Menu

Kompor Mita Plus Bensin Oplosan Meledak, Rumah Terbakar

  Dibaca : 1879 kali
Kompor Mita Plus Bensin Oplosan Meledak, Rumah Terbakar
COVID— Sejumlah tenaga kesehatan menangani pasien Covid-19 yang baru tiba di IGD.
Rumah terbakar ikon

ilustrasi

PASAMAN, METRO–Ledakan kompor minyak tanah yang tercampur dengan bensin seketika menimbulkan api besar di rumah semi permanen milik Harta Siregar (55), warga Sungai Pimping, Nagari Padanggelugur, Kecamatan Padanggelugur, Kabupaten Pasaman, Jumat (20/11) sekitar pukul 12.05 WIB kemarin. Dua orang yang saat itu tengah berada di rumah korban juga turut menjadi korban dan mengalami luka bakar.

Informasi yang dihimpun POSMETRO, rumah semi permanen yang dihuni oleh anak pemilik rumah, Agus Salim (35) tersebut hangus dilalap api dengan cepat. Dibantu warga setempat, satu unit mobil pemadam kebakaran (Damkar) diterjunkan memadamkan kobaran api. Selain itu, Agus Salim juga menderita kerugian materil yang ditaksir mencapai puluhan juta.

Dari keterangan sejumlah saksi mata dan korban, api berasal dari kompor yang meledak sesaat setelah diisi minyak tanah yang sebelumnya dibeli dari penjual minyak keliling bernama Ridwan. Minyak tanah yang baru saja dibeli korban, lalu dites apakah bercampur bensin (premium) atau bukan. Bersama Ridwan, korban pun mengisi minyak yang baru dia beli itu ke dalam sebuah kompor.

Saat dihidupkan menggunakan korek api, tiba-tiba api pun menyambar lalu menimbulkan ledakan keras hingga melayang dan menjebol atap rumah korban. Dari penuturan warga, suara ledakan kompor tersebut terdengar hingga radius 500 meter. Teriakan keras yang terdengar dari dalam warung pun sontak membuat warga yang hendak melaksanakan sholat Jumat berhamburan.

Mereka spontan mengambil alat seadanya untuk memadamkan api. Tak berselang lama, tim damkar dari Pos Unit Padanggelugur pun tiba di lokasi kejadian. Sementara, Ridwan, si penjual minyak tanah oplosan itu membantah minyak tanah yang ia jual dioplos dengan bensin hingga menyebabkan terjadinya kebakaran di rumah itu.

”Api itu bukan dari kompor yang baru saja diisi minyak tanah yang saya jual. Tapi berasal dari kaleng yang di dalamnya sudah berisi minyak dua liter,” katanya saat ditemui di Puskesmas Tapus.

Untuk memastikan minyak tanah tidak tercampur, istri korban, tiba-tiba menyalakan korek api diatas kaleng berisi minyak tanah itu. Akibat musibah itu, kata Ridwan, ia juga mengalami kekerasan dari warga setempat. ”Saya jual minyak sebanyak 18 liter ke pak Agus. Masih ada dua liter lagi di dalam jeriken kaleng milik Agus. Tapi saya tidak tahu itu minyak jenis apa. Saya juga dipukuli akibat itu,” tuturnya sembari menahan rasa sakit.

Kapolsek Panti, AKP Dasman mengakui, ledakan kompor berisi minyak tanah oplosan diduga menjadi penyebab terjadinya musibah kebakaran tersebut hingga menghanguskan seisi rumah dan harta benda korban. Dugaan sementara, ada kesengajaan dalam kejadian tersebut. Sedangkan, dua orang yang mengalami luka bakar serius yakni, Indra (12) dan Reza (17) juga langsung dilarikan ke rumah sakit terdekat.

”Kebakaran menghanguskan rumah Harta Siregar yang dihuni oleh anaknya Agus Salim, untuk berjualan kebutuhan sehari-hari. Api diduga kuat berasal dari kompor yang sebelumnya diisi minyak,” kata AKP Dasman usai melakukan olah TKP.

Peristiwa kebakaran itu, kata Kapolsek, menimbulkan kerugian materil dan diduga ada unsur kesengajaan. Diketahui, api berasal dari kompor yang diisi minyak tanah oleh Agus Salim. ”Minyak tanah ini dijual oleh Ridwan, warga Sinonoan yang ternyata bercampur dengan bensin. Peristiwa ini akan kita usut tuntas,” ujarnya.

Pihaknya juga sudah mengamankan satu unit becak motor yang berisi enam jeriken besar minyak tanah dan jeriken kecil untuk dijadikan barang bukti. Selain itu, pihaknya juga meminta warga mengembalikan minyak yang baru saja dibeli dari pedagang itu. “Kita langsung amankan jeriken-jeriken itu serta memintai keterangan dua orang saksi yakni, Abdul Rahman (41) dan Aris (32) yang sebelumnya juga membeli bensin itu,” katanya.

Kapolsek Panti ini memastikan minyak tanah yang dijual itu bercampur bensin. Dugaan itu semakin kuat, di saat petugas Polsek Panti melakukan tes terhadap stok minyak tersisa, ternyata hasilnya positif bercampur bensin (premium).
”Minyak tanah itu dijual ke warga sebesar Rp10 ribu per liter, sementara warga mengaku sering membeli minyak keliling pada harga Rp13 ribu per liter. Ini sedikit lebih murah dari biasanya,” katanya.

Disebut Kapolsek, para korban luka bakar pun sudah mendapatkan pengobatan di rumah sakit terdekat. Sementara, Ridwan, salah seorang pedagang minyak tanah juga masih menjalani perawatan intensif di Puskesmas Tapus karena menderita luka bakar serius di bagian wajah. ”Para korban menderita kerugian sebesar Rp30 juta. Selain harta benda, barang dagangan, kebakaran juga menghanguskan sepeda motor Yamaha Mio Z 3220 TK korban,” katanya. (y)

Editor:
KOMENTAR

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional