Close

Kepala BNN Tegaskan Tak ada Wacana Legalisasi Ganja di Indonesia

Komjen Pol. Petrus Reinhard Golose

JAKARTA, METRO–Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN) RI Komjen Pol. Petrus Reinhard Golose kembali menegaskan tidak ada wacana mem­bahas legalisasi ganja untuk kebutuhan medis atau rekreasi di Indonesia. Hal ini meskipun beberapa negara mulai melegalkan tanaman candu tersebut.

“Tidak ada sampai saat ini pembahasan untuk legalisasi ganja. Di tempat lain ada, tetapi di Indonesia tidak ada,” kata Petrus Golose pada sela-sela acara peringatan Hari Antinarkotika Internasional (HANI) ­2022 di Badung, Bali, Minggu (19/6).

Ia menyampaikan mes­ki­pun beberapa negara mulai melegalkan ganja, dari segi jumlah masih lebih banyak negara yang menetapkan tanaman can­du itu ilegal.

Ia mencontohkan kebijakan legalisasi ganja di Amerika Serikat pun tidak merata, hanya di negara-negara bagian, bukan secara terpusat atau di ting­kat federal.

Sementara itu, di Asia Tenggara, hanya Thailand yang telah melegalkan budidaya dan penggunaan ganja untuk kepentingan medis/pengobatan.

“Akan tetapi, itu biar di negara lain. Saya tetap konsisten untuk tidak (mem­bahas wacana) me­lega­lisasi ganja,” kata Pe­trus Golose di sela turnamen tenis meja internasio­nal yang merupakan rangkaian HANI 2022 di Bali.

Kratom

Kemudian, terkait tanaman kratom yang sempat menarik perhatian publik karena dianggap punya efek candu, Golose menyampaikan pihaknya ma­sih mendalami itu.

“Kratom masih dalam proses, kami melihat ba­gai­mana sampai sekarang itu masih menunggu. Ada aturan-aturan yang harus kami laksanakan. Akan tetapi, kami dari BNN mengusulkan itu jadi salah satu bahan dalam perubahan Undang-Undang (Narkotika-red),” kata Kepala BNN.

BNN tahun lalu menyampaikan rencananya mengusulkan, agar kratom (Mitragyna speciosa) masuk dalam narkotika golongan I, sehingga tanaman itu tidak dapat digunakan untuk pengobatan.

Rencana itu kemudian menuai polemik, karena beberapa kelompok ma­sya­rakat menggunakan kra­tom sebagai bahan obat-obatan tradisional/her­bal.

Wakil Bupati Kapuas Hulu Wahyudi Hidayat, pada bulan ini, menyampaikan tanaman kratom punya potensi jadi pendorong perekonomian masya­rakat yang berkelanjutan dan ramah lingkungan. Ia me­nambahkan kratom saat ini menjadi salah satu tanaman asli Kapuas Hulu yang masih dibudidaya oleh beberapa masyara­kat.

Akan tetapi, BNN meyakini kratom memiliki efek samping yang lebih kuat daripada morfin, zat yang saat ini masuk narkotika golongan II di Indo­nesia.­(jpg)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

0 Comments
scroll to top