Close

Kota Padang Darurat Tawuran, SMKN 1 Diserang, Satu Siswa Kena Bacok, Gubernur Meradang, Minta Kepsek Tanggung Jawab

TAWURAN— Siswa SMKN 1 Padang dibacok oleh segerombolan remaja bersenjata tajam. Sementara, enam orang diamankan Tim Kelewang dengan barang bukti.

PADANG, METRO–Aksi tawuran antarkelompok pelajar maupun remaja di Kota Padang sangat meresahkan warga. Sebab, aksi tawuran dengan menenteng senjata tajam masih saja terjadi. Padahal, aksi tawuran itu sudah sering menimbulkan korban luka bacok hingga meninggal dunia.

Kekinian, Kamis (28/7), aksi tawuran antarpelajar kembali pecah di dua lokasi berbeda di Kota Padang. Aksi yang dilakukan oleh sekelompok remaja ini sempat membuat kondisi jalan di dua lokasi tersebut tersendat sebelum akhirnya pihak kepolisian, Satpol PP, dan masyarakat membubarkan aksi tawuran itu hingga akses jalan kembali normal.

Namun, dalam aksi tawuran ini satu orang pelajar mengalami luka bacok, namun tidak terlalu parah dan sudah mendapatkan perawatan di rumah sakit terdekat.  Sementara itu, Tim Klewang Satreskrim Polresta Padang yang mendapatkan laporan adanya aksi tawuran tersebut langsung melakukan pengejaran dan berhasil mengamankan enam orang remaja yang diduga pelaku tawuran.

Saat ini, enam orang yang diduga pelaku tawuran tersebut masih menjalani pemeriksaan di Polresta Padang dengan sejumlah barang bukti senjata tajam (sajam) berupa parang, dan celurit yang digunakan sebagai alat untuk tawuran.

Aksi pertama terjadi pada siang hari dimana sejumlah remaja melakukan penyerangan di SMKN 1 Padang yang berada di kawasan Kampung Kalawi, Kecamatan Kuranji. Dalam penyerangan tersebut, seorang siswa terluka terkena sabetan klewang. Korban berdarah dan dilarikan ke rumah sakit.

Bahkan peristiwa tersebut viral di sejumlah akun Instagram. Dalam video yang beredar, terlihat segerombolan pelajar yang memakai sepeda motor datang ke SMKN 1 sambil membawa senjata tajam dan mengejar para pelajar yang ingin masuk ke sekolah.

Gerombolan remaja bersenjata itu mengejar sampai ke gerbang sekolah SMKN 1. Nahasnya, seorang pelajar SMKN 1 terjatuh dan dibacok membabi buta gerombolan pelajar yang memakai sepeda motor itu.

Hal itu dibenarkan oleh Satpam sekolah yang bernama Ikhsan. Katanya, siswa tersebut tak bisa lari ke dalam sekolah saat dikejar tiga siswa lain yang memegang klewang.

“Kejadian penyerangan terjadi setelah selesai istirahat isoma (Istirahat shalat makan). Sekitar pukul 13.15 WIB,” kata Ikhsan.

Dikatakan Ikhsan, pada saat kejadian dirinya hanya bertugas sendiri dan berada di lingkungan sekolah. Selanjutnya terlihat beberapa siswa diserang orang tidak dikenal.

“Semua murid sudah kembali masuk ke dalam sekolah, mungkin yang berada di luar ini yang masih lapar dan membeli cemilan keluar,” kata Ikhsan.

Ikhsan mengakui, dirinya melihat adanya beberapa remaja datang menyerang dengan memakai celana sekolah. Namun, untuk bajunya tidak terlihat karena memakai sweater.

“Jadi ada satu anak badannya agak besar lari masuk ke arah pagar, entah kenapa dia terjatuh saat diserang. Saya langsung berlari ke depan, karena mereka sudah mengeluarkan celurit,” katanya.

Ikhsan membeberkan bahwa siswa SMKN 1 Padang sempat terkena senjata tajam jenis celurit saat terjatuh. Namun, luka tidak terlalu parah. Dirinya pun mengusir para pelaku penyerang sambil menyelamatkan siswa dan menutup pagar sekolah.

“Setelah orang tidak dikenal itu pergi, suasana menjadi heboh sehingga pagar dibuka paksa dan para murid keluar gerbang sekolah. Namun, saat siswa SMKN 1 Padang keluar, pelaku penyerangan sudah meninggalkan lokasi. Selain itu, lokasi ini sudah diamankan oleh polisi dan Satpol PP yang datang saat mengetahui adanya penyerangan tersebut,”ungkapnya.

Petugas kepolisian dari Polsek Kuranji dan petugas Satpol PP Kota Padang melakukan pengamanan di lokasi tersebut. Petugas pun membubarkan remaja yang berkumpul ini untuk dapat meninggalkan lokasi agar tidak terjadi tawuran.

“Iya kita menurunkan petugas satu kompi sebanyak 30 orang untuk membubarkan remaja yang hendak tawuran,” kata Kasat Pol PP Kota Padang, Mursalim.

Mursalim menyebut,  awalnya masuk laporan dari pihak sekolah SMKN 1 Padang dan Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Sumatera Barat adanya tawuran di Jalan M Yunus Kampung Kalawi.

“Informasinya dari siang hari ada rombongan remaja berpakaian bebas datang ke SMKN 1 Padang melakukan penyerangan. Kami juga mendapatkan informasi adanya seorang murid terluka dan sempat dibubarkan. Informasi yang kami terima, mereka akan datang lagi katanya setelah pulang sekolah. Makanya kita datang ke lokasi untuk melakukan pengamanan. Saat sampai di lokasi kejadian ternyata ada kerumunan murid sehingga dibubarkan untuk menghindari hal yang tidak diinginkan, “ujarnya.

Sementara itu, aksi tawuran kedua terjadi di Jalan Lintas Padang-Solok, tepatnya di kawasan Cengkeh, Kecamatan Lubuk Begalung. Aksi tawuran yang diketahui oleh Polisi Lalu Lintas (Polantas) itu tidak jadi menyebar lantaran cepat dibubarkan, bahkan polisi sempat jadi sasaran.

Aksi tawuran inipun viral di media social instagram dimana di dalam video yang diunggah tampak segerombolan pelajar menggunakan seragam bercorak batik berlari sembari melempar ke arah kelompok yang berada di depannya. Tampak juga seorang polisi berusaha melerai aksi tersebut, namun para pelajar yang sibuk saling lempar tidak menggubris.

Menurut informasi, tawuran antar pelajar yang terjadi di daerah Cengkeh tersebut merupakan eskalasi dari kejadian beberapa jam sebelumnya di daerah Kalawi. Kepolisian dan warga setempat berhasil membubarkan massa tawuran sehingga lalu lintas dan area yang menjadi titik temu kembali aman sekitar pukul 14.40 WIB.

Harry (40), warga cengkeh yang ingin pergi kerja mengatakan, ketika dia ingin keluar dari gang rumah, dia melihat ada ratusan para pelajar yang tawuran memakai benda tajam.

“Mereka saling kejar-kejaran di tengah jalan, perang batu juga, masyarakat resah akan ulahnya,” ungkap Harry.

Sementara itu, Kapolsek Lubuk Begalung, Kompol Harry Maliza Putra menjelaskan, mendapat adanya peristiwa tawuran terjadi, dia pun bersama anggota langsung ke TKP dan aksi pelajar tawuran itu pun langsung bubar.

“Kami langsung mensterilkan lokasi kejadian sampai benar-benar aman. Tawuran pelajar ini sangat meresahkan masyarakat. Saat kami sampai, mereka sudah melarikan diri semua,” tutup Kapolsek.

Gubernur Meradang

Mendapat informasi adanya tawuran pelajar di Kota Padang, Gubernur Sumatera Barat (Sumbar) Mahyeldi Ansharullah meradang. Menurutnya, kepala sekolah harus bertanggung jawab tentang prilaku siswa yang berada di sekolah. Selain itu, orang tua juga mempunyai tanggung jawab jika anak-anak berada di rumah.

“Walau ada, tidak begitu banyak terjadinya tawuran pelajar yang terjadi. Perlu pengendalian agar tidak terjadi lagi tawuran pelajar. Jika di sekolah, kepala sekolah harus bisa mengendalikannya,” tegas Mahyeldi, Kamis (27/7).

“Selain itu, orang tua harus bisa menjaga anaknya di rumah. Dan yang penting peran serta masyarakat agar tidak terjadi lagi tawuran pelajar,” tambahnya.

Lebih lanjut, Mahyeldi menjelaskan tempat aktivitas pelajar harus terus di perhatikan. “Kita harus bangun kepedulian bersama demi tumbuh kembang anak. Generasi muda harus di ajak ke sekolah, surau dan rumah. Ketiga tempat ini harus bersinergi dalam hal pengawasan aktifitas anak,” tambahnya.

Saat di singgung pendidikan karakter tidak memberikan efek kepada pelajar, Mahyeldi menjelaskan program yang sedang dijalankannya semua dalam menciptakan pendidikan karakter.

“Jika di sekolah, guru-guru mempunyai peranan, jika di rumah keluarga yang berperan, dan di lingkungan fungsi ninik mamak, penghulu harus mengambil peranan dalam pendidikan karakter ini” jabarnya.

Anggota DPRD Provinsi Sumbar Maigus Nasir menjelaskan, tawuran dan prilaku menyimpang lainnya yang menimpa generasi muda terjadi karena tidak terjadinya sinergisitas antara keluarga, sekolah dan lingkungan sosial.  Apalagi, pada saat ini, dalam penciptaan pendidikan karakter mengandalkan kekuatan sekolah.

“Saya menyesalkan tawuran pelajar terjadi lagi. Apalagi teknologi media sosial diterima secara bulat-bulat oleh anak. Oleh karena itu, saya mengapresiasikan usaha Kapolda Sumbar yang melibatkan fungsi ninik mamak untuk meminamilis tawuran di kalangan pelajar,” ucapnya.

Lebih lanjut, Maigus Nasir menjelaskan Komisi V DPRD Sumbar dapat bergandengan dengan Dinas Pendidikan Sumbar untuk mencegah tawuran pelajar kembali terjadi.

“Pemerintah harus tegas, pemerintah harus mengabil sikap. Bagaimana pun kearifan lokal harus bisa dimanfaatkan.  Fungsi tungku tigo sajarangan penentu penyelamatan generasi muda di masa yang akan datang,” tutupnya. (rom/fan)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

0 Comments
scroll to top