Menu

Krisis di Premier League, Klub Terancam Bangkrut

  Dibaca : 300 kali
Krisis di Premier League, Klub Terancam Bangkrut
RAYAKAN GOL— Kapten Manchester United, Harry Maguire merayakan gol ke gawang Tranmere. MU tidak akan mencutikan para karyawannya yang berjumlah 900 orang dan tetap membayar mereka sebagaimana mestinya.

Ada alasan utama mengapa klub-klub Premier League disarankan ikut skema mencutikan karyawan yang telah ditawarkan pemerintah Inggris. Ternyata, ada beberapa klub yang sedang berada di masa rawan gulung tikar.

Pandemi virus corona memang sedang menjadi momok besar bagi kompetisi sebesar Premier League. Gara-gara virus tersebut, Premier League sampai harus ditunda sampai waktu yang belum ditentukan.

Hal ini memberikan kerugian besar kepada klub. Mereka harus tetap membayar pemain serta staf, namun pemasukan dari hasil penjualan tiket serta merchandise menurun drastis.

Itulah skema mencutikan karyawan yang ditawarkan, di mana pemerintah membayar 80 persen gaji pekerja, jadi angin surga buat klub Premier League. Namun sayangnya, mereka yang ikut skema tersebut jadi bulan-bulanan kritikan masyarakat.

Salah satu klub yang menjadi sasaran kritikan adalah Liverpool. Dan setelah dibanjiri tekanan sana-sini, mereka pun memutuskan untuk menarik diri dan skema tersebut beberapa hari yang lalu.

Namun masih ada klub lain yang tetap mau menggunakan ‘bantuan pemerintah’ itu. Di antaranya Newcastle United, Bournemouth, Norwich City, hingga Tottenham. Sedangkan dua klub Manchester kompak dalam menyatakan penolakannya.

Mereka yang mengambil kebijakan ‘furlough’ lantas mendapatkan pembelaan dari pimpinan Premier League, Richard Masters. Dan ternyata, ada beberapa klub yang terancam gulung tikar jika tidak memanfaatkan bantuan pemerintah tersebut.

“Kehilangan besar yang sedang kami hadapi harus segera diatasi atau jika tidak, klub dan perusahaan yang juga bergantung pada sepakbola untuk pemasukannya terancam bangkrut,” begitu bunyi surat yang dikirim Masters ke komite departemen budaya, media, dan olahraga pada hari Selasa (7/4).

Tentu saja, Masters meyakini bahwa penggunaan bantuan tersebut harus dibatasi. Dan bukan juga berarti dirinya ingin semua klub bisa mendapatkan bantuan itu tanpa harus mendapatkan kritik dari masyarakat.

“Skema cuti yang diumumkan pemerintah ditujukan untuk seluruh aspek ekonomi, termasuk perusahaan yang mungkin dianggap menyediakan hiburan atau yang lain tergantung kepada talenta elit,” tambahnya.

“Kami sepakat dengan anda bahwa pembatasan harus diperlihatkan oleh semua dan kami serta klub akan melakukan itu. Klub sebagai individu harus membuat keputusan berdasarkan perkiraan karena setiap klub punya posisi unik masing-masing,” pungkasnya. (*/uki)

Editor:
KOMENTAR

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Fanpage Facebook

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional