Menu

Kisah Pasien Sembuh dari Covid-19, Berpikiran Positif dan Banyak Ibadah

  Dibaca : 471 kali
Kisah Pasien Sembuh dari Covid-19, Berpikiran Positif dan Banyak Ibadah
Berkisah— Salah seorang pasien positif Covid-19 berinisial “J” asal Biaro Kecamatan Ampek Angkek Kabupaten Agam, menceritakan kisah perjuangannya berhasil sembuh dari virus mematikan.

Salah seorang pasien positif Covid-19 inisial “J” asal Biaro Kecamatan Ampek Angkek Kabupaten Agam menceritakan perjuangannya berhasil sembuh dari virus mematikan tersebut. Pasien yang berprofesi sebagai pegawai TU di Puskesmas Baso itu, mengatakan bahwa salah satu kunci untuk bisa sembuh dari Covid-19 adalah dengan berpikir positif dan perbanyak beribadah (shalat dan doa) kepada Allah SWT. “Saya perbanyak shalat sunat dan tahajud hampir setiap malam. Setiap waktu saya terus berdo’a. Pokoknya semua serahkan saja kepada yang Maha Kuasa,” jelas J.

Ibu dua anak itu menjelaskan, pada 4 Mei, ia bersama rekan-rekan yang bekerja di puskesmas didatangi tim medis Dinas Kesehatan Kabupaten Agam untuk dilakukan pengecekan kesehatan. Saat itu, J mengaku bahwa ada beberapa hari sebelumnya salah seorang pasien ODP yang berulang kali berobat di Puskesmas Baso dan kemudian dinyatakan positif Covid-19.

J sendiri mengaku bahwa dirinya tidak mengalami gejala Covid-19. Seperti batuk ringan, badan panas, tenggorokan sakit atau sakit kepala. Saat itu dirinya sehat-sehat saja tanpa adanya gejala seperti penderita Covid-19.

Apalagi, jelasnya, ia bekerja hanya dibagian Tata Usaha (TU) sehingga tidak kontak langsung dengan pasien positif ataupun PDP. “Karena kawan-kawan pada diperiksa semua, maka saya juga diperiksa. Sehingga 7 Mei keluar hasil swab -nya 7 orang diantaranya positif corona termasuk diri saya,” jelas J.

Mendengar hasil swab tersebut keluar, J sempat agak syok dan bahkan sempat tidak percaya karena dirinya tidak kontak langsung dengan pasien positif Covid-19. “Sempat kaget juga, karena tidak ada gejala tapi saya positif.

Cuma yang saya rasakan waktu itu hanya tenggorokan kering, dan itu wajar karena saat itu puasa,” terang J menjelaskan.

Setelah tahu positif, ia memberikan kabar tersebut kepada pihak keluarga termasuk anak dan suaminya. Saat itu keluarganya memberikan semangat dan meminta untuk tidak terlalu cemas. Besoknya, tim medis juga memeriksa anak dan suaminya. “Alhamdulillah hasilnya anak dan suami saya negatif. Itulah yang membuat saya lega dan berpikir positif karena mereka tiap waktu selalu memberikan semangat kepada saya,” paparnya.

Dalam masa perawatan atau karantina selama 2 minggu (7 Mei sampai 20 Mei) di Diklat Padang Basi, disamping diberikan obat dan vitamin, ia juga diberi semangat oleh para petugas kesehatan. J juga menuturkan bahwa selama dirawat ia mendapatkan perawatan yang cukup baik, pelayanan yang bagus dan ramah. “Saya ucapkan terimakasih banyak kepada seluruh tim kesehatan yang sudah merawat saya sampai sembuh dan bisa berkumpul kembali dengan keluarga. Dan kepada anak dan suami saya serta kerabat dan kawan-kawan semuanya terimakasih atas support dan do’anya. Bagi yang terjangkit, saya do’akan agar segera sembuh,” pintanya.

Kepada masyarakat, ia juga menghimbau untuk mengurangi aktivitas keluar rumah, kurangi bertemu orang banyak, sehingga bisa mengurangi risiko penularan. Sebab, jelasnya, tidak ada yang tahu siapa yang membawa virus tersebut.

Terpenting sekali lanjutnya, tetap atur pola hidup bersih dan sehat serta selalu menjaga daya tahan tubuh agar tetap vit dan kuat. “Karena, daya tahan tubuh kita yang kuat, akan membuat virus tersebut kalah,” tuturnya.

Pulang, Sikap Tetangga Biasa
Setelah dinyatakan sembuh dan diperbolehkan pulang ke rumah, 20 Mei, J sempat agak sanksi (ragu) dan cemas apabila diasingkan masyarakat setempat karena disangka pembawa virus. Namun, prasangka tersebut tidak terbukti.

Terangnya, masyarakat menyambut baik bahkan merasa tidak percaya kalau dirinya terjangkit positif Covid-19.

Menurut analisa tetangganya, kalau memang dirinya positif corona, kenapa anak-anaknya yang masih kecil tidak terkena juga. “Kalau kamu positif pasti anak-anak kamu juga kena, karena anak-anak rentan tertular virus tersebut,” terang J mengulangi kembali ucapan tetangganya.

Berbeda halnya, lanjut J, hanya saja sedikit kecemasan dirasakan ketika mulai awal bekerja kembali setelah sempat diisolasi mandiri selama 12 hari di rumah. Menurutnya, serasa virus itu masih ada disekitar karena virus mematikan tersebut disinyalir didapat di tempat bekerja.

Sebagai tenaga kesehatan, ia harus tetap kuat dan berjiwa besar dalam menjalani setiap resiko pekerjaan. “Tidak ada sebuah pekerjaan yang tidak memiliki risiko. Namun, yakinlah bahwa segala sesuatunya terjadi atas izin Allah SWT,” ujar J. (*)

Editor:
KOMENTAR

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Fanpage Facebook

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional