Menu

Lockdown atau Tidak?

  Dibaca : 504 kali
Lockdown atau Tidak?
Lockdown atau Tidak?

Oleh: Reviandi

PASCADIUMUMKANNYA pasien positif terkena virus corona atau covid-19 di Sumbar – langsung lima orang, banyak pihak yang meminta Sumbar segera di-lockdown. Artinya, langsung menutup semua jalur masuk baik dari darat, laut dan udara. Bahkan, juga memberlakukan “nyepi” dan hanya sedikit saja yang berada di luar rumah. Namun, sampai Jumat (27/3) sore, Gubernur Sumbar bergeming.

Dari pantauan di media cetak, online dan media sosial, yang ngotot menyatakan soal lockdown ini adalah para kandidat yang diduga akan maju sebagai calon Gubernur Sumbar dari non-incumbent. Mereka bahkan ada yang mengaku sudah menginformasikan langsung kepada Gubernur, agar melakukan kebijakan lockdown segera Sumbar sebelum benar-benar terlambat.

Bahkan, sejumlah media sosial yang memiliki puluhan ribu follower juga mulai menggaungkan lockdown. Seperti menuliskan kata-kata permintaan, menutup akses keluar masuk daerah, menutup semua tempat wisata, melarang perkumpulan massal, seperti konser, iven, pernikahan dan tempat hiburan.

Selanjutnya melarang beroperasi kafe dan tempat olahraga seperti futsal, sepakbola, bulutangkis dan gym, menutup tempat pelayanan publik, kecuali posko covid-19, Puskesmas, rumah Ssakit, Makodim dan Kantor Polisi, melarang pasar dibuka, melarang toko dibuka kecuali apotek dan supermarket serta melarang aktivitas atau bepergian dari rumah seperti duduk di jalan dan tempat umum, kecuali darurat.

Terlalu jauh mungkin menyebut, permintaan lockdown ini adalah bagian dari politik pencitraan dari para calon yang mau maju Pilgub atau Pilkada Kabupaten/Kota. Namun, kekhawatiran ini benar-benar dirasakan oleh masyarakat di Sumbar saat ini. Orang-orang yang datang dari luar Sumbar – apalagi Jakarta dan Pulau Jawa lainnya, tak akan diterima dengan ramah seperti biasa.

Di Batang Anai, Padangpariaman, setiap orang yang pulang dari Jakarta akan dilakukan karantina di rumah masing-masing selama 14 hari. Hal itu bukanlah kebijakan dari Pemda, Camat, Wali Nagari, Wali Jorong dan sejenisnya. Tapi, informasi akan adanya warga yang pulang kampung dari Jakarta itu sudah beredar luas. Jauh hari, keluarga sudah diingatkan untuk mengisolasi yang pulang kampung selama dua pekan.

Di kampung saya, Maninjau, Tanjung Raya, Agam, para mahasiswa yang pulang kampung karena perkuliahan dihentikan bahkan ada yang sampai September 2020 juga tak luput dari pantauan warga. Setiap mereka datang, langsung diminta oleh pihak nagari untuk melapor dan mengisolasi diri di rumah masing-masing selama dua pekan juga.

Artinya, masyarakat sebenarnya sudah paham dengan bahaya yang mengancam dari pandemik corona ini. Suatu hal yang tidak bisa dianggap main-main dan harus diwaspadai.
Mengisolasi orang-orang yang baru datang – siapapun dan apapun jabatannya adalah hal yang tepat. Karena, tak mudah mengetahui bagaimana ciri-ciri orang yang telah terjangkit virus mematikan ini. Konon, orang yang terlihat sehat saja bisa menjadi pembawa covid-19.

Memasuki Kota Padang pun saat ini, baik dari Padangpariaman di Kototangah, Solok di Lubukkilangan, dan Pessel di Bungus Teluk Kabung (Bungtekab) juga harus melewati pemeriksaan yang cukup intens. Petugas “bersenjata” disinfektan disiapkan untuk menyemprot kendaraan yang masuk. Bahkan, suhu tubuh orang-orang yang dicurigai juga dicek. Ini mungkin adalah bagian dari “semi” lockdown yang telah dilakukan Pemko Padang.

Terlepas dari Pilkada atau tidak, kebijakan lockdown ini memang harus dikaji benar tapi jangan lama-lama. Karena, akan berdampak menyeluruh terhadap kehidupan di Sumbar dalam waktu dekat dan lama. Keputusan itu harus cepat diambil oleh pemilik kebijakan di Sumbar dan Kabupaten/Kota. Benar, keputusan memang ada di pusat di Presiden, tapi usulan bisa dilakukan.

Akhirnya, kini semua calon kepala daerah, kepala daerah, anggota dewan dari pusat sampai daerah harus benar-benar bersatu untuk melawan corona ini. Jangan lagi ada yang tampil melakukan pencitraan untuk mendapatkan hati masyarakat. Bersatulah, ibarat rombongan alien sedang menyerang, dan tak ada pilihan dari semua pihak yang ada di bumi – baik yang damai atau berseteru untuk bersama melawan corona. Karena corona adalah musuh yang nyata bagi kita semua. (Wartawan Utama)

Editor:
KOMENTAR

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Fanpage Facebook

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional