Menu

Kondisi RTH Muaro Lasak Memprihatinkan

  Dibaca : 140 kali
Kondisi RTH Muaro Lasak Memprihatinkan
HURUF HILANG— Kondisi tulisan Muaro Lasak yang menjadi ikon objek wisata dan sering jadi objek swafoto telah rusak berat. Hurufnya kini mulai hilang satu per satu.

TAPLAU, METRO
Ruang Terbuka Hijau (RTH) Muaro Lasak di Jalan Samudera, Rimbo Kaluang, Kecamatan Padang Barat, pernah menjadi ikon objek wisata di Kota Padang. RTH menjadi tempat favorit rekreasi keluarga itu, dibangun dilengkapi dengan Monumen Merpati Perdamaian.

Monumen tersebut diresmikan oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi) pada iven internasional Multilateral Naval Exercise Komodo (MNEK) pada 12 April 2016 silam. Monumen yang menjadi tanda persahabatan dan perdamaian ke-36 negara-negara peserta MNEK, juga jadi tempat favorit untuk ber swafoto. Objek foto favoritnya, latar monumen burung merpati yang terbuat dari metal menyerupai kertas origami.

Di awal berdirinya RTH Muaro Lasak ini, cukup ramai dikunjungi wisatawan. Tidak hanya dari Kota Padang dan daerah kabupaten kota lain, tetapi juga wisatawan dari luar Sumbar. RTH ini juga sering dijadikan lokasi penyelenggaraan berbagai iven lokal dan nasional.

Namun, sayangnya, objek wisata RTH Muaro Lasak ini kondisinya sangat memprihatinkan dan mulai sepi pengunjung. Kondisi tulisan Muaro Lasak yang menjadi ikon objek wisata dan sering jadi objek swafoto telah rusak berat. Hurufnya hilang satu per satu, menyisakan huruf M, U dan O saja. Huruf yang tersisa itu juga mau lepas dari posisinya.

Tidak hanya itu, taman yang dulunya hijau, kini tidak tampak lagi. Yang ditemukan hanyalah pasir pantai dan sampah berserakan menutupi paving block tempat pedestarian bagi pengunjung. Pasir pantai dan sampah yang menutupi pedestrian tersebut terbawa gelombang ombak dan air laut akibat abrasi pantai. Abrasi juga mengikis dan mengancam keberadaan Tugu Perdamaian.

Kondisi objek wisata itu diperparah dengan tembok dinding bertuliskan Tugu Perdamaian catnya sudah mengelupas. Termasuk juga cat ornamen-ornamen kecil yang memuat nama-nama negara peserta MNEK juga mulai mengelupas.

Meski RTH Muaro Lasak tidak seindah dulu lagi dan sepi pengunjung, tetapi sejumlah pedagang masih bertahan di taman itu untuk berjualan. Terlihat selain pedagang, juga tampak tenda-tenda tempat duduk santai untuk pengunjung masih menjamur, meski terlihat sepi.

Seorang pengunjung, Ari (33) mengaku kecewa melihat kondisi RTH Muaro Lasak. Melihat kondisi taman yang rusak parah tersebut membuat Ari enggan berswafoto dan lebih memilih bermain bersama anaknya pagi itu.

“Kok seperti ini sih. Dulunya taman ini sangat indah. Saya masih menyimpan fotonya di laman Facebook (FB). Sekarang sudah berubah, gersang. Tidak seindah dulu lagi,” keluh Ari yang datang bersama suami dan anaknya berlibur di RTH Muaro Lasak, Minggu (1/11).

Mantan Kepala Dinas PUPR Sumbar, Suprapto tidak memungkiri, untuk perawatan RTH Muaro Lasak memang berat. Tetapi perawatan tetap harus dilakukan.

Selain perawatan, pemerintah daerah juga harus secepatnya mengatasi abrasi di kawasan tersebut. Apalagi kawasan RTH Muaro Lasak sudah menjadi ikon pariwisata di Kota Padang dan Provinsi Sumbar.

Tenaga Ahli Kementerian PUPR itu juga mengungkapkan, untuk mengatasi permasalahan ini, Pemprov Sumbar maupun Pemko Padang harus ada masterplan pembangunan kawasan wisata Pantai Padang.

“Instansi yang terlibat harus menyeluruh. Baik itu Dinas Pariwisata, Dinas Perdagangan, Dinas PUPR, BPBD, Bappeda, Dinas Koperasi dan UKM. Termasuk juga asosiasi pedagang harus terlibat. Karena wisata sukses apabila masyarakat dalam kawasan tersebut punya nilai tambah dalam pendapatannya,” ujar Suprapto. (fan)

Editor:
KOMENTAR

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Fanpage Facebook

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional