Close

Kasus Covid-19 Turun, Indonesia Lebih Baik dari India dan Turki

Juru Bicara Pemerintah Untuk Covid-19 Prof Wiku Adisasmito.

JAKARTA, METRO–Kasus Covid-19 di Indonesia makin menurun selama 11 minggu berturut-turut sesuai laporan Satgas Covid-19. Akan tetapi jika lengah dan mengabaikan protokol kesehatan, dikhawatirkan gelombang ketiga bisa mengancam.

Juru Bicara Pemerintah Untuk Covid-19 Prof Wiku Adisasmito menjelaskan, kasus yang terkendali saat ini bukan alasan bagi pemerintah dan masya­rakat untuk lengah agar terhindar dari lonjakan ketiga akibat aktivitas ma­sya­rakat yang berangsur normal. Untuk mencegahnya, Indonesia terus belajar dari pengalaman keberhasilan penanganan beberapa negara yang secara cepat mengatasi lonjakan kedua dan ketiga, seperti India, Jepang, Vietnam dan Turki.

“Kecepatan dan ketepatan penanganan Covid-19 yang dilakukan oleh sebuah negara mengindikasikan ketahanan sistem kesehatannya, serta kemampuan adaptasi seluruh lapisan masyarakatnya terhadap permasalahan kesehatan,” kata Prof Wiku secara daring baru-baru ini.

Pertama, kasus di India sempat meningkat tajam dalam lonjakan kedua dibandingkan lonjakan pertama. Bahkan kasus harian bertambah hingga 414.433 kasus per hari. Namun, kenaikan selama 3 bulan ini akhirnya berhasil turun hingga mencapai 90 persen dalam waktu 2 bulan.

“Penurunan ini terus bertahan hingga saat ini, yang menandakan penurunan telah bertahan selama 5 bulan,” kata Prof Wiku.

Lalu, Vietnam meski sempat menjadi negara dengan penanganan terbaik di dunia dan hampir berhasil menge­ra­dikasi Covid-19 sepanjang tahun 2020 dan awal 2021. Namun, tiba-tiba kasusnya melonjak selama 2 bulan hingga mencapai puncak, dan kemudian berhasil turun 73 persen dalam waktu 2 bulan.

Lalu Turki, di mana kasusnya naik se­lama 3 bulan, kemudian berhasil turun 93 persen dalam waktu 3 bulan. Namun sayangnya, saat ini kasusnya kembali menunjukkan peningkatan. Dari pengalaman negara tersebut, Indonesia diklaim terlihat lebih baik dari India dan Turki.

“Kedua negara ini membutuhkan waktu 3 bulan untuk mengatasinya, sementara Indonesia hanya dalam waktu 2 bulan berhasil mengatasinya” kata Prof Wiku.

Adanya perbedaan besaran angka penurunan ini, kata dia, dikarenakan tantangan dihadapi masing-masing negara berbeda. Namun secara garis besar tantangannya serupa yaitu kemunculan varian Delta.

Seperti di India, kenaikan kasus lonjakan kedua akibat euforia keberhasilan negara menurunkan kasus di lonjakan pertama. Sehingga masyarakat cenderung merasa aman dan kembali beraktivitas tanpa menerapkan protokol kesehatan, terutama kegiatan agama dan politik.

“Karena euforia ini pula, laju vaksinasi cenderung menurun dibandingkan saat lonjakan kasus pertama. Langkah penanganannya dengan meningkatkan testing, kembali menerapkan wajib masker, menggencarkan vaksinasi, dan menerapkan lockdown,” ungkapnya.

Sementara di Indonesia sendiri, lonjakan kasus terjadi pasca liburan Idul Fitri dampak mobilisasi masyarakat meningkat serta kegiatan berkumpul dan mengunjungi keluarga. Kegiatan seperti ini memberi ruang penyebaran varian delta di tengah masyarakat. Menghadapi ini, Indonesia bergerak cepat menerapkan kebijakan berlapis. (jpg)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

0 Comments
scroll to top