Menu

Libur Panjang, Hunian Hotel Meningkat, Pemko Terapkan Prokes dengan Ketat

  Dibaca : 125 kali
Libur Panjang, Hunian Hotel Meningkat, Pemko Terapkan Prokes dengan Ketat
HUNIAN HOTEL MENINGKAT— Selama libur panjang cuti bersama membuat tingkat hunian hotel di Kota Bukittinggi mulai meningkat, namun pemko tetap menerapkan prokes yang ketat bagi pengunjung.

BUKITTINGGI, METRO
Cuti libur bersama dengan momen libur panjang akhir Oktober (28-31/10), membawa angin segar bagi kelangsungan hunian dan penginapan di Kota Bukittinggi. Setelah sempat sepi sejak Maret lalu, akibat dampak Pandemi Covid 19, namun ketika libur hari besar dan cuti bersama akhir Oktober ini, sebagian besar hunian hotel kembali mendapatkan gairah. Tamu-tamu mulai kembali menginap di sebagian besar hotel yang ada di Kota Wisata. Sebelumnya, tingkat hunian bahkan nihil sama sekali. Parahnya, kondisi itu sebagian besar manajemen hotel terpaksa merumahkan karyawan, bahkan ada yang sampai saat ini.

General Manager (GM) Hotel Malindo Bukittinggi Agussasi Mintarso mengatakan, sejak liburan panjang ini para tamu mulai berdatangan dari luar daerah seperti Riau, Jambi dan sekitarnya. Imbasnya, tingkat hunian hotel merangkak naik hingga 60 persen lebih. Kondisi ini sangat disyukuri oleh para pihak manajamen hotel. Karena kondisi selama pandemi sangat memprihatinkan akibat tidak adanya perputaran omset. ”Alhamdulillah, beberapa hari terakhir mulai kembali ada bokingan. Para tamu mulai ada yang menginap kembali, dan ini sangat kita syukuri,” ujar Agussasi.

Pihaknya sebut Agus, sejak pertengahan April lalu merumahkan 50 persen karyawan imbas kondisi akibat pandemi yang melanda sejak Maret lalu. Parahnya, meski harga kamar telah diberikan diskon hingga 30 persen tetap tidak ada tamu yang masuk. “Bahkan ada kamar yang sudah lama kosong, kalaupun ada tamu itu hanya satu atau dua kamar. Tentu saja omset yang masuk tidak sebanding dengan pengeluaran. Dan kita sangat bersyukur sekali liburan panjang ini membawa berkah. Meskipun tidak secara keseluruhan bisa menutupi biaya keluar, paling tidak bisa membantu menutupi, “ jelas Agussasi.

Sebagai hotel bintang dua, Grand Malindo sendiri sebut Agussasi Mintarso hampir senasib dengan hotel lainnya yang sepi tamu. “Sejak Maret hingga Juli bahkan sempat kosong, tidak satupun tamu yang masuk. Pernah ada cuti bersama waktu Agustus, alhamdulillah ada pengunjung, namun tidak seberapa. Baru liburan ini kembali ada tamu, “ tukas Agussasi.

Senada dengan itu, GM Hotel Mersi Bukittinggi Dessy Andriany mengaku bersyukur pada masa liburan ini hunian menggeliat. Meski tidak ada bokingan tamu luar, namun jumlah para tamu bisa mencapai 60 persen. “Jadi tamu-tamu itu langsung datang, tidak bokingan. Pada umumnya juga dari tamu Riau yang datang liburan ke Sumbar, “ sebut Dessy.

Hotel Mersi sendiri pun sebutnya, juga terkena imbas pandemi Covid. Bahkan, hingga sekarang masih banyak karyawan yang dirumahkan. “Hampir sama waktunya, semua hotel memiliki nasib yang sama sejak pandemi pada Maret lalu. Baru liburan ini yang ada gairah. Lebaran Idul Fitri dan Idul Adha pun tidak ada tamu seperti tahun sebelum pandemi,” ujar Dessy, seraya menyebutkan, jika harga hotel pun sudah dipotong hingga 30 persen.

Namun, pemotongan harga itu sebutnya, juga dilakukan oleh hotel bintang tiga dan empat. Kondisi itu sedikit banyaknya berpengaruh juga terhadap minat tamu untuk mencari hunian. “Mulai Kamis tamu mulai ramai dan dengan langsung datang, bukan berupa bokingan. Jumlah tamu itu sampai 60 persen. Dan kita berharap liburan yang tersisa masih banyak tamu lainnya, “ ujar Dessy seraya bersyukur.

Di lain pihak, Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Bukittinggi Vina Kumala mengatakan, hal serupa. Liburan panjang kali ini membawa angin segar dan berkah tersendiri bagi pengelola penginapan dan hotel di Kota Wisata Jam Gadang ini. Karena pengunjung mulai ramai, setiap hotel diimbau untuk tingkatkan protokol kesehatan. “Kondisi kita sudah cukup lama down, bahkan sampai merumahkan karyawan, tidak ada omset karena tamu tidak ada. Alhamdulillah, dan kita sangat bersyukur liburan ini membuat hunian kembali menggeliat,” ujar Vina.

Owner Hotel Nikita itu juga menyampaikan, turun nya tingkat hunian disebabkan rasa was-was tamu akan Pandemi Covid 19. “Biasanya tamu dari Padang menginap, sekarang mereka lebih memilih untuk langsung balek ka Padang. Begitu juga tamu lokal lainnya lebih memilik pulang dari pada menginap, dan ini sejak April hingga sekarang seperti itu kondisinya,” jelas Vina.

Meski begitu sebut Vina, liburan kali ini secara okupansi (hunian) hotel di bawah naungan PHRI Bukittinggi pada umumnya naik hingga 60 persen, terutama hotel bintang tiga dan empat. “Sejak tanggal 27 kemarin sudah mulai kembali ada bokingan kamar. Pada umumnya tamu didominasi dari Riau, sisanya dari daerah lain dan lokal, “ jelas Vina.

Vina juga menjelaskan, bukan tidak ada kunjungan wisata ke Bukittinggi, yang minim itu adalah tingkat keinginan tamu untuk menginap karena rasa was-was itu tadi. “Daya beli tinggi, namun tingkat keinginan rendah karena was-was pandemi. Jadi sudah beberapa bulan ini beginilah kondisi hunian di hotel. Meski sekarang hotel sudah memasang harga diskon, tapi tetap juga masih minim, “ jelas Vina. (pry)

Editor:
KOMENTAR

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Fanpage Facebook

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional