Menu

Korban Perkosaan Terkena Kanker Ganas

  Dibaca : 5221 kali
Korban Perkosaan Terkena Kanker Ganas
DIRAWAT INTENSIF— Korban pemerkosaan berinisial TS yang terkena kanker ganas hanya dirawat di rumah usai menjalani operasi pembuatan lubang buang air besar di perut.
  • Pelaku Kabur, Polisi masih Memburu
  • M Djamil Tolak Beri Rujukan ke Jakarta

PADANG, METRO – Sungguh tragis apa yang dialami TS (12). Sekitar Juli 2018 dia menjadi korban keganasan predator anak di kawasan tempat tinggalnya di Bungus Teluk Kabung (Bungtekab). Berulang kali, siswa SDN Bungtekab itu diperkosa oleh Am (60), lelaki yang seumuran kakeknya itu. Kini, TR terbaring dengan kanker ganas yang dideritanya, sementara sang pelaku masih buron.

Selasa (26/11), akibat penyakitnya semakin parah, relawan yang mendampingi TS selama ini saat perawatan di RSUP M Djamil Padang sampai saat ini dirawat jalan (di rumah, red) mencoba membawanya ke Rumah Sakit Dr Cipto Mangunkusumo (RSCM) Jakarta. Namun sayang, pihak M Djamil tidak bersedia memberikan surat rujukan, dengan alasan masih bisa ditangani, karena ketersediaan alat, obat dan tenaga ahli.

Winna, relawan yang mendampingi TS menyebutkan, TS terdiagnosa CA rektum stadium 4 akibat pemerkosaan dari depan dan belakang. Meski kejadian sudah lama, namun penderitaannya kian bertambah parah sekitar Oktober 2019 ini. Selama ini, pendarahan yang dideritanya, disembunyikan dengan alasan sedang menstruasi atau datang bulan.

“Dulu dia diancam oleh pelaku agar tidak menceritakan kejadian ini. Sebenarnya sejak Maret 2019 kondisinya sudah melemah, dan tidak lagi bersekolah. Bahkan, dia sempat diopname atau dirawat di RS M Djamil selama 25 hari. Di situlah diketahui korban kanker rectum atau anus stadium 4. Anus membengkak, membusuk dan mengeluarkan nanah. Dia sempat mengalami koma dan tak sadarkan diri berhari-hari,” katanya.

Menurut Winna, sejumlah penanganan medis telah dilakukan mulai dari rangkaian pengobatan, sinar, kemoterapi. Bahkan, karena tidak bisa lagi buang air besar dari anus, dokter terpaksa membuat lubang anus di perut. “Karena itu kami ingin dia dirawat di Jakarta saja. Karena di sini tidak tampak perubahannya. Beberapa donatur siap memberangkatkan, termasuk anggota DPR RI Andre Rosiade,” katanya.

YD (30), ibu kandung korban di RS M Djamil menyebutkan, dia tak tahu lagi bagaimana menangani masalah anaknya. Saat kejadian perkosaan itu, dia tengah menitipkan anaknya bersama nenek korban di Bungtekab. Karena, dia dan suaminya masih terbelit masalah hukum dan baru selesai pada pertengahan 2019 ini.

“Kami tidak tahu kejadiannya, karena masih ada masalah. Namun, sekarang anak saya tidak bisa sekolah, tidak ceria dan trauma. Dia tidak bisa seperti kawan-kawan seumurannya. Kondisinya kian hari kian parah. Di M Djamil ini seperti tidak diobati, dan kami ingin membawanya ke Jakarta saja. Tapi sayang, surat rujukan tak juga diberikan,” katanya.

Katanya, sebagai orang yang bekerja serabutan, dia dan suaminya tidak sanggup membiayai anak mereka berobat. Apalagi mendapat perlakuan tidak baik di rumah sakit. “Kami dengar ada yang mau bantu ke Jakarta, makanya kami sangat setuju. Agar penyakit anak kami bisa diobati segera. Agar dia kembali bisa bersekolah lagi,” kata YD didampingi tim relawan Pemuda Padang Berhijrah (PPB).

Saat ini, katanya, anaknya masih terbaring di rumah mereka di Aiapacah, Kototangah, Kota Padang. Beruntung, Komunitas PPB mau membantu biaya pembelian alat-alat kebutuhan seperti obat dan pembalut. “Kalau biaya rumah sakit selama ini memang ada BPJS, tapi kami tetap harus menyediakan biaya transportasi mobil. Kami barusan mendengar ada bantuan dari pak Andre Rosiade,” katanya.

Selain menginginkan kesembuhan anaknya, YD berharap pelaku dapat ditangkap dan dihukum berat. Pelaku yang merupakan tetangga di rumah orang tuanya di Bungtekab itu, sampai hari ini masih buron. Dia telah melaporkan secara resmi kejadian ini di Mapolresta Padang dengan nomor LP/469/K/VII2019 tanggal 6 Juli 2019. “Sampai sekarang belum ada kejelasan, mohon pihak polisi menangkap pelaku,” katanya.

Pejabat Pemberi Informasi dan Dokumentasi (PPID) RSUP M Djamil Padang, Gustavianof mengakui, M Djamil belum memberikan surat rujukan perawatan TS ke rumah sakit lain atau ke Jakarta. Pasalnya, M Djamil masih sanggup memberikan perawatan, baik secara obat-obatan, teknologi dan juga tenaga medis.

“Kami telah berkonsultasi dengan dokter yang menangani korban, dr Amirah, dan dia menyatakan, masih terus melakukan penanganan. Bahkan, telah beberapa kali dilakukan kemo (kemoterapi, red). Jadi, sampai hari ini kami tidak bisa beri rujukan. Kalau pasien atau keluarganya berkeras meminta pindah ke Jakarta, itu artinya atas kemauan sendiri,” sebutnya.

Soal pelayanan yang diterima keluarga TS, Gustavianof mengaku akan memperbaikinya. Bahkan, dia berjanji akan mengawal sendiri saat TS dan keluarganya ke RSUP M Djamil. “Soal tidak dirawat inap itu sudah keputusan tim dokter yang merawat juga. Lebih baik dirawat jalan saja, karena kalau di rumah sakit, akan rentan tertular aneka penyakit lainnya. Kami sendiri nanti yang akan membantu keluarga pasien saat kemo,” katanya.

Kasat Reskrim Polresta Padang AKP Adrian Wiguna yang dihubungi terpisah menyebutkan, orang tua korban telah melaporkan kejadian ini sejak Juli 2018 lalu. Pihaknya telah melakukan pencarian dan memasukkan tersangka Am dalam daftar pencarian orang (DPO). Dia meminta semua pihak yang melihat pelaku agar melaporkan ke Polresta Padang.

“Kami telah mendengar apa yang dialami korban saat ini dan sangat kasihan kita. Kemarin kami mendapatkan informasi kalau tersangka lari ke arah Painan, Pesisir Selatan (Pessel). Kami dan tim sudah mengejar ke sana, tapi nihil hasilnya. Sampai hari ini kami tetap upayakan pencarian terhadap kakek ini,” kata Kasat Reskrim.

Anggota DPR RI Andre Rosiade mengatakan siap memasilitasi kalau TS dibawa ke RSCM Jakarta. Bahkan, dia sudah berkoordinasi dengan Komisi IV yang membidangi kesehatan untuk membantu proses perawatan TS di Jakarta. Andre juga telah mengontak Ikatan Keluarga Minang (IKM) untuk memasilitasi TS dan keluarganya selama di Jakarta.

“Kami telah minta tim di Padang untuk mengurus keberangkatan TS, keluarga dan pendampingnya ke Jakarta. Namun, kata M Djamil tidak perlu dirujuk, tentu kami akan melakukan verifikasi lagi. Sekarang, untuk perawatannya, kami minta M Djamil sungguh-sungguh melakukannya. Soalnya, kami dengar kabar Cuma diobati seadanya. Tapi tentu dokter lebih tahu tentang pengobatannya,” kata Andre.

Andre juga mendesak Polresta Padang dan Polda Sumbar untuk menangkap pelaku yang informasinya masih berada di Sumbar. “Kenapa susah sekali menangkap satu orang tua yang terlibat kasus pencabulan ini. Kami ingin tim lebih bekerja keras untuk menyelesaikan persoalan ini,” kata Andre yang memberikan bantuan untuk perawatan korban dan biaya transportasi keluarganya, kemarin. (rvi)

Editor:
KOMENTAR

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Fanpage Facebook

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional