Menu

Keluarga Petani Tinggal di Gubuk tak Layak Selama 17 Tahun

  Dibaca : 54 kali
Keluarga Petani Tinggal di Gubuk tak Layak Selama 17 Tahun
RUMAH BARU— Bupati Limapuluh Kota Irfendi Arbi foto bersama keluarga tak mampu yang kini sudah memiliki rumah baru.

LAMPOSI, METRO – Selama 17 tahun, Amir dan Lina beserta dua anak perempuannya tinggal di gubuk peot di pinggir Batang Lamposi. Melewati ratusan meter di tengah pematang sawah untuk bisa sampai ditempat kediaman kelurga petani ini di Koto Panjang, Kecamatan Lamposi.

Tanpa penerangan listrik, sumur, dan WC. Amir dan Lina yang sehari-hari bekerja di sawah orang lain, mendidik dan membesarkan dua putrinya yang masih duduk di bangku SD. Meski melewati pematang sawah penuh lumpur, tidak menyurutkan dua putrinya untuk terus belajar menuntut ilmu.

”Sudah sejak 2003 saya disini. Numpang ditanah orang lain. Kalau sehari-hari saya dirumah saja, dan suami bekerja Kesawah orang lain sebagai petani. Anak dua orang masih sekolah SD,” cerita Lina kepada wartawan usai dikunjungi Walikota Payakumbuh H. Riza Falepi bersama staf dan instansi terkait, Kamis (10/1).

Kepada Wali Kota H. Riza Falepi, Lina menyampaikan terimakasih. Mengingat kini dirinya dan keluarganya sudah tidak tinggal di gubuk reot lagi. ”Saya menyampaikan terimakasih kepada Pak Walikota dan orang-orang yang membantu membangunkan rumah layak huni bagi kelurga saya disini, terima kasih pak wali kota,” ucap Lina dan anaknya serta suaminya.

Seperti diketahui, Pemerintah Kota pada program bedah rumah atau Bantuan Rumah Sederhana tahun 2018 lalu membangunkan rumah untuk kelurga Lina dan Amir tidak jauh dari gubuk reot yang ditempatinya belasan tahun itu.

Kini rumah sederhana dan layak itu sudah bisa ditempati oleh Lina dan kelurganya. Tinggal menyambungkan listrik, WC dan sumur bor sebagai sumber air bersih. Meski jauh di tengah sawah atau dekat Batang Lamposi, di Koto Panjang itu, namun kelurga kecil Lina bersyukur mendapat perhatian dari pemko Payakumbuh.

Riza Falepi, Kamis (10/1) langsung meninjau kondisi rumah layak sederhana milik Lina. Meski melewati pematang sawah ratusan meter, tidak menyurutkan niat orang nomor satu di Payakumbuh itu untuk memastikan warganya mendapatkan tempat tinggal yang layak.

”Pada tahun 2018 lalu kita sudah bangun rumah bantuan sederhana sebanyak 253 unit. Dan pada tahun 2019 mendatang akan kita bangun sekitar 300 unit. Jadi hari ini rumah ibu Lina yang selama ini tidak layak huni, kini sudah bagus tinggal penerangan listrik, WC dan sumber air bersih,” sebut wali kota disambut senyum kelurga Lina.

Riza Falepi juga menyebut bahwa selama ini yang menjadi kendala dalam kegiatan bedah rumah adalah soal kepemilikan tanah. Mengingat syarat untuk bisa dibangunkan rumah adalah tanahnya sudah hak milik. Sementara itu kebanyakan rumah sasaran bantuan tanahnya tidak hak milik tetapi nyewa.

”Kendala kita kepemilikan tanah. Kebanyakan nyewa rumah. Maka kita usulkan untuk buat rusun. Tapi pertanyaannya siapa yang akan mengisi, karena tidak terlalu menarik bagi masyarakat kita. Kalau soal dananya ada, programnya ada,” sebut wako.

Disampaikannya, selama ini pembangunan Bantuan Rumah Sederhana di Payakumbuh menjadi yang terbaik. Banyak daerah lain yang belajar ke Payakumbuh.

”Beda rumah kita yang terbaik dan jadi rujukan. Di kita tidak ada yang setengah selesai, semuanya selesai. Bahkan kita apresiasi masyarakat kita yang begitu peduli, dimana kita hanya bantu 17 juta dan hasilnya setelah jadi bisa mencapai 30-35 juta lebih. Masyarakat ikut membantu minimal dengan tenaga,” tuturnya bangga dengan swadaya masyarakat Payakumbuh. (us)

Editor:
KOMENTAR

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional