Menu

Kuliah Daring di Tengah Pandemi Covid-19: Penuh Penat atau Kaya Manfaat?

  Dibaca : 120 kali
Kuliah Daring di Tengah Pandemi Covid-19: Penuh Penat atau Kaya Manfaat?
Rara Purnama Jingga, Mahasisiwi Jurusan Teknik Lingkungan, Fakultas Tek¬nik, Universitas Andalas

Covid-19 yang melanda dunia semenjak Desember 2019 telah berdampak ter­hadap perubahan aktivitas belajar-mengajar. Pneumonia Coronavirus Disease 2019 atau Covid-19 adalah penyakit peradangan paru yang disebabkan oleh Severe Acute Respiratory Syndrome Coronavirus 2 (SARS-CoV-2). Demi me­mu­tus rantai penyebaran Covid-19 ini, penerapan strategi social distancing dan aktivitas pembe­laja­ran secara daring menjadi sebuah pilihan yang di­ambil oleh Kemendikbud RI. Pelaksanaan pembe­lajaran secara daring mulai diterapkan semenjak 16 Maret 2020.

Kebijakan ini diambil oleh Kemendikbud RI me­lalui Surat Edaran No 4 Tahun 2020  tentang Pelak­sanaan Kebijakan Pen­didikan dalam Masa Da­rurat Penyebaran Corona Virus Disease (Covid- 19). Praktik pembelajaran seca­ra daring ini dilaksanakan oleh berbagai tingkatan jenjang pendidikan mulai dari SD, SMP, SMA, hingga perguruan tinggi. Sekolah dan kampus sebagai arena ruang belajar mengajar bagi guru dengan murid, mahasiswa dengan dosen pada akhirnya dilarang dilakukan, sebagai ganti­nya yakni dengan pem­belajaran secara daring.

Daring sendiri adalah singkatan dari “Dalam Jari­ngan” yang artinya sama dengan kata online yang berkaitan dengan tek­no­logi internet. Daring mer­u­pakan istilah online yang bermakna tersambung ke dalam jaringan internet. Adapun pembelajaran daring adalah pembelajaran yang dilakukan secara on­line tanpa tatap muka mela­lui aplikasi pembelajaran ataupun jejaring sosial yang tersedia. Segala pembela­jaran seperti pemberian materi, komunikasi, dan tes dilakukan secara on­line. Adapun aplikasi yang biasa digunakan dalam pembelajaran daring ini seperti WhatsApp, Google Classroom, Google Meet dan Zoom.

Pada saat pelak­sanaan­nya, pembelajaran daring memiliki kelebihan dan kekurangan. Kelebihan yang diperoleh dari pembelajaran daring seperti lebih hemat biaya transportasi dikare­nakan tidak datang ke kam­pus tetapi cukup belajar dari rumah saja. Selain waktu untuk pembelajaran daring lebih fleksibel dan lebih santai dikarenakan pembelajaran dilakukan di rumah sehingga mahasis­wa atau pelajar tidak me­rasa diberatkan pada saat pembelajaran.

Selain memiliki kele­bihan, pembelajaran yang dilakukan secara daring juga memiliki kekurangan seperti mahasiswa diwa­jibkan memiliki akses inter­net agar pembelajaran dapat dilakukan. Hal ini menjadi kendala oleh ma­hasiswa yang tinggal di daerah terpencil dimana jaringan susah didapat sehingga pembelajaran yang dilakukan dirasa tidak efektif. Selain itu penyam­paian dan penerimaan ma­teri tidak maksimal dika­renakan mahasiswa yang sulit untuk menangkap ma­teri secara online. Untuk mata kuliah dengan prak­tikum sulit dijalankan ka­rena pembelajaran dila­kukan secara virtual, se­hingga mahasiswa hanya dapat menonton video prak­tik dan tidak dapat melakukan praktik secara langsung.

Berdasarkan survei yang telah dilakukan terhadap mahasiswa Universitas Andalas, dimana sebanyak 74 koresponden yang mela­kukan perkuliahan secara daring, didapatkan 67% dari korespoden melaku­kan kuliah daring rata-rata selama 5-7 jam dengan terus menerus menatap layar monitor gadget yang digunakan. Data lainnya menunjukkan bahwa ma­hasis­wa melakukan kuliah daring dengan 14% untuk durasi 8-10 jam dan 19% untuk durasi 2-4 jam. Per­kuliahan diadakan di ber­bagai media pembelajaran seperti Whatsapp group, Google Class, Zoom, dan video offline atau online yang tersebar seperti You­tube. Dari survei yang dilakukan, terdapat ber­bagai kendala yang ditim­bulkan dari kuliah daring ini. Rata-rata 38% dari mahasiswa merasa ter­ken­dala sinyal yang buruk sehinga perkuliahan men­jadi tidak efisien dan me­nye­babkan kurang fokus­nya mahasiswa saat per­kuliahan berlangsung. Si­nyal yang buruk juga me­nyebabkan rata-rata ma­ha­siswa kurang mema­hami materi yang dibe­rikan. Berdasarkan survei ini, mahasiswa juga mera­sakan kehabisan kuota keti­ka melakukan perkuliahan daring. Dana yang dike­luarkan oleh mahasiswa juga beragam, rata-rata mulai dari Rp50.000 – Rp­100.000 dan ada juga Rp 100.000 – Rp 200.000. Biaya yang dikeluarkan tersebut dapat dikategorikan cukup besar apabila dikaitkan dengan keadaan sekarang

Ketertarikan mahasis­wa dalam melakukan per­ku­l­iahan secara daring juga disurvei pada pene­litian kali ini, dimana maha­siswa memiliki pendapat berbeda terhadap keter­tarikan dalam perkuliahan daring. Data menunjukkan 2% mahasiswa sangat ter­tarik, 43% merasa cukup tertarik, 48% mahasiswa kurang tertarik, dan 7% sangat tidak tertarik de­ngan perkuliahan daring ini. Ketertarikan dengan kuliah daring disebabkan karena perkuliahan dila­kukan lebih santai dan perkuliahan merupakan sesuatu yang wajib sehing­ga tidak ada pengaruh dalam sistem pembe­laja­ran. Selain itu, mahasiswa yang menganggap cukup tertarik berpendapat bah­wa materi dapat diulang-ulang sehingga dapat dipa­hami. Perkuliahan juga tidak memerlukan persia­pan

khusus seperti halnya persiapan ketika luring dan tidak merasakan ke­ma­cetan lalu lintas di jalan menuju tempat per­kulia­han. Ketidaktertarikan ma­ha­siswa pada kuliah daring disebabkan karena bebe­rapa dosen terkadang ha­nya memberikan materi tanpa dijelaskan, sehingga banyak hal yang tidak dipa­hami dalam segi materi. Kuliah daring juga dapat berdampak pada kese­hatan, diantaranya yaitu pusing dan gangguan kese­hatan mata karena pa­paran radiasi dari monitor gadget yang digunakan dalam kurun waktu yang lama. Sistem daring yang belum maksimal dan ber­dampak pada hasil ujian yang menurun dari pada kuliah luring. (*)

Editor:
KOMENTAR

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional