Menu

Lewat Pameran Ethnofotografi Landskap Budaya Minangkabau, Belajar Alam Takambang jadi Guru

  Dibaca : 64 kali
Lewat Pameran Ethnofotografi Landskap Budaya Minangkabau, Belajar Alam Takambang jadi Guru
GUNTING PITA— Wakil Gubernur Sumbar, Audy Joinaldy menggunting pita tanda peresmian acara.

PADANG, METRO–Menikmati Pameran Ethnofotografi Lanskap Budaya Minangkabau kar­ya Edi Utama yang dipa­merkan di Galeri Taman Budaya Sumatera Barat 28 Agustus-7 September 2021 seolah membaca dan be­lajar tentang falsafah Alam Takambang Jadi Guru de­ngan cara tidak biasa. “Ba­nyak yang bisa diingat dan dipelajari dari 75 karya foto yang merekam perge­seran dan perubahan Lanskap Minangkabau dari 1997-2021 ini. Bagaimana pe­r­kembangan zaman ter­nyata juga membawa pe­nga­ruh terhadap bentang alam yang telah diteroka dan dikelola oleh nenek moyang orang Minang­kabau,” kata Wakil G­u­bernur Sumbar, Audy Joi­naldy saat membuka pa­meran di taman Budaya Sumatera Barat, Sabtu (28/8).

Ia menilai foto adalah salah satu upaya untuk merekam segala hal yang tidak bisa terekam sela­manya oleh otak. Melihat foto dapat membangunkan memori yang pernah dili­hat, direkam otak namun terlupa. Foto yang mere­kam isu yang khusus me­nu­rutnya juga bisa menjadi sebuah bahan kajian, ba­han pemikiran bagi gene­rasi selanjutnya agar bisa memetik hikmah. Karena itu pemeran foto yang di­ge­lar harus diviralkan me­lalui media sosial karena saat ini penyebaran infor­masi memang paling cepat melalui media itu.

“Kita tidak bisa me­mungkiri bahwa zaman telah membawa pada ke­nya­taan bahwa penye­ba­ran informasi yang paling cepat adalah melalui media sosial. Karena itu Dinas Kebudayaan harus bisa menyebarkan informasi pameran itu seluas-luas­nya agar banyak masya­rakat terutama generasi muda yang bisa datang, menikmati dan belajar,” katanya.

Sementara itu Edi Uta­ma mengatakan proses kreatifnya untuk photografi sudah dimulai sejak tahun 1980-an. Namun banyak hasil fotonya yang sudah hilang dan rusak.

Foto yang dipamerkan saat ini adalah hasil karya dari 1997-2021, yang mere­kam perubahan bentang alam yang telah diteroka oleh nenek moyang de­ngan kearifan lokal bahwa alam yang telah dikelola itu akan diwariskan pada generasi-generasi selan­jutnya.

Edi menyimpulkan fal­safah Alam Takambang Jadi Guru yang dianut orang Minang hingga saat ini benar-benar diimple­men­tasikan oleh nenek moyang saat meneroka dan me­ngelola alam.

Pemukiman, sawah, la­dang dan hutan bisa ber­gabung dalam satu kesa­tuan yang asri dan saling menunjang sehingga tidak merusak bahkan benar-benar bisa diwariskan pada generasi selanjutnya.

Ia menemukan banyak perubahan yang terjadi pada lanskap Minangkabau itu dari waktu ke waktu. Sebagian ada yang kurang menggembirakan bahkan ada yang membuat pera­saan sedih dan terenyuh. “Banyak yang berubah dan banyak yang hilang. Se­mua terekam dalam karya ini,” katanya.

Namun ia mengatakan pameran yang digelar ha­nya bagian awal, pembuka dari serial diplomasi Kebu­dayaan Minangkabau yang penuh dengan nilai-nilai kearifan lokal. Ia mengajak semua pihak untuk mene­ruskan upaya menggali nilai-nilai itu untuk doper­kenalkan kepada generasi muda Minang dan du­nia. (fan)

Editor:
KOMENTAR

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional