Close

Kontra Taqwa

Duski Samad (Dosen UIN Imam Bonjol)

Puncak tertinggi capaian Ramadhan adalah taqwa. Taqwa itu sejati adalah menjadikan shaim dan shaimah mampu dan kuat dalam memosisikan diri sebagai orang baik dan benar. Karena memang Ramadhan itu tujuannya adalah membentuk menjadi orang baik. Namun perlu disadari orang yang baik dan benar dapat saja menjadi orang buruk dan jahat. Penjabat sewaktu-waktu berganti nama dengan penjahat. Pemborong menjadi pembohong, buya pun dapat berubah menjadi buaya.

Patut juga diperhatikan baik sekalipun itu dapat saja membawa ketidakbaikan bila tidak diwaspadai bahaya yang menganti baik dengan tidak baik. Ilmu dan pembiasaan baik adalah cara untuk menjadikan kebaikan tetap baik. Contoh alam menunjukan mereka yang memiliki pengetahuan tinggi, lalu tidak didukung oleh pembiasaan yang terus menerus mudah saja berubah. Begitu juga hal dengan taqwa tidak bisa bertahan bila ilmu dan pembiasaan tidak bertaut kuat. Ilmu menjadi pemandu dan pancang kekuataannya. Pembiasaan menjadikan ia biasa dan menjadi prilaku rutin.

Al Qur’an memberikan kesempatan untuk lebih mendahulukan kebaikan. Keburukan diberi sanksi setimpal, sedangkan kebaikan diberi kebaikan lebih dan bonus.

Artinya: “Dan milik Allah-lah apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. (Dengan demikian) Dia akan memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat jahat sesuai dengan apa yang telah mereka kerjakan dan Dia akan memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik dengan pahala yang lebih baik (surga).”(QS. An-Najm 53: 31)

Pesan dari ayat di atas adalah bahwa perbuatan baik dan buruk di mata Allah diperlakukan beda. Amal baik diberikan pahala yang lebih baik. Amal buruk di balasi setimpal dengan keburukkan nya.

Taqwa sebagai puncak kebaikan diberi keutamaan bila keburukan dapat dikontrol dan dijauhkan. Manusia memang tidak bisa mengaku bersih dari dosa dan kesalahan, namun ampunan Allah Maha luas yang dapat menjadikan ia diterima sebagai orang taqwa. Allah SWT berfirman: Artinya: “(Yaitu) mereka yang menjauhi dosa-dosa besar dan perbuatan keji, kecuali kesalahan-kesalahan kecil. Sungguh, Tuhanmu Maha Luas ampunan-Nya. Dia mengetahui tentang kamu, sejak Dia menjadikan kamu dari tanah lalu ketika kamu masih janin dalam perut ibumu. Maka janganlah kamu menganggap dirimu suci. Dia mengetahui tentang orang yang bertakwa.” (QS. An-Najm 53: Ayat 32).

Virus Taqwa

Sepertiga terakhir Ramadhan atau jelang Idul Fitri perjuangan merebut taqwa yang sudah hampir didapatkan, tanpa disadari dijakiti virus ganas. Virus ganas perusak taqwa atau kontra taqwa itu telah menyerang muttaqin. Tradisi hidup sederhana orang yang puasa secara perlahan berubah dengan budaya belanja lebaran membeli barang yang tak terlalu penting. Kebiasaan menahan diri mulai lepas kendali dengan memborong pakaian dan furniture rumah tangga baru. Kemauan baca al Qur’an malam hari, berganti dengan kesibukan membikin kue lebaran dan membereskan rumah untuk persiapan Lebaran.

Pulang mudik jelang lebaran tiba dengan tujuan silaturahim dengan orang tua, kerabat dan orang kampung halaman telah pula ikut membawa dampak pengurangan nilai taqwa yang ingin direbut di bulan puasa ini. Jauhnya jalan, macet dan kesulitan karena penuhnya angkutan juga telah menjadikan puasa tidak lagi dapat dilakukan dengan lebih baik, yang pasti mengaji al Qur’an sulit terlaksana dalam pulang mudik.

Kontra taqwa tak kalah hebatnya adalah adanya prilaku curang dan penyimpangan untuk mendapatkan uang biaya lebaran atau ongkos pulang mudik. Pencurian, perampokan, pemotongan hak orang lain dan apa saja bentuk prilaku tercela adalah kontra takwa yang menjadikan puasa kehilangan makna. Tradisi lebaran yang memerlukan biaya tinggi berpotensi menimbulkan sifat, perbuatan dan prilaku kontra taqwa.

Mubazir Kontra Taqwa

Pengalaman lebaran tahun sebelumnya menunjukkan bahwa perilaku dan gaya hidup berkelebihan dianggap biasa saja, bahkan menjadikannya sebagai identitas dan citra diri.

Hasrat belanja berlebihan (boros) sebagian masyarakat dimanfaatkan dengan baik oleh pemilik mall dan toko-toko. Berbagai trik mereka lakukan untuk menarik minat pembeli, baik melalui diskon besar-besaran (big sale) maupun trik lainnya. Hal-hal demikian semakin membuat konsumen merasa dimanjakan, sehingga mereka terlena dan lupa diri. Para konsumen tidak menyadari bahwa mereka sedang diteror dengan mengeruk uang mereka sebanyak-banyaknya, dan mereka pun tidak sadar bahwa mereka sebenarnya sedang digiring untuk menjadi defisit. Menjadi orang yang perilakunya berlawanan penuh dengan nilai ketaqwaan.

Semakin mendekati hari H, semakin sesak pasar-pasar dan mall. Pemandangan aktivitas pasar/mall jelang lebaran berbanding terbalik dengan pemandangan kuantitas jamaah di mesjid maupun tempat tarawih dan itikaf. Tempat perebutan taqwa semakin dekat dengan Idul Fitri, semakin kosong. Pasar dan mall mengalihkan perhatian sebagian masyarakat dari keistimewaan ramadhan, sehingga fadhilah 10 akhir (itqum minan nar) dipastikan raib dengan sia-sia.

Poin spesial Ramadhan (itqum minan nar) telah ditukar oleh sebagian masyarakat dengan berlomba-lomba berbelanja persiapan lebaran secara berlebihan. Sampai-sampai lupa esensi dari hari raya adalah hari kemenangan dan bertambah ketaatan, menang melawan hawa nafsu, namun yang terjadi adalah sebaliknya menurutkan hawa nafsu, memborong semua produk tanpa memperhatikan kebutuhan, apakah kita butuh semua itu sekaligus saat lebaran? Ketika kita tidak butuh namun tetap dibeli bukankah semua itu hanya perbuatan pemborosan/mubazir?

Mengendalikan Nafsu

Pada dasarnya semua umat Islam tahu bahwa ajaran Islam sangat membenci mubazir/perilaku boros. Mubazir sendiri didefinisikan yaitu menjadi sia-sia, tidak berguna, terbuang-buang karena berlebihan. Perbuatan mubazir biasanya terjadi akibat tidak mampu menahan diri dari godaan tawaran big sale dan promo di berbagai mall dan toko. Kebanyakan masyarakat akan mengalami panic buying ketika berhadapan dengan tawaran tersebut jika tak mampu berfikir rasional serta tidak mampu mengontrol jiwanya sehingga tidak sanggup mengelola antara kebutuhan dan pengeluaran.

Perilaku panic buying ini merupakan perilaku masyarakat yang tersihir oleh iklan-iklan dan kemudian tergesa-gesa untuk membeli barang-barang yang sebenarnya tidak begitu dibutuhkan. Perilaku inilah yang harus dipahami betul oleh masyarakat sebagai konsumen agar tidak membeli barang dengan sia-sia atau mubazir.

Oleh karena itu, perilaku mubazir/boros dan berlebih-lebihan disebutkan sebagai perilaku yang tidak mencerminkan kehidupan qanaah dan dilarang dalam Islam. Allah Swt berfirman, “Dan berikanlah haknya kepada kerabat dekat, juga kepada orang miskin dan orang-orang yang dalam perjalanan dan janganlah kamu menghambur-hamburkan hartamu secara boros. Sesungguhnya orang-orang yang mubazir (pemboros) itu adalah saudara setan dan setan itu sangat ingkar kepada Tuhannya.” (QS. al-Isra’: 26-27).

Hal lain yang membuat lebih miris lagi adalah perilaku boros/mubazir sebagian masyarakat yang dengan mudah dan bahkan merasa bangga menyalakan petasan, mercon, main kembang api, aktivitas itu tidak bermanfaat sama sekali bahkan tergolong perbuatan sia-sia karena dipersamakan dengan tindakan “membakar uang” dan mengganggu kenyamanan masyarakat serta dapat merusak lingkungan. Ramadhan yang seharusnya adalah bulan di mana kita mengumpulkan pahala, ampunan dan menuju kemenangan, malah sebaliknya mengumpulkan dosa dan menjadi teman setan. Na’uzubillah.

Sementara di lain pihak masih banyak anak yatim dan fakir miskin yang sangat kesulitan dalam memenuhi kebutuhan hidup mereka. Mereka butuh makanan, pakaian, pendidikan dan tempat tinggal yang layak bukan butuh hiburan sesaat seperti kembang api, petasan, dan pameran kemegahan kita. Alangkah lebih bermakna dan bermartabat jika perilaku boros/mubazir dan berlebih-lebihan dapat diganti dengan memperbanyak lagi sedekah kepada mereka sebagai bentuk kemenangan kita dalam melawan hawa nafsu dan godaan setan. Terlebih menjelang Idul Fitri, tentunya mereka sangat membutuhkan uluran tangan kita, yang telah Allah titipkan sebagian rezeki mereka melalui tangan kita.

Perilaku boros/mubazir dan bermegah-megahan bukanlah bagian dari ajaran Islam. Islam sangat menganjurkan untuk hidup qanaah, hidup dalam kesederhaan, sehingga fadhilah Ramadhan; rahmah, maghfirah, dan itqum minan nar dapat kita raih. Kita hendaknya dapat meraih tingkatan tertinggi dalam berpuasa dari puasa ‘am menjadi puasa khawash, atau bahkan naik pada tingkat shaumul khawashil khawash (puasa sangat istimewa), yaitu puasa orang yang menahan hati dari kemauan yang rendah dan dari pemikiran terhadap duniawi, serta menahan pemikiran kepada selain Allah secara keseluruhan. Semoga!. Amin. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

0 Comments
scroll to top