Menu

Kisah Haru Ali Agus Setelah Dinyatakan Positif Covid-19

  Dibaca : 289 kali
Kisah Haru Ali Agus Setelah Dinyatakan Positif Covid-19
Ali Agus

SAWAHLUNTO, METRO
Malam takbiran Idul Fitri 1441 H kemarin, merupakan pengalaman yang terlupakan Ali Agus (46) Ketua BPD Desa Sikalang, Kecamatan Talawi, Kota Sawahlunto, karena ia dikarantina petugas kesehatan. Sebab dinyatakan terpapar virus corna (Covid-19), Sabtu (2/6). Ali Agus dikarantina setel;ah sempat contak fisik dengab salah seorang yang juga terpapar virus corna.

Pada malam yang sangat berbahagia bagi umat muslim itu ia bersama 14 rekan-rekan lainnya yang sempat kontak dengan “ES” (63) menjalani protokol karantina di gedung Balai Diklat Tambang Bawah Tanah (BDTBT) Sungai Durian.

Dikatakannya bahwa saat di karantina, psikis dirinya dan rekan-rekan sangat terganggu karena perasaan campur aduk akan keadaan yang mengkhawatirkan, apakah benar terpapar Virus Covid-19 atau tidak.

Dikutip fajarsumbar.com, Senin (1/6/2020) bertepatan dengan hari lahir Pancasila bahwa pada saat malam pertama karantina tersebut ada yang stress, galau, tak bisa tidur bahkan ada juga yang mencoba menghibur dengan candanya hingga tawa pun bercampur kecemasan.

“Pastinya psikis saya dan rekan-rekan terganggu, jika memang terpapar Covid-19, bagaimana dengan istri dan anak-anak saya dirumah. Apakah mereka terpapar juga?,” ungkap Ali.

Perasaan tersebut tetap menjadi beban dalam pikirannya dan rekan-rekan. Bertepatan dengan hari raya Idul Fitri, Minggu 24/5/2020 ia dan rekan-rekan mencoba menghibur diri dengan berkumpul dan tetap menjaga jarak mencoba memecahkan suasana agar dapat meringankan beban pikiran yang belum jelas arahnya.

Dengan alasan tertentu, ia dan rekan-rekan dikembalikan ke desa untuk melakukan isolasi mandiri di tempat yang telah disediakan oleh pemerintah desa tepatnya di gedung TPA dan TPQ milik pemerintah Desa Sikalang.

Warga Desa Sikalang pun menyambut kedatangannya dan rekan-rekan untuk memberikan support serta makanan hingga suplemen untuk menambah daya tahan tubuh.

“Saya sangat bersyukur dan berterima kasih kepada pemerintah desa dan warga yang telah mensupport penuh kami dalam menjalani isolasi mandiri ini,” ucapnya saat menceritakan.

Ada juga warga yang menganggap bahwa ia dan rekan-rekan diduga terpapar Covid-19 sehingga warga tersebut mengucilkan dan berasumsi macam-macam kepadanya dan rekan-rekan bahkan adapula yang menjauh seperti melihat hantu.

Ia mengaku pasrah dan menyerahkan semuanya kepada Allah SWT apa yang menimpa dirinya dan rekan-rekan. Pada saat tes Swab pertama Selasa 26/5/2020, ia dan rekan-rekan optimis dan yakin bahwa semuanya negatif Covid-19, namun tentu saja mereka tetap menunggu hasil tes Swab-nya keluar yang dijadwalkan Jumat (29/5).

Menjelang hasil Swab keluar, ia mencoba menciptakan suasana yang lebih kondusif dengan bermain bulutangkis bersama rekan-rekan. Warga pun mencarikan bola permainan (“kok” atau “shuttlecock”) untuk ia dan rekan-rekan dengan cara memberikannya dengan tetap waspada.

“Warga tersebut memberikan kok (bulu ayam) dengan meletakkan dari kejauhan agar tidak terpapar juga dari kami. Perasaan kami waktu itu sangat aneh karena belum pernah merasakan sebelumnya akan hal ini,” beber Ali Agus.

Hari yang ditunggu pun datang menanti hasil Swab keluar, namun seharusnya hasil Swab keluar hari Jumat, akan tetapi entah kenapa hasil tes Swab tersebut di keluarkan Sabtu (30/5).

“Saat-saat yang mendebarkan menunggu hasil Swab keluar. Namun perasaan tersebut bertambah tak karuan, kami masih menunggu sampai besok (Sabtu),” sambungnya.

Setelah hasilnya keluar dan semuanya dinyatakan negatif Covid-19, dirinya dan rekan-rekan sangat bersyukur kepada Allah SWT, apa yang dikhawatirkan tersebut tidak benar adanya dan apa yang di sangkakan warga selama ini sungguh terlalu.

“Semuanya lega, kekhawatiran selama ini pun dibayar lunas. Kami ucapkan terimakasih banyak kepada pemerintah desa dan warga yang telah mensupport penuh dengan memberikan makanan, suplemen, jamu dan apa saja yang dianjurkan untuk menjaga daya tahan tubuh (imun) kami saat melakukan isolasi mandiri,” sebutnya penuh syukur.

Dengan adanya warga Desa Sikalang yang diduga terpapar Covid-19, warga yang biasa berdagang tahu tempe ke pasar-pasar di Sawahlunto juga ikut mendapat efek yang luar biasa.

“Kepada pedagang ada yang bertanya, ini dari mana? Dijawab dari Desa Sikalang. Pembeli tersebut tidak jadi membeli dagangannya karena khawatir akan juga ikut terpapar Covid-19. Padahal tidak semua warga yang kontak dengan orang yang diduga positif Covid-19 tersebut,” ujarnya sambil menarik napas panjang. (*/cr2)

Editor:
KOMENTAR

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

<span class="blue2 bdrblue">Fanpage</span> <span class="red">Facebook<span>

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional