Menu

Keterangan Saksi Bikin Hakim Geram, Kasus Suap Proyek Jembatan Ambayan dan Masjid Agung Solsel

  Dibaca : 298 kali
Keterangan Saksi Bikin Hakim Geram, Kasus Suap Proyek Jembatan Ambayan dan Masjid Agung Solsel
DISUMPAH— Tiga saksi disumpah dengan Al-Quran, sebelum memberikan keterangannya di Pengadilan Tipikor pada Pengadilan Negeri Padang Kelas 1 A.

PADANG, METRO
Setelah Rabu (5/8) lalu, jaksa KPK menghadirkan 4 orang saksi pada sidang lanjutan dugaan penerimaan suap Muzni Zakaria, Bupati (non aktif) Solok Selatan, Kamis (6/8) Pengadilan Tipikor pada Pengadilan Negeri (PN) JPU KPK menghadirkan dua Dalam sidang yang digelar secara marathin dua hari tersebut. Jaksa Penuntut Umum (JPU) pada Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Rikhi BM, bersama tim menghadirkan tiga orang saksi.

Bupati non aktif ini diduga terlibat dalam kasus dugaan suap  dari Bos PT. Dempo Group M. Yamin Kahar, terkait dua proyek  Jembatan Ambayan dan Masjid Agung  Solok Selatan.

Para saksi yang dihadirkan yaitu Suhanda Pribadi, David Melko dan Angga Septian, dimana ketiga saksi merupakan anggota dari PT. Dempo Group. Menurut keterangan Suhanda Pribadi mengatakan, pada tahun 2018, terdapat dua proyek pembangunan di Kabupaten Solok Selatan. “Waktu itu pembangunan di Solok Selatan adalah jembatan Ambayan dan Masjid Agung,” katanya.

Ditambahkan saksi, saat itu, M.Yamin Kahar (berkas terpisah, dalam kasus yang sama), pernah bercerita kalau, saksi disuruh mencarikan perusahan untuk mengerjakan proyek tersebut. “Setelah kita mencari perusahan tersebut, maka dapatlah PT.Yaek dan PT. Zaikha,” ujarnya.

Saksi juga mengaku bahwa, dalam pengerjaan tersebut,  terdapat persenan, sebanyak 12 persen. “Pembagian 12 persen tersebut, untuk pak Yamin Kahar, Dinas PU dan bupati. Namun, ketika majelis hakim menanyakan kepada saksi Suhanda Pribadi,berapa besaran persenan, saksi mengaku lupa. “Saya lupa berapa jumlahnya,”sebutnya.

Pengakuan saksi, membuat geram majelis hakim. “Gimana saudara ini, masak lupa,” tegas hakim ketua sidang Yoserizal didampingi M.Takdir dan Zaleka masing-masing sebagai hakim anggota. Sedangkan saksi David Melko, mengaku besaran persenan tersebut, bupati Solok Selatan yang paling besar bagiannya. “Kalau untuk pembagian persenan yang besar itu bupati pak,” tutur saksi.

Terdakwa yang saat itu, didampingi Penasihat Hukum (PH) tampak terdiam saat para saksi memberikan keterangannya. Dalam surat dakwaan dijelaskan, terdakwa Muzni Zakaria, didakwa  menerima uang dan barang yang secara keseluruhannya Rp375.000.000.00. Dimana pemberian tersebut, terkait dengan  pembangunan Masjid Agung Solok dan jembatan Ambayan di Kabupaten Selatan tahun anggaran 2018 kepada M.Yamin Kahar.

Dimana perbuatan terdakwa Muzni Zakaria, bertentangan dengan kewajibannya selaku Bupati Solok Selatan. Awalnya pada bulan Januari tahun 2018 terdakwa Muzni Zakaria,  mendatangi rumah M.Yamin Kahar (berkas terpisah), yang merupakan bos PT. Dempo Grup, di Lubuk Gading Permai V,  jalan Adi Negoro, Kecamatan Koto Tangah Kota Padang.

Dalam pertemuan tersebut, terdakwa menawarkan paket pengerjaan kepada M.Yamin Kahar dengan pagu anggaran Rp 55 miliar, dan M.Yamin Kahar menyanggupi. Proyek pengerjaan melalui sistem lelang. Saat mengikuti lelang tersebut, M.Yamin Kahar, pun menang. Dimana sebelum proses lelang dilakukan, orang kepercayaan M.Yamin Kahar, disuruh berkoordinasi  dengan Hanif selaku Kepala Pengerjaan Umum (PU) Kabupaten Solok Selatan. Namun proyek tersebut,tidak dikerjakan oleh PT. Dempo, tapi dikerjakan oleh perusahaan lain, karna PT.Dempo mencari perusahan lain.

Terdakwa Muzni Zakaria memerintah kepala PU, untuk meminta uang kepada orang kepercayaan M.Yamin Kahar, yang bernama Suhand Dana Peribadi alias Wanda, dan menstransfer uang sebesar Rp100 juta, kerekening Nasrijal. Setelah dana cair, uang tersebut dibagikan kepada istri terdakwa sebesar Rp60 juta dan dibagikan kebagian protokol Pemerintah Kabupaten Solok Selatan sebesar Rp25 juta guna THR, Rp15 juta untuk kepentingan terdakwa, Rp10 juta untuk sumbangan turnamen, dan Rp5 juta untuk pembiayaan kegiatan MoU.

Selain itu, terdakwa pun juga kembali menerima uang dari M.Yamin Kahar, dengan rincian Rp2 miliar, Rp1 miliar,Rp200 juta. Uang yang diterimanya dilakukan secara bertahap dan uang tersebut digunakan untuk rumah di Jakarta. Tak hanya itu, terdakwa meminta kepada M.Yamin Kahar utuk dibelikan karpet masjid, di toko karpet, jalan Hiligo, Kota Padang, senilai Rp50 juta. (cr1)

Editor:
KOMENTAR

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional