Menu

Keluarkan Maklumat dan Tausyiah, MUI Padang: Saf Shalat Berjamaah Boleh Rapat

  Dibaca : 165 kali
Keluarkan Maklumat dan Tausyiah, MUI Padang: Saf Shalat Berjamaah Boleh Rapat
H Mulyadi Muslim Lc M A, Sekretaris Umum MUI Padang

PADANG, METRO
Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Padang kembali mengeluarkan maklumat dan tausyiah terkait penyelenggaraaan ibadah dalam situasi mewabahnya Covid-19. Dengan surat nomor: 004/MUI-PDG/XII/2020 yang ditandatangani Ketua Umum MUI Padang Duski Samad dan Sekretaris Umum Mulyadi Muslim, jamaah kembali diperbolehkan menggelar shalat berjamaah dengan saf atau barisan yang rapat.

“Dalam pelaksanaan shalat berjamaah dilaksanakan secara normal kembali dengan saf (barisan) yang rapi dan rapat. Pengurus masjid dan mushalla agar melakukan imarah masjid, seperti melaksanakan shalat berjamaah, shalat jumat, wirid pengajian, belajar mengaji dan lainnya dengan memenuhi standar protokol kesehatan penanganan Covid-19,” kata Sekum MUI Padang H Mulyadi Muslim Lc MA, Minggu (3/1).

Katanya, MUI Padang menyampaikan maklumat, pemerintah berkewajiban melakukan tindakan preventif secara optimal dalam rangka menjaga keselamatan dan kesehatan masyarakat dari semua bentuk penyakit/wabah menular. Seperti menyediakan tempat cuci tangan sebelum masuk masjid, menggunakan masker, cek suhu tubuh, membawa sajadah masing-masing, jamaah adalah jamaah tetap dan dalam pelaksanaan shalat berjama ah dilaksanakan secara normal (shaf rapi dan rapat).

“Untuk tausyiah, mendorong semua elemen masyarakat dan pemerintah untuk lebih disiplin dalam penerapan budaya hidup Islami (suluk Islami) untuk mempercepat memutus mata rantai penyebaran Covid-19. Seperti membiasakan diri hidup bersih dengan berwudhu atau cuci tangan, menjaga jarak secara fisik dan juga pandangan dari hal-hal yang sia-sia (laghu) dan maksiat, makan makanan yang bergizi (dengan status halalan thoyyiban), meningkatkan imunitas roahani dengan memperbanyak dzikir kepada Allah SWT,” kata Mulyadi.

Selanjutnya, kata Mulyadi, mendorong organiasi atau lembaga dan individu untuk memperlihatkan kepeduliannya menolong warga yang tidak mampu dalam bentuk penyediaan bantuan sembako dan menggerakkan usaha produktif berbasis zakat, infak, sedekah dan wakaf.

“Terakhir, MUI mengimbau para dai dan muballigh untuk senantiasa memberikan pencerahan kepada umat dalam bentuk motivasi taqarrub kepada Allah SWT, menjaga persatuan umat dan menguatkan ukhuwah antar sesama. Demikianlah Maklumat dan Taushiyah ini kami sampaikan semoga menjadi perhatian bagi kita semua,” kata ketua pengurus Masjid Agung Nurul Iman Padang ini.

Mulyadi menegaskan, maklumat dan tausyiah itu kembali dikeluarkan pascaadanya Peraturan daerah Provinsi Sumbar Nomor: 06 Tahun 2020 tentang Adaptasi Kebiasaan Baru dalam Pencegahan dan pengendalian Corona Virus Disease 2019 (COVID-19), perkembangan penularan Covid-19 di Kota Padang yang sudah terkendali, hasil Mudzakarah MUI Kota Padang hari kamis tanggal 29 November 2020.

“Selanjutnya, rapat Pengurus Harian MUI Kota Padang pada hari jumat tanggal 18 Desember 2020 tentang penyikapan Ibadah dan takmirul masjid dan kaitanya dengan kondisi Kota Padang. Fatwa MUI Nomor 14 Tahun 2020 tentang Penyelenggaraan Ibadah dalam Situasi Mewabahnya Covid-19, Surat Dewan Pimpinan MUI Pusat Nomor: A-1123/DP-MUI/IV/2020, perihal: Pelaksanaan Fatwa MUI Nomor 14 Tahun 2020, Taushiyah DP MUI Nomor: Kep-1188/DP-MUI/V/2020 dan Petunjuk Syariat Islam terkait antisipasi penyebaran wabah penyakit menular dan kaidah-kaidah ushuliyah serta kaidah fikih,” kata dosen Sekolah Tinggi Ekonomi Islam (STE) Ar Risalah Sumbar ini.

Dalam maklumat dan tausyiah itu, kata Mulyadi, juga dikutip sejumlah Ayat Alquran seperti Al-Baqarah ayat 195 yang artinya. “Dan belanjakanlah (harta bendamu) di jalan Allah, dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan, dan berbuat baiklah, karena sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik.”

“Hanya yang memakmurkan masjid-masjid Allah ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Hari kemudian, serta tetap mendirikan shalat, menunaikan zakat dan tidak takut (kepada siapapun) selain kepada Allah, maka merekalah orang-orang yang diharapkan termasuk golongan orang-orang yang mendapat petunjuk (Q.S. At Taubah: 18.”

Juga Hadits Nabi Muhammad SAW. “ Tidak boleh ada penularan (penyakit) dan tidak boleh ada kesialan dan tidak ada hammah (arwah gentayangan) dan tidak ada kesialan dibulan safar, dan berlarilah(selamatkan diri) dari penyakit menular, seperti kamu berlari dari kejaran singa (HR. Al Bukhari dari Abu Huraiarah).”

Juga unsur kaidah unshuliyah, perubahan fatwa sesuai dengan perubahan waktu, tempat, kondisi, niat dan tradisi. “Apabila persoalan/kondisi sulit, maka ada keringanan/kelapangan hukum, dan apabila kondisi sudah lapang/stabil maka hukum berlaku secara normal. Terakhir apabila yang menjadi penghalang mengerjakan sesuatu (ibadah) telah hilang, maka sesuatu yang terhalang itu kembali menjadi boleh,” kutip Mulyadi dari tausyiah dan maklumat itu. (r)

Editor:
KOMENTAR

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional