Menu

Ketua Yayasan SMP Swasta di Kota Padangpanjang Cabuli Siswa, Korban Didoktrin untuk Kepercayaan Diri, Dilakukan di Lingkungan Sekolah

  Dibaca : 478 kali
Ketua Yayasan SMP Swasta di Kota Padangpanjang Cabuli Siswa, Korban Didoktrin untuk Kepercayaan Diri, Dilakukan di Lingkungan Sekolah
CABUL— Oknum guru sekaligus ketua yayasan di salah satu SMP swasta di Padangpanjang (pakai baju oranye) ditangkap atas kasus pelecehan seksual terhadap siswanya.

PADANGPANJANG, METRO–Lakukan pelecehan terhadap muridnya sendiri, seorang guru sekaligus Ketua Yayasan di salah satu Sekolah Menengah Pertama (SMP) Islam Terpadu di Kota Padangpanjang ditangkap atas kasus pelecehan seksual terhadap muirdnya sendiri saat masih menjabat kepala sekolah.

Pelaku yang diketahui berinisial MS (33) ini diduga mengalami penyimpangan seksual berupa menyukai sesama jenis atau gay. Parahnya, pelaku malah melampiaskan ulah bejatnya kepada muridnya yang masih di bawah umur dan dilakukan di dalam kawasan sekolah.

Parahnya, modus pelaku melakukan perbuatan cabul itu dengan memberikan pemahaman kepada muridnya jika melakukan perbuatan tersebut dapat meningkatkan kepercayaan diri. Aksi tersebut dilakukan pelaku dalam kurun waktu yang berbeda sejak Desember 2020 hingga terakhir kalinya dilakukan di ruangan kepala sekolah SMP pada Januari 2021 lalu.

Kasat Reskrim Polres Padang Panjang, Iptu Ferly P Marasin mengatakan, aksi pelecehan oleh guru terhadap muridnya ini dilakukan di sekolah. Kasus terungkap setelah korban menceritakan kepada orang tuanya. Bahkan, pelaku juga sempat meminta korban mengirim video tidak sononoh. Namun korban mempertanyakan tujuan pelaku meminta video itu.

“Alasan pelaku saat ditanya korban yang masih berusia 14 tahun, untuk apa membuat video tidak senonoh itu, yang bersangkutan menjawab untuk meningkatkan percaya diri. Namun, korban ketika itu tidak menuruti kemauan pelaku untuk mengirimkan video,” kata Ferly dalam keterangan tertulisnya, Senin (14/6).

Selanjutnya, pada 27 Desember 2020, ditambahkan Ferly, pelaku menghampiri korban di asrama sekolah. Pelaku mengajak ke kamar wali asrama. Sesampai di sana, pelaku mulai melakukan tindakan pelecehan. Mata korban ditutupi dengan kain saat berbaring.

“Kemudian pelaku nekat melecehkan muridnya di atas kasur, meskipun korban sudah bersikeras menolak. Usai melakukan pelecehan, korban disuruh kembali ke asrama untuk mandi dan korban diperbolehkan pulang,” jelas Ferly.

Ferly menuturkan, aksi pelecehan juga dilakukan kembali pada 6 Januari 2021. Saat itu, korban bertemu dengan pelaku di tangga asrama. Pelaku menyuruh korban untuk menghampirinya pada malam hari di ruang kantor kepala sekolah. Dan pelaku melakukan aksi pelecehan kembali di ruangan tersebut.

“Aksi serupa juga dilakukan pelaku pada tanggal 16 Januari 2021 sekira pukul 22.30 WIB. Korban juga diminta oleh pelaku datang ke ruangan kantor kepala sekolah. Di situ, korban kembali mengalami pelecehan seksual oleh pelaku,” ungkapnya.

Dijelaskan Ferly, setelah beberapa kali mengalami pelecehan seksual oleh gurunya sendiri, korban pun kemudian menceritakan kepada orang tuanya dan membuat laporan polisi. Menindaklanjuti laporan itu, pihak kepolisian melakukan penangkapan. Saat ini, pelaku telah diamankan di polres untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya.

“Pelaku dijerat pasal 82 ayat (1), ayat (2) juncto pasal 76 E undang-Undang nomor 17 tahun 2016 tentang penetapan PERPU nomor 1 Tahun 2016 tentang perubahan kedua atas undang-undang nomor 23 Tahun 2002 tentang perlindungan anak,” pungkasnya. (tim)

Editor:
KOMENTAR

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional