Menu

Korupsi Penyelewengan Dana Infak Masjid Raya Sumbar, Eksepsi Kuasa Hukum Terdakwa Ditolak

  Dibaca : 139 kali
Korupsi Penyelewengan Dana Infak Masjid Raya Sumbar, Eksepsi Kuasa Hukum Terdakwa Ditolak
Terdakwa Yelnazi Rinto tengah menjalani sidang, di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Pada Pengadilan Negeri Kelas I A Padang.

PADANG, METRO
Majelis hakim Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) di Pengadilan Negeri kelas IA Padang, menolak eksepsi Penasihat Hukum (PH), terdakwa  Dalam kasus dugaan penyelewengan dana infak Masjid Raya Sumbar, dana sisa Peringatan Hari Besar Islam (PHBI), dana Unit Pengumpul Zakat (UPZ) Tuah Sakato, dan APBD Biro Bina Mental dan Kesra Setda Provinsi Sumbar, tahun anggaran 2019, yang menjerat oknum ASN Pemprov Sumbar  Yelnazi Rinto.

“Menolak eksepsi dari PH terdakwa, memerintahkan kepada penuntut umum, menghadirkan saksi kepersidangan,” kata hakim ketua sidang, Yose Ana Roslinda, didampingi hakim anggota M.Takdir  dan Zaleka, saat membacakan amar putusan sela, Senin (30/11).

Hakim berpendapat, surat dakwaan penuntut umum sudah memenuhi syarat dan sudah lengkap, sehingganya perkara tersebut haruslah dilanjutkan.Terhadap putusan sela tersebut, tim Jaksa Penuntut Umum (JPU), belum dapat menghadirkan saksi kepersidangan. “Kami minta waktu untuk menghadirkan saksi majelis, karena saksi-saksi belum kami panggil,”ujar JPU Pitria.

Menanggapi hal tersebut, majelis hakim pun mengabulkan permintaan JPU. “Baiklah sidang ini kita tunda dan dilanjutkan kembali pada 4 Desember 2020, dengan agenda pemeriksaan saksi,” tegas hakim ketua sidang.

Sementara, PH terdakwa, Ade Putra cs, menghormati putusan sela tersebut. Dalam dakwaan JPU sebelumnya,  dijelaskan bahwa, terdakwa Yelnazi Rinto selaku bendahara pengeluaran pembantu pada biro bina sosial Sumatra Barat (Sumbar), priode 2010 hingga 2019. Bendahara masjid Raya Sumbar priode 2017. Bendahara Unit Pengumpul Zakat (UPZ) Tuah Sakato, dan pemegang kas Panitia Hari Besar Islam (PBHI) tahun 2013-2017.

Dimana  terdakwa  memindahkan buku uang zakat yang ada direkening UPZ Tuah Sakato sebesar Rp375.000.000 ke rekening infak Masjid Raya Sumbar pada Bank Nagari Kantor Gubernur Sumbar, dengan cara memalsukan tanda tangan wakil ketua UPZ.  Setelah uang  tersebut masuk ke rekening, terdakwa langsung menariknya dengan menggunakan slip penarikan. Tak hanya itu, terdakwa juga memalsukan tanda tangan kepala Biro Bintal dan Kesra Setda Provinsi Sumbar.

Selanjutnya pada tanggal 1 Mei 2018, rekening bendahara pengeluaran Pembantu Biro Bintal dan Setda Provinsi Sumbar , menggunakan aplikasi Nagari Chas Management (NCM) dengan jenis ID Single User. Artinya menjalankan transaksi pemindahan buku cukup satu kali penggunaan NCM, disertai nomor hand phone terdakwa. Kemudian terdakwa mentransfer sendiri dari uang persedian dari rekening bendahara pengeluaran Pembantu Biro Bintal dan Kesra Setda Provinsi Sumbar, ke beberapa nomor rekening. Seolah-olah untuk membayar kegiatan Biro Bintal dan Kesra Setda Provinsi, sehingga total keseluruhan sebesar Rp718.370.000.

Selanjutnya uang yang ditransfer,  dipindahkan atas kebeberapa  nama orang lain, termasuk keterdakwa sendiri. Akan tetapi uang dengan jumlahnya besar itu, digunakan untuk membayar hutang pribadinya bukan, untuk membayar uang kegiatan. Dijelaskan dalam dakwaan, setiap selesai melaksanakan salat Jumat   dan salat lima waktu di Masjid Raya Sumbar, semua infak dan sedekah yang diterima masjid dikumpulkan oleh saksi  Efilman dan diantarkan ke ruang terdakwa tanpa penghitungan. Selanjutnya uang tersebut dikumpul menurut pecahannya.

Kemudian terdakwa menyetorkan uang infak pecahan Rp 20.000 ke rekening masjid, sedangkan uang pecahan Rp 50.000 dan Rp 100.000, disimpan dalam brankas terdakwa, untuk membayar imam, muazin, honor garin, dan lain sebagainya.  Lalu terdakwa membuat laporan dan diumumkan kepada jemaah. Namun uang infak tersebut  malah dipergunakan untuk kepentingan terdakwa sendiri, sehingganya tidak dapat dipertanggung jawabkan. Tak hanya itu, uang pemegang kas sisa dana (PHBI) Provinsi Sumbar dan penyelenggaraan salat idul fitri dan adha dan anak yatim yang berjumlah Rp98.207.759. Habis dipergunakan untuk keperluan terdakwa sendiri.   (cr1)

Editor:
KOMENTAR

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional