Menu

Kontribusi Pendidik pada Sekolah Vokasi

  Dibaca : 286 kali
Kontribusi Pendidik pada Sekolah Vokasi
Barwita Yuniana MSi

Sekolah Vokasi di negara kita belum menjadi primadona dan biasanya diminati masyarakat menengah ke bawah, serta sering dijadikan pilihan kedua.Saat ini pemerintah mencoba mengusung konsep Vokasi Jerman dengan program Duales Systemnya.

Program ini tidak bisa dilakukan oleh beberapa orang pengambil kebijakan saja. Seperti, kepala sekolah, semua pendidik dan tenaga kependidikan. Pemerintah dan sektor industri harus terlibat aktif dan saling bersinergi. Sehingga tingkat pengangguran turun signifikan sesuai target Program Dual System.

Pendidik adalah pemeran utama dalam menentukan kompetensi lulusan. Bapak Ibu Pendidik diharapkan tidak hanya memberi bekal ilmu tapi juga banyak hal terkait soft skill dan mencari mitra penempatan lulusan. Banyak harapan anak bangsa tertompang ke pundak pendidik.

Keberhasilan sebuah sekolah vokasi adalah jika semua lulusannya terserap bekerja sesuai kompetensi. Hal ini terlebih dahulu yang harus menjadi pemahaman sebagai suatuharga mati bagi Pendidik di Sekolah vokasi.

Salah seorang Manager HRD mitra kami dari sebuah perusahaan kelapa terbesar di dunia yang berada di sebuah pulau di Kepulauan Batam, pernah menyatakan bahwa bila semua orang di pulau tersebut mau bekerja untuk tenaga skill dan non skill maka tidak seorang pun di pulau itu yang akan menganggur.

Mereka mendatangkan banyak tenaga skill tingkat menengah dari Pulau Jawa dan Sumatera. Mereka bercerita banyak tentang anak anak muda tamatan SMK yang tidak betah di Pulau tersebut padahal pendapatan mereka cukup menjanjikan.Miris ,sementara angka penggangguran semakin besar.

Lalu sejauh mana peran pendidik dalam mencapai target lulusan sekolah Vokasi ?Ada beberapa hal prinsip yang bisa dijadikan budaya dan kepedulian :
1.Kompetensi
Kompetensi atau Skill lulusan harus disiapkan benar benar sesuai dengan kebutuhan User. Pendidik tidak hanya sekedar memenuhi tuntutan kurikulum saja, tapi memang merasa bertanggung jawab moril untuk masa depan anak didik kita. Membuka peluang dan waktu seluas luasnya bagi anak didiknya untuk bertanya, walaupun suatu hari dibutuhkan lulusan sebagai sharing informasi. Sekolah dan pendidik juga membuka ruang seluas luasnya bila ada tuntutan kompetensi yang harus diperdalam sebelum mereka mulai bekerja.

2. Menanamkan profesionalitas di atas segalanya
Pendidik selalulah dan hendaknyasesering mungkin menanamkan rasa profesionalitas pada peserta didiknya, sehngga lulusannya dihargai user dan menghargai sendiri kompetensinya. Pendidik bersama-sama harus memantau lulusannya memang bekerja sesuai kompetensi dengan gaji yang sesuai.

3. Menanamkan soft Skill dan karakter yang kuat
Pada saatnya nanti, ketika memang era industri 4.0 telah menyentuh semua lini,hanya Emotional Intelegensi yang mampu menyaingi keberadaan robot dan Tecnologi. Dibutuhkan inovasi dan pemecahan masalah yang rumit hanya dari kemampuan manusianya. Pendidik perlu terus menerus secara berkesinambungan mengingatkan peserta didiknya tentang disiplin, kejujuran, inovasi,dan cerdas emotional.

4. Mengingatkan tentang tantangan zona tak nyaman menuju Zona Nyaman
Lulusan Sekolah Vokasi didominasi peralihan remaja menuju masa dewasa.Mereka masih mementingkan zona trend dan zona nyaman tanpa berpikir bahwa puncak karir biasanya akan tercapai pada umur 45 sampai 55.Butuh waktu panjang menjalani proses.Mereka biasanya tidak rela meninggalkan zona nyaman seperti mall,sinyal HP yang 4G,dan iming iming nyaman dari teman teman mereka atau kakak kakak kelas mereka yang sudah bekerja di kota kota besar.

Perlu diberikan pengertian pada mereka bahwa pembangunan cendrung berkembang ke daerah sepi dan belum tersentuh.Pulau Jawa jauh lebih mereka minati dibanding Pulau Kalimantan atau daerah daerah baru berkembang.Padahal mereka akan berproses 15 sampai 20n tahun untuk mencapai puncak karir.Pendidik perlu memberikan opini ini pada lulusannya juga memberi pengertian pada orang tuanya yang cendrung melarang anaknya merantau terlalu jauh.Dari zona tidak nyaman di awal suatu ketika mereka akan mendapatkan zona nyaman.

5. Menjalin Hubungan harmonis dan mesra dengan Mitra penempatan lulusan
Mitra penempatan lulusan adalah key word utama sekolah vokasi.Semua pendidik berkewajiban menjaga keharmonisan kemitraan ini.Komplain dan reward terhadap kinerja lulusan harus disikapi sama. Reward sebagai penyemangat dan komplain sebagai motivasi.Semua pendidik hendaknya tahu dan menghargai mitra sebagai user.Adanya kesamaan persepsi dalam menjalin hubungan keharmonisan dengan user.

6. Menghargai lulusan sendiri dan membuka komunikasi dengan User saat rekruitmen lulusan.
Adanya Upaya jemput bola pada user, untuk membicarakan tentang rekruitmenakan membuat lulusan lebih besar kemungkinan diserap user dari pada mereka dibiarkan mencari pekerjaan sendiri.Pengalaman mengajarkan banyak sekali mitra tertarik dengan tes terkoordinir dengan sekolah bila kita membuka komunikasi yang komunikatif.

7. Peduli saat mendengar ada kebutuhan lulusan dari user dan pro aktif mencari peluang
Pendidik hendaknya punya tanggung jawab moril dan rasa malu bila lulusannya tidak bekerja,sehingga sama sama peduli mencari peluang kerja. Budaya kerja pendidik akan menentukan kegemilangan masa depan lulusan,dan dilakukan terus menerus tanpa terputus.

Ada Banyak hal yang bisa kita lakukan sebagai pendidik sehingga kita bisa sampai mengantar mereka meraih masa depannya. (Penulis merupakan PNS Kementrian Perindustrian / Fungsional guru pada Sekolah Menengah Analis Kimia Padang)

Editor:
KOMENTAR

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional