Mengkritisi Pemerintah Adalah Hal yang Wajar

KRITIK terhadap pemerintah merupakan hal yang wajar dan dibutuhkan dalam suatu negara demokrasi. Namun, kritik tersebut harus disampaikan secara bijak dan mampu memberi solusi yang baik.
Jika ada yang mau mengkritik pemerintahan tentang kebijakan yang tak pro rakyat, seperti tarif listrik yang masih mahal, biaya pendidikan yang tinggi, gas 3 kg kadang-kadang langka, BBM mahal dan keluhan lainnya. Itu adalah hal yang wajar. Berarti masih banyak hal yang masih perlu diperbaiki.
Namun jangan pakai bohong, menghujat atau menyebarkan hoaks. Itu tidak baik. Apalagi sampai mencela pemimpin, itu kurang ajar.
Idealnya, kritik harus berisi masukan yang membangun, bukan berita bohong yang memprovokasi dan memicu kegaduhan. Apalagi sampai merugikan nama baik pemimpin kita. Saat ini cukup banyak kasus berita hoaxs tentang pemerintah yang dihembuskan dan telah ditindak oleh pihak yang berwajib. Seharusnya kita harus dijadikan sebagai pelajaran berharga dan tidak boleh terulang lagi.
Kita berharap semua masyarakat khususnya yang ikut dalam lingkaran politik agar menjadi contoh yang baik bagi masyarakat. Kita berpegang saja pada yang benar, pada fakta.
Begitu juga jelang pesta demokrasi Pemilu Legislatif dan Pemilu Presiden 2019. Kita berharap masing-masing pihakkita bisa saling menghargai.
“Ibarat kata pepatah, “silahkan nyalakan lampu sendiri seterang terangnya. Tapi jangan matikan lampu orang lain.
Jika semua kita sudah sama-sama menghargai, maka tidak ada yang perlu dikhawatirkan lagi dalam situasi perpolitikan nasional. Semua persoalan akan berada pada rel yang sewajarnya. Bahkan kritik dari kekuatan di luar pemerintahan juga adalah hal wajar yang harus untuk membangun suatu pemerintahan.
Mari kita sama-sama menghormati, sama-sama menghargai. Dalam Islam juga mengajarkan untuk menghormati pemimpin. Islam memerintahkan untuk taat kepada pemimpin karena dengan ketaatan rakyat kepada pemimpin (selama tidak maksiat) maka akan terciptalah keamanan dan ketertiban serta kemakmuran.
Sebuah negara tidak akan tercapai kestabilannya tanpa ada seseorang yang memimpin. Dan tanpa adanya seorang pemimpin dalam sebuah negara tentulah negara tersebut akan menjadi lemah dan mudah terombang-ambing oleh kekuatan luar. Semoga masyarakat kita tidak terjebak untuk saling menghujat, fitnah hingga menyebarkan kabar “hoax”, khususnya melalui media sosial, melainkan produktif pada pembangunan bangsa ini. (**)

Exit mobile version