kapolda Kalimantan Tengah ter­sebut.  Dedi menyebut kasus tersebut ditangani oleh dua tim, yakni Itsus dan tim khusus (timsus) yang di­ben­tuk Kapolri Jenderal Lis­tyo Sigit Prabowo.  “Dua tim ini akan bekerja secara maraton dan insyaallah sesuai komitmen Pak Ka­polri, kasus ini akan diungkap dengan proses pembuktian secara ilmiah,” tutur Dedi. (mcr8/cr3/jpnn)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

0 Comments
scroll to top