Menu

Keluarga Korban Crane Mekkah “Ngamuk” di RS M Djamil Padang

  Dibaca : 1544 kali
Keluarga Korban Crane Mekkah “Ngamuk” di RS M Djamil Padang
Timw AR Center menyerahkan bantuan uang tunai dan beras dari Andre Rosiade kepada keluarga Ria di Mata Air, Padang Selatan.
Korban crane mekkah asal Solok

Seorang korban crane, Zulfitri Zaini (57) ditandu keluar pesawat, untuk dibawa ke RSUP M Djamil Padang. Sampai di M Djamil, keluarga Zaini sempat terlibat kericuhan dengan petugas medis karena dianggap pelayanan yang diberikan tidak maksimal.

PADANG, METRO–Keluarga jamaah haji Zulfitri Zaini (57) yang jadi korban crane mengamuk di RSUP M Djamil Padang, Jumat (2/10) sore. Amukan keluarga dipicu, pelayanan terhadap Zaini yang dianggap jauh di bawah standar.
Menurut keluarga korban, Zaini yang berasal dari Solok dan pulang dengan Kloter III dari Jeddah, masuk ke RSUP M Djamil pada Pukul 12.00 WIB.

Sampai di sana, hingga pukul 16.00 WIB, tidak ada tindakan medis yang dilakukan dokter terhadap korban yang sudah kelelahan setelah menempuh perjalanan jauh menggunakan pesawat udara. ”Sejak masuk ke rumah sakit, penanganan yang dilakukan oleh pihak rumah sakit tidak jelas. Pasien terbengkalai hingga pukul 15.00 WIB di ruang UGD,”  terang adik Zaini.

Emosi keluarga memuncak dan marah-marah kepada petugas RSUP M Djamil. Mereka protes atas pelayanan dan penanganan yang dilakukan.
”Saya belum pernah menemukan dokter seperti ini. Pelayanan kurang baik. Penangangan terhadap pasien tidak jelas. Katanya sudah boleh disuruh pulang, berkasnya tidak diberikan, malah dipersulit. Bahkan dari pihak rumah sakit, berkasnya kepulangan pasien katanya tidak perlu. Tapi saat kami pergi ke bagian lain malah diminta surat izin pulang, ini sangat mengecewakan. Pelayanan seperti apa ini,” ungkap keluarga korban.

Sejumlah, wartawan yang menyaksikan kejadian pertengkaran itu juga sempat diusir oleh tiga security RSUP M Djamil. Hingga pukul 16.00 WIB, korban masih berada di IGD dan belum ada tindakan medis lebih lanjut dari dokter yang menanganinya.

Zulfitri Zaini yang merupakan korban peristiwa jatuhnya crane atau alat proyek di Masjidil Haram, Mekkah beberapa waktu lalu akhirnya mendarat di Bandara Internasional Minangkabau, Jumat (2/10)  sekitar pukul 11.15 WIB, dengan kondisi, tangannya masih terbalut perban serta kaki diamputasi.

Dengan menggunakan kursi roda Zulfitria dibantu petugas Haji keluar dari dalam pesawat Garuda dengan nomor penerbangan GA 3403-Boeing 747-400, bersama 452 jamaah haji lainnya yang tergabung dalam kelompok terbang (Kloter) III Debarkasi Padang.

Kedatangan para jamaah setelah diberangkatkan dari Bandara King Abdul Aziz, Arab Saudi. Ramainya penerbangan membuat pesawat yang mereka gunakan mengalami delay sekitar 7 jam. Seharusnya pesawat yang mereka gunakan tiba BIM pagi hari, namun karena delay rombongan kloter III itu baru mendarat di BIM sekitar pukul 11.15 WIB.

Para rombongan haji yang baru tiba Jumat kemarin belum bisa langsung keluar dari bandara, perlu sterilisasi atau pengecekan kesehatan. Masih kondisi kelelahan setelah perjalanan panjang, Zulfitri dibantu Badan Pelaksana Ibadah Haji (BPIH) Kemenag Sumbar keluar dari dalam pesawat menuju mobil ambulans yang telah standby. Setelah singgah sebentar di Asrama Haji  Tabing Padang, petugas kemudian melarikannya ke RSUP M. Djamil Padang guna mendapatkan perawatan intensif.

”Karena kondisinya masih kelelahan, setelah perjalanan panjang ia harus mendapat perawatan. Makanya dibawa ke RSUP M Djamil  Padang,” kata Plt Kabid Haji Kemenag Sumbar Damri.

Katanya, selain Zulfitri, salah seorang jamaah asal Kabupaten Solok  yang ikut korban saat peristiwa itu bernama Tri Murti (65) masih berada di RS Arab Saudi. Sedang menjalani perawatan tim medis rumah sakit setempat. Kondisi jemaah tersebut mengalami luka dan patah pada dua jari tangan kanan, kemudian kaki dan tangannya patah tulang. ”Ia belum dapat banyak bergerak, karena dipasangi gips. Pihak rumah sakit juga tidak memperbolehkan kembali ke tanah air,” terangnya.

Sudah Dilayani Maksimal

Humas RSUP M Djamil Gustafianof membantah kalau Zaini tidak dilayani dengan maksimal. Menurutnya, sejak masuk pukul 12.00 WIB, Zaini sudah dilayani dengan baik. “Sejak pertama masuk langsung ditangani. Pertama, oleh dokter jara. Setelah diperiksa dokter jaga, lalu diserahkan ke dokter bedah, sesuai penyakit yang diderita. Pasien kan memang mengalami luka di tangan, makanya ke dokter bedah,” kata Gustafianof.

Sampai di dokter bedah, pasien lalu dilihat lukanya. Hasil pemeriksaan, luka tersebut tidak terlalu serius dan tidak membutuhkan perawatan yang khusus. Bersamaan dengan itu, masuk pula pasien luka hati yang membutuhkan perawatan cepat. “Tentu pasien luka hati jadi prioritas, mengingat korban crane itu bukan berstatus pasien gawat darurat,” tutur Humas M Djamil.

Sekitar pukul 14.00 WIB, usai menangani pasien luka hati, dokter kembali memeriksa Zaini. Hasil pemeriksaan, luka Zaini tidak perlu mendapatkan perawatan serius dan diperbolehkan rawat jalan. “Pelayanan yang kita laukan sudah sesuai protap. Tidak ada yang menyalahi aturan,” papar Gustafianof.

Bukan Tanggung Jawab KKP

Terkait insiden keluarga korban crane, petugas Kantor Kesehatan Pelabuhan (KKP) Kelas II Debarkasi Padang Dr Resnita menyebutkan, proses pemulangan jamaah, termasuk Zaini sebagai korban crane bukan tanggung jawab KKP atau RSUP M Djamil Padang, tapi merupakan tanggungjawab daerah. “Jadi, daerah harus tahu semuanya. Bagaimana keadaan jamaah, apakah jamaah butuh ambulans atau tidak,” ungkap Resnita dalam Group Whats App Info Debarkasi Padang.

Kasubag Humas Kantor Wilayah Kementerian Agama (Kanwil Kemenag) Sumbar M Rifky mengatakan, kericuhan yang terjadi di RSUP M Djamil terjadi, kemungkinan karena adanya perbedaan persepsi antara petugas RSUP M Djamil dengan keluarga pasien. ”Mungkin hanya karena perbedaan persepsi. Kita juga harus paham psikologis pasien dan keluarganya,” sebut Rifky.

91 Meninggal, 38 Masih Hilang

Jamaah haji Indonesia yang menjadi korban tewas makin banyak saja. Mereka yang sebelumnya dikabarkan hilang 70 orang lebih, ditemukan telah meninggal di pemulasaraan jenazah di Muaishim Makkah. Hingga kemarin (2/10), 91 jamaah ditemukan meninggal dengan rincian 86 jamaah haji dan 6 mukimin yang tewas terinjak injak saat tragedi Mina di Jalan Arab 204 pada 24 september lalu.

Ada 31 jenazah baru yang berhasil diidentifikasi oleh tim petugas penelusuran korban Mina yang terdiri dari petugas PPIH Daker Makkah, KJRI, TNI/Polri, dan DVI Arab Saudi. Korban tewas yang kebih dari sepekan itu ditemukan tim setelah menelusur 2 ribu foto korban Mina yang dirilis pemerintah Arab Saudi di Muaishim. Mereka adalah para korban yang selama ini berada di 4 kontainer yang belum dibuka. “Sekarang 9 kontainer sudah dibuka semua, lima di  Makkah dan empat di Jeddah. Ada 2 ribu foto yang telah dirilis di Muaishim,” ujar Kadaker Makkah Arsyad Hidayat di Jeddah kemarin.

Menurut dia, banyaknya korban jamaah Indonesia yang berhasil diidentifikasi dari petunuj foto yang dicocokan dengan file perlengkapan seperti gelang, DAPIH, tiket bus salawat milik korban, katu hotel, tas identitas, dan lainnya. “Kami juga memanggil ketua kloter, ketua regu, maupun ketua rombongan yang melaporkan jamaah hilang. Juga teman ja ah lain, saudara yang ada di vsini, dan saksi yang tahu keberadaan terskhir korban. Juga tambahan data sidik jari dari DVI Arab Saudi,” ujarnya.

Arsuad mengaku kini Arab Saudi memberikan akses ya g luas kepada petugas PPIH untuk menelusuri kondisi korban Mina dari Indonesia. “Hasilnya kami menemukan 31 lagi korban. Semoga 38 korban yang masih hilang secepatnya bisa dipastikan keberadaan dan kondisinya,” kata Arsyad.

Bagaiamana dengan tim DVI Indonesia yang baru tiba di Jeddah, Arsyad menjelaskan mereka tetap akan membantu identifikasi korban Mina. Karena masih ada 38 jamaah lagi yang belum ditemukan. Tak hanya itu, im PPIH juga mendapatkan informasi adanya jamaah tambahan yang cedera dan dirawat di RSAS sebanyak 3 orang sebagai berikut:  Unaeni Abdul Karim Usman, kloter JKG 33 nomor paspor B0626214 dirawat di RS. King Khalid Jeddah;  Sofyan Haeruddin Emod Akmad, kloter JKS 21 nomor paspor B0740442 dirawat di RS. Malik Abdul Aziz Jeddah; Romlah Abdullah Hamid, kloter JKS 61 nomor paspor B0745292 dirawat di RS Al Nur Makkah.

Sehingga, kata Arsyad,  jamaah yang cedera dan dirawat di rumah sakit Arab Saudi sebelumnya  5 orang. Pada hari ini, telah kembali ke pemondokan satu orang atas nama Maryam Pauli Kiming kloter UPG 10 dan bertambah baru 3 orang.
Sedangkan satu jenazah WNI yang teridentifikasi wafat, atas nama Ecang Suryadin Rosid, nomor iqomah 2388983450. Almarhum adalah WNI mukimin di Arab Saudi yang bekerja di perusahaan Binladin. Terpenting, lanjut Arsyad, nama-nama yang banyak beredar di media sosial, atau medsos bukanlah korban Mina. Seperti Ana Suhana binti Abas Jks 49 bukanlah korban Mina.

Yang bersangkutan meninggal kemarin karena sakit. Ada satu lagi yang disebut-sebut menjadi korban adalah Ery Sukanti binti Mulyo Suyitno Sub 61. Padahal Ery segar bugar dan kemarin selesai umrah. Sementara foto yang banyak beredar di medsos adalah jamaah Burma yang setelah dicek oleh tim PPIH tidak bisa berbahasa atau mengerti tulisan Indonesia. “Kami berupaya untuk mencari sebaik mungkin dan menelusuri semua informasi yang masuk. Tim kami bekerja 24 jam,” kata Arsyad. (r/jpnn)

Editor:
KOMENTAR

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Fanpage Facebook

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional