Menu

Kisah Penjaja Sapu Lidi Asal Kuriataji, Demi Anak Rela Terbakar Matahari dan Dibalut Debu Jalanan

  Dibaca : 1881 kali
Kisah Penjaja Sapu Lidi Asal Kuriataji, Demi Anak Rela Terbakar Matahari dan Dibalut Debu Jalanan
PENJUAL SAPU— Neli (32) penjual sampu lidi keliling bersama dua anaknya menunggu pembeli di perempatan lampu merah Simpang Telkom Padang Baru.

ROZI NOVITA
PADANG
Terik matahari bagitu panas tidak membuat susut langkah ibu muda asal warga Kuraitaji, Kecamatan Pariaman ini untuk memikul setumpuk sapu lidi dan mengendong putri kecilnya serta seorang putranya berkeliling Kota Padang menjajakan sapu lidi jualanya dengan berjalan kaki.

Ibu muda itu bernama Neli (32). Kulitnya terlihat mengering dan hitam legam akibat terpanggang panasnya matahari. Dua ikat sapu lidi yang baru saja dipikul setelah berjalan kaki, dia letakkan di dipinggir jalan dekat perempatan Simpang Telkom, Padang Baru. Sementara dua anaknya asyik bermain di pinggir trotoar.

Begitu kerasnya hidup dan perjuangan yang dirasakan Neli demi mencari sesuap nasi bersama dengan dua buah hatinya. Putri kecilnya bernama Keisha (1) dan putranya Afdhal (4). Demi hidup, mereka terpaksa turun ke jalanan.

Neli mengaku, sebenarnya dia tidak tega membawa ke dua anaknya ikut merasakan panasnya aspal terbakar mata hari dan menghirup tebalnya asap kendaraan yang lalu-lalang. Hal ini dilakukan lantaran tidak ada yang menjaga putra putrinya itu, sebab suaminya juga bekerja sebagai buruh lepas.

“Dari rumah, kami berangkat dari Kuraitaji Pariaman sekitar pukul 07.00 WIB, menggunakan bus. Tiba di Padang kami menjajakan sapu lidi ini dengan berjalan kaki hingga pukul 16.00 WIB,” kata Neli.

Karena kegiatan itu sudah dilakukan setiap hari, dia pun mulai tidak khawatir lagi dengan anak anaknya yang sudah terbiasa. Meski cuaca panas tak ada terlihat raut kesedihan di wajah mereka. Bahkan mereka menikmatinya, tertawa sambil bermain di belakang kantor Telkom.

Sebenarnya, kata Neli, pendapatan dengan menjual sapi lidi keliling, tidak sesuai dengan perjuanga yang mereka lakukan. Terkadang dalam satu hari, ia hanya mendapatkan uang sebanyak tiga puluh ribu. Kalau sedang beruntung, ia bisa membawa pulang uang sebanyak seratus lima puluh ribu. Itu pun belum lagi modal yang harus dikeluarkan. Ditambah biaya makan dan biaya tak terduga lainnya.

“Biasanya pendapatan bersih itu, sekitar tujuh puluh ribu saja. Itu pun sudah serba hemat. Terkadang kita bawa nasi dari rumah, namun selalu basi kena panasnya cuaca,” tutur Neli. Senin (24/2)

Menjual sapu lidi keliling ini ternyata sudah dilakoni Neli sejak putra keduanya Afdhal berusia delapan bulan dalam kandungan. Hal ini lantaran suami Neli pergi meninggalkanya dan sang cabang bayi karena faktor ekonomi keluarga yang serba kekurangan.

Sejak itu Neli bertekat harus bisa menjadi perempuan tangguh dan mandiri, karena dia satu-satunya tulang punggung keluarga, sebagai sosok ayah sekaligus ibu bagi anak-anaknya.

Neli selalu berkeinginan untuk dapat menghidupi anak-anakya dengan layak dan tidak perlu ikut berpanas-panasan dijalanan. Mereka harus bisa mengenyam pendidikan setinggi mungkin walaupun ia harus membanting tulang.

“Saya ingin anak saya menjadi abdi Negara yang berguna bagi Nusa dan Bangsa serta membuktikan kepada ayahnya bahwa anak-anaknya akan menjadi orang-orang hebat”,tuturnya.

Sambil berurai air mata, Ia pun berkeinginan jika ada modal usaha ia berkeinginan menjual bensin eceran di depan rumahnya,dan tidak perlu lagi berangkat pagi dari Pariaman menggunakan bus sambil menjujung sapu lidi dan menggendong Keisha serta Afdhal,dan tidak perlu lagi berjalan kaki keliling kota Padang untuk menjajakan sapu lidinya. (*)

Editor:
KOMENTAR

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Fanpage Facebook

Iklan

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional