Menu

Kemenkes: Belum Ada Vaksin Usia di Bawah 12 Tahun

  Dibaca : 140 kali
Kemenkes: Belum Ada Vaksin Usia di Bawah 12 Tahun
Juru Bicara Vaksinasi Covid-19 Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Siti Nadia Tarmizi .

JAKARTA, METRO–Juru Bicara Vaksinasi Covid-19 Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Siti Nadia Tarmizi mengatakan bahwa vaksin untuk anak usia dibawah 12 tahun belum ada. Hanya saja, saat ini tengah dilakukan penelitian.

Kata dia, proses tersebut masih dalam tahap uji klinis 1 dan 2. Untuk itu, belum ada rekomendasi vaksinasi anak dibawah usia 12 tahun.

“Ada uji coba uji klinis 1 dan 2 ya, tapi tidak di Indonesia. Belum selesai dan memang belum ada rekomendasi untuk vaksinasi dibawah usia dibawah 12 tahun,” jelas, Rabu (11/8).

Adapun, untuk vaksinasi anak per 10 Agustus kemarin, sudah ada 2 juta anak yang menerima dosis 1 dan 4 ribu dosis 2, sementara targetnya adalah 26,7 juta anak. Target penyelesaiannya kata dia akan sejalan dengan vaksinasi secara menyeluruh.

“Ini tentunya bersamaan dengan sasaran vaksinasi lainnya,” tutur dia.

Sementara itu, terkait dengan percepatan vaksinasi untuk anak ini, hal tersebut tergantung dengan ketersediaan vaksin. Jadi, apabila vaksin memadai, maka prosesnya pun akan lebih cepat.

“Iya kita lihat keersediaan vaksin ya pasti diprioritas (anak) dan akan diatur oleh pemda setempat,” pungkasnya.

Kemenkes Sediakan Aplikasi SMILE

Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menggandeng BPKP dan berbagai pihak untuk melakukan audit secara berkala dalam rangka mengawasi rantai distribusi dan pengelolaan stok vaksin. Hal ini guna memastikan tidak terjadi penyimpangan pada ketepatan sasaran, jumlah, waktu, kualitas, dan jenis vaksin yang didistribusikan.

“Pelaksanaan audit kita rencananya akan dibantu BPKP. Pada level Provinsi/Kabupaten/Kota dibantu Kemendagri, dan juga TNI/Polri agar kita bisa memonitor secara dini pergerakan stok vaskin, penggunaan vaksin, dan sisa vaksin di masing-masing Kabupaten/Kota. Jadi kalau ada sesuatu yang perlu kita tindaklanjuti dan intervensi bisa dilakukan segera,” kata Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin.

Dalam rangka mendukung pengawasan distribusi dan update stok vaksin nasional, Kementerian Kesehatan telah menyediakan aplikasi Sistem Monitoring Imunisasi dan Logistik Elektronik (SMILE) yang merupakan platform untuk memuat data seputar distribusi vaksin dan lokasi penyimpanannya mulai dari tingkat provinsi hingga Puskesmas.

“Platform ini untuk memastikan data pusat dan daerah sama sekaligus sebagai bentuk transparansi terhadap pengelolaan vak­sin Covid-19,” ucap Budi.

Budi ingin pemerintah daerah dan Dinas Kesehatan Provinsi maupun Kabupaten/Kota bisa memanfaatkan platform tersebut dengan melakukan update secara berkala mengenai ketersediaan stok vaksin didaerahnya. Sehingga data tersebut bisa dipakai sebagai dasar bagi pemerintah untuk menetapkan alokasi vaksin ke daerah tersebut.

“Data ini kami mohon untuk diupdate secara rutin oleh seluruh pemerintah daerah, kalau ada perbedaan harus segera di rekonsiliasikan. Karena nanti akan terlihat stok mana yang masih tinggi di satu provinsi, dan kalau masih tinggi kita tidak akan kirim sampai stok itu bisa dihabiskan, sebelum kita kirim batch selanjutnya. Oleh karenanya kecepatan dan konsistensi pengisian data sangat penting agar datanya sesuai dengan kenyataan yang ada di lapangan,” pesan Budi.

Pihaknya berharap dengan didukung ketersediaan vaksin Covid-19 yang aman, distribusi yang lancar serta kolaborasi erat dari Pemda, Dinkes dan TNI/Polri dalam mendukung pelaksanaan vaksinasi Covid-19, diharapkan target harian vaksinasi bisa terus ditingkatkan untuk mempercepat tercapainya kekebalan kelompok.

Pemerintah telah mengamankan stok vaksin Covid-19 sebanyak 428 juta dosis untuk 208 juta target vaksinasi yang akan datang secara bertahap,” ucap Budi.

Sejalan dengan instruk­si Presiden Joko Wi­dodo, stok vaksin tersebut akan diprioritaskan ke daerah-daerah yang ting­kat penularan dan kasus kematiannya tinggi. Hal ini untuk mengurangi tingkat ke­parahan dan kematian pasien akibat infeksi Covid-19. Dengan demikian, beban perawatan pasien di RS pun semakin ber­kurang.

“Penetapan alokasi vak­sin berdasarkan prioritas nasional yang diarahkan Presiden. Vaksin ini nantinya akan kita distribusikan ke Provinsi lalu diteruskan ke Kabupaten/Kota, jadi kabupaten/kota bisa melihat berapa jatah yang dialokasikan kepada mereka,” ujar Budi.

Untuk mempercepat laju penyuntikan vaksin, pemerintah menargetkan 2 juta suntikan/hari. Distribusi dan pelaksanaan vaksinasi akan dibebankan kepada pemerintah daerah dengan target 1,2 juta/hari, Polri 600 ribu/hari, TNI 500 ribu/hari dan 2,5 juta/hari oleh BKKBN. Adapun pembagian alokasi vaksin sebesar 80 persen untuk daerah dan 20 persen stok pusat.

“Diharapkan ada koordinasi yang erat antara pemerintah daerah, TNI, Polri dan nantinya kalau ada kebutuhan dengan BKKBN didaerah tersebut. Koordinasi ini penting untuk menentukan prioritas dosis 1 dan 2 serta alokasi dari vaksinatornya,” terang Budi menandaskan. (jpg)

Editor:
KOMENTAR

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional