Close

Kasus Dugaan Pembunuhan Berencana Terhadap Brigadir J Naik Penyidikan

KETERANGAN PERS— Kepala Divisi Humas Polri Irjen Dedi Prasetyo saat memberikan keterangan pers kepada para wartawan.

JAKARTA, METRO–Kasus dugaan pembunuhan berencana terhadap Brigadir J dalam insiden baku tembak dengan Bharada E di rumah dinas Irjen Ferdy Sambo, naik ke tingkat penyidikan. Artinya, Bareskrim Polri meyakini sudah ada dugaan pelanggaran pidana dalam insiden itu.  “Iya sudah, barusan selesai gelar perkaranya,” kata Direktur Tindak Pidana Umum Bares­krim Polri Brigjen Andi Rian Dja­jadi saat dikonfirmasi, Jumat (22/7).

Sebelumnya, Bares­krim Polri memeriksa 11 orang saksi dari pihak pelapor terkait kasus dugaan pembunuhan berencana yang dilaporkan keluarga Brigadir J. Pemeriksaan terhadap 11 saksi dari keluarga Brigadir J itu dilakukan tim penyidik Bareskrim Polri di Polda Jambi.  “Betul, tim sidik memintai keterangan dari pihak keluarga hari ini di Polda Jambi,” kata Kadiv Humas Polri Irjen Dedi Prasetyo saat dikonfirmasi, Jumat.

Dalam penanganan kasus tersebut, Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo mengambil langkah tegas dengan mencopot tiga orang perwira terkait kasus penembakan Brigadir J di rumah Irjen Ferdy Sambo. Ketiga perwira itu, yakni Irjen Ferdy Sambo, Brigjen Hendra Kurniawan, dan Kombes Budhi Herdi Susianto. Ferdy Sambo dicopot dari jabatan Kadiv Propam. Lalu Hendra dicopot dari Karopaminal dan Budhi dinonaktifkan dari Kapolres Metro Jakarta Selatan.  Penonaktifan itu dilakukan guna menjaga objektivitas Polri dalam penanganan kasus penembakan yang dilakukan Bharada E pada Jumat (8/7).

Autopsi Ulang Jenazah Brigadir J Segera Dilakukan

Bareskrim Polri segera mengautopsi ulang jenazah Brigadir J atau Nofryansah Yosua Huta­barat yang tewas dalam in­si­den penembakan di rumah dinas Irjen Ferdy Sam­bo.

Menurut Kadiv Humas Polri Irjen Dedi Prasetyo, autopsi ulang itu dilakukan agar memudahkan proses ekhumasi atau penggalian kubur.

“Informasi yang saya dapatkan dari kepala tim sidik Pak Dirtipidum, sebenarnya dari komunikasi Pidum dengan pihak pengacara ini, kalau bisa secepatnya, makin cepat makan proses ekshumasi ini juga makin baik,” kata Dedi di Mabes Polri, Jumat (22/7).

Jenderal bintang dua itu mengatakan autopsi ulang segera dilakukan guna menghindari tingkat kebusukan jenazah. “Kalau mislanya jenazahnya sudah lama, tingkat pembusukan makin lebih rusak, kalau makin rusak, autopsi ulang atau ekshumasi semakin sulit,” bebernya.

Irjen Dedi menyebut pihaknya melakukan langkah penanganan kasus Brigadir J pada arahan Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo.  “Prinsipnya, sesuai dengan komitmen Bapak Kapolri, proses penyidikan ini kami melibatkan pihak-pihak eksternal tentunya yang ahli di bidangnya,” jelasnya.

Irjen Dedi menyebut aparat ikut melibatkan pihak luar untuk menjaga transparansi penanganan kasus tersebut. “Agar hasilnya betul-betul transparan, akuntabel, dan yang penting bisa dipertanggungjawabkan dari sisi keilmuan dan dari sisi yuridis,” tambahnya.

Sebelumnya, Bareskrim Polri mengabulkan permohonan ekshumasi atau autopsi ulang dari keluarga Brigadir J atau Nofryansah Yosua Hutabarat. Pihak keluarga menilai kematian Brigadir J di rumah dinas Irjen Ferdy Sambo pada Jumat (8/7) penuh kejanggalan. (cr3/jpnn)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

0 Comments
scroll to top