Close

Keluarga Unggah Foto Luka-Luka di Tubuh Brigadir J

RUMAH DUKA— Jenazah Ajudan Kepala Divisi Propam Polri, Brigadir Nopryansyah Yosua Hutabarat alias Brigadir J, di rumah duka di Sungai Bahar, Kabupaten Muarojambi, Provinsi Jambi. Brigadir J tewas ditembak rekannya sendiri, Barada E.

JAKARTA, METRO–Keluarga Brigadir J atau Nopryansah Yosua Hutabarat alias Brigadir Yosua mengunggah foto-foto kondisi luka pada tubuh sang almarhum. Mereka beranggapan bahwa apa yang menimpa Brigadir J sebagai sebuah kejanggalan, khususnya luka yang ada di sekujur tubuh.  Merespons itu, Kadiv Humas Mabes Polri Irjen Dedi Prasetyo menjawab diplomatis perihal sikap keluarga Brigadir J tersebut.

Dedi juga enggan menjawab perihal Brigadir J yang tidak dimakamkan secara kepolisian. Irjen Dedi memilih menjawab diplomatis perihal dua pertanyaan itu. “Sudah saya sampaikan nunggu tim bekerja dahulu, sabar dahulu,” kata Dedi kepada JPNN.com, Kamis (14/7).  Perwira menengah Polri itu mengungkapkan alasan bahwa biar meminimalkan presepsi yang tak dinginkan. “Biar enggak banyak persepsi-persepsi yang berbeda-beda dan spekulasi,” kata Dedi.

Menurut Dedi, kalau tim khusus yang dibentuk Kapolri Jenderal Listyo sudah selesai bekerja, akan disampaikan hasilnya.  “Nanti semua kalau sudah selesai akan disampaikan dangan pembuktian secara ilmiah,” kata Dedi Prasetyo.

Istri Ferdy Sambo Harus Diperiksa, Siapa Tahu Ada Cinta Segitiga

Pengamat hukum dan politik sekaligus Mujahid 212 Damai Hari Lubis mengatakan kasus kematian Brigadir J yang ditembak Bharada E di rumah Kadiv Propam Polri Irjen Ferdy Sambo perlu diusut secara tuntas. Dia juga menyatakan jangan sampai pihak kepolisian terburu-buru menetapkan Brigadir J yang sudah meninggal dunia sebagai tersangka.

 “Mana tahu ‘ada cinta segitiga’. Ini kebenaran yang sebenarnya mesti diungkap. Ini bicara pembunuhan atau hilangnya nyawa orang, ini kepastian hukum dan keadilan,” kata Damai Hari Lubis kepada JPNN.com, Rabu (13/7)

Dia menyebutkan pihak kepolisian perlu melakukan interogasi yang bersifat khusus termasuk istri Irjen Ferdy Sambo. “Sudah berapa kali? Karena, kok, berani ada rekan petugasnya nyelonong begitu saja atau tepergok? Perlu investigasi khusus,” lanjutnya.

Damai Hari Lubis juga menyebutkan istri Ferdy Sambo harus diperiksa oleh pihak kepolisian secara intensif dan terpisah.  “Istri Ferdy Sambo yang katanya dilecehkan itulah saksi kunci,” ujarnya.

Sebelumnya, Karopenmas Divhumas Polri Brigjen Ahmad Ramadhan mengungkap detik-detik penembakan yang dilakukan Bharada E terhadap Brigadir J atau Nopryansah Yosua Hutabarat di kediaman Irjen Ferdy Sambo pada Jumat (8/7).

Dia menyebut penembakan berawal dari tindakan tercela Brigadir J yang memasuki kamar pribadi Irjen Ferdy Sambo selaku Kadiv Propam Polri.  “Ketika itu, istri Irjen Ferdy Sambo sedang istirahat (di kamar),” kata Ramadhan kepada wartawan, Senin (11/7). Brigadir J kemudian melakukan pelecehan terhadap istri seorang jenderal polisi bintang dua tersebut. “Lalu, Brigadir J menodongkan pistol ke kepala istri kadiv propam,” kata Ramadhan.

Atas insiden itu, istri Irjen Ferdy Sambo langsung berteriak untuk minta tolong. “Sontak ketika itu istri kadiv propam berteriak dan meminta tolong. Akibat teriakan tersebut, Brigadir J panik dan keluar dari kamar,” kata Ramadhan.

Kemudian, Bharada E yang ada di rumah tersebut langsung mendatangi ke kamar dan bertemu dengan Brigadir J. Saat itu, Bharada E menanyakan ke Brigadir J terkait apa yang sebenarnya terjadi. Bukannya menjawab, Brigadir J malah menembak Bharada E. “Akibat tembakan itu, terjadilah saling tembak dan menyebabkan Brigadir J meninggal dunia,” kata mantan Kapolres Palu tersebut.(cr3/mcr8/jpnn)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

0 Comments
scroll to top