Menu

Ketakutan Warga Bukik Kalikih, ”Bergemuruh dan Terlihat Kumpulan Tanah”

  Dibaca : 424 kali
Ketakutan Warga Bukik Kalikih, ”Bergemuruh dan Terlihat Kumpulan Tanah”
RPW (38), warga Koto Langang, Kenagarian Punggaaan Timur, Kecamatan Linggo Sari Baganti, Kabupaten Pesisir Selatan diamankan Polsek Lengayang Polres Pessel, usai korban R (40) melapor ke Polsek Lengayang. 
Sabtu kelabu yang tak ingin diingat lagi oleh Yulia (38) istri dari Yufrizal (40) pemilik bengkel yang berlokasi di Jl Palembang RT03 RW 06 Kel Gates

SISA LONGSOR— Bengkel di Jalan Palembang, Gates, masih berlumpur usai longsor yang menimpa rumah warga, Sabtu lalu. (mario nasution/posmetro)

SABTU kelabu itu mungkin tak ingin dikenang lagi oleh Yulia (38), istri dari Yufrizal (40), pemilik bengkel di Jalan Palembang, Kelurahan Gates, Kecamatan Bungus Teluk Kabung ini pascalongsor yang menimpa rumahnya, Sabtu (21/11) sore. Dalam hitungan detik, kios bengkel milik suaminya sesak dipenuhi oleh tanah bukit tersebut.

MARIO SOFIA NASUTION– GATES

Selesai hujan deras yang mengguyur, dengan cepat runtuhan pasir bercampur batu menerjang dari puncak Bukik Kalikih. Bakso yang sudah dipesan dari pedagang keliling di sana pun belum sempat dinikmati. ”Astaghfirullah…….apo iko,” ucapnya sembari menjerit dan memeluk erat si bungsu, Kiki (5).

Dengan sigap dia langsung berlari menggendong anaknya ke dalam bengkel untuk menyelamatkan diri dan melupakan bakso yang dipesannya. Sembari gemetar dan pucat pasi dirinya melihat kondisi yang baru saja dialaminya. Dia melihat sendiri bagaimana dua unit sepeda motor dengan pengendaranya tertimbun longsor.

”Datanganya seperti air bah. Bergemuruh. Longsor itu turun dari atas pak. Ini baru pertama kalinya sejak saya tinggal disini. Untung saja tidak ada korban jiwa. Rumah, bengkel dan jalanan di sini dipenuhi tanah. Dan sampai saat ini belum ada satupun bantuan dari Pemko, tapi mereka sudah ada yang k esini,” ujar Yulia.

Selain itu, bekas longsor tersebut juga meninggalkan permasalahan baru, dimana ada sebuah bongkahan batu besar yang tagaiang dan bisa jatuh kapan saja. Sejak peristiwa tersebut, dirinya dan keluarga mengaku takut dan selalu mengevakuasi diri ke rumah keluarga dan tetangga ketika hujan turun.

”Kita takut pak, kalau hujan turun nanti batu yang diatas itu bisa turun tiba-tiba. Kami sangat khawatir akan kondisi ini. Tentunya kita berharap ada solusi dari Pemko untuk permasalahan ini agar kami bisa  tinggal disini dengan aman dan tenang, tidak seperti ini setiap awan mulai gelap kami tinggalkan rumah ini,” ujarnya.

Sementara itu suaminya, Yufrizal (40) mulai jenuh dengan kedatangan orang-orang berbaju Pemko ke lokasi ini. Menurutnya, sejak terjadinya bencana ini belum ada bantuan pun yang mereka terima.

Ka mamoto-moto se apak ka siko, kalau indak ado langkah konkretnyo ancak indak usah apak ka siko. Dari patang alah rami urang tibo tapi baru mamoto-moto se nyo, indak ado tindakan nyata nyo do,” ucapnya kepada rombongan Dinas ESDM Provinsi Sumbar yang meninjau lokasi tersebut.

Dikatakannya, yang memebersihkan jalan dan rumah yang terkena longsor adalah swadaya masyarakat. Dilakukan secara manual dengan bergotong royong. Dirinya sangat menyayangkan belum adanya perhatian yang diberikan oleh Pemko akibat bencana ini. Selain itu, dirinya juga mempertanyakan  keberadaan proyek pembangunan rusunawa tersebut.

”Apakah memang sudah ada izinnya sebab tanah dari bukit tersebut dikeruk dan dijadikan pondasi  bangunan. Semenjak kejadian ini proyek ini sepertinya dihentikan, tentunya kita ingin ada kejelasan terhadap proyek tersebut,” ujarnya.

Salah satu warga yang rumahnya juga tertimbun tanah, Hendra (25) mengisahkan bahwa kejadian tersebut berlangsung begitu cepat dan seketika. Sewaktu kejadian dirinya sedang berada di dalam rumah dan terdengar suara gemuruh yang begitu besar.
Mode suaro aia tajun mambao aia gadang bunyi nyo pak, tu awak  balari kancang kalua. Kironyo tanah ko alah sampai menimbun halaman rumah, tingginyo alah sampai 50 centimeter,” ujarnya.

Dirinya hanya pasrah dengan kejadian yang menimpa dirinya dan saat ini dia harus berpindah dari rumah yang ditempatinya ketika hujan datang. ”Alah duo hari ko katiko hujan tibo kami bapindah, takuiknyo ada longsor nan labiah gadang tibo. Kita berharap ada solusi dari permaslaahan ini, kok dapek capek dicari solusinyo jan banyak teori sajo. Karena kita di sini hidup dalam ketidaknyamanan,” tutupnya. (**)

Editor:
KOMENTAR

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional