Menu

Kapolres Sijunjung Kunjungi Pasar Ternak Palangki, Tercengang dengan Transaksi “Marosok”

  Dibaca : 444 kali
Kapolres Sijunjung Kunjungi Pasar Ternak Palangki, Tercengang dengan Transaksi “Marosok”
MAROSOK—Kapolres Sijunjung, AKBP Andry Kurniawan mempraktikkan cara ”marosok” yang sudah menjadi tradisi jual beli masyarakat Minang di Pasar Ternak Palangki.

SIJUNJUNG, METRO
Pertama kali mengunjungi pasar ternak Palangki, Kapolres Sijunjung AKBP Andry Kurniawan tercengang melihat transaksi jual beli ternak sapi dengan cara “marosok” di balik kain sarung. Merasa penasaran dengan tradisi tersebut, Kapolres pun ditunjukkan bagaimana transaksi dan negosiasi dengan cara marosok. Menjelang Hari Raya Idul Adha 1441 H aktivitas jual beli di pasar ternak regional II Palangki, Kecamatan IV Nagari, Kabupaten Sijunjung meningkat. Jumlah hewan ternak yang masuk mencapai 10 ribu ekor, yang terdiri dari sapi, kerbau dan kambing.

Kunjungan Kapolres didamping Kapolsek IV Nagari, Iptu Dian Jumes dan Kasubag Humas Iptu Nasrul Nurdin, Camat IV Nagari, Nasrul serta unsur Forkopimcam lainnya ikut meninjau pasar ternak Palangki, tujuannya untuk mengimbau masyarakat agar waspada dengan aksi pencurian ternak serta tindak kriminal lainnya. Pasar ternak Palangki berlangsung setiap hari Sabtu. Penjual dan pembeli tidak hanya berasal dari Sumbar namun, juga dari luar provinsi seperti, Riau, Jambi, Sumsel, Sumut bahkan dari pulau Jawa sekalipun.

Tak ayal, jika puluhan ribu hewan ternak masuk pasar tersebut untuk diperjualbelikan. Bahkan dalam satu hari, transaksi di pasar ternak Palangki berjumlah miliyaran rupiah. “Kita mengimbau agar masyarakat waspada, karena umumnya transaksi dilakukan secara tunai, termasuk aksi pencurian ternak. Kemudian memastikan agar hewan ternak yang dijual memiliki surat keterangan yang jelas dan dalam kondisi sehat,” tutur Kapolres Sijunjung, Sabtu (25/7).

Kapolres sempat berdialog dengan pengunjung pasar ternak, hingga ingin tahu bagaimana proses jual beli ternak yang menjadi kearifan lokal masyarakat Minangkabau dengan cara marosok. “Unik juga caranya, cukup dengan bersalaman  harga bisa disepakati. Bahkan mereka juga bisa mengetahui berapa banyak dagingnya, cukup dengan memegang hewannya saja,” ucap Kapolres takjub.

Marosok merupakan sebuah tradisi dalam jual beli hewan ternak masyarakat Minang. Ijab kabul penjual dan pembeli hanya menggunakan isyarat, tidak lewat tutur kata langsung. Cara jual beli ternak dengan istilah marosok sudah sejak dahulu dilakukan, hingga menjadi tradisi turun temurun sampai kini. Kesepakatan harga dalam transaksi hanya diketahui antara si penjual dan pembeli saja. Meskipun itu dilakukan ditengah keramaian. Biasanya, para pemasok sapi atau dikenal dengan sebutan toke jawih akan memakai cara itu untuk mencari kesepakatan harga hewan ternak yang akan dibeli.

Mereka pun bisa menghitung berapa kilogram daging yang ada pada hewan, hanya dengan memegang dan meremas badan hewan ternak tersebut. “Setelah dipegang kita bisa memperkirakan berapa kilogram daging yang ada pada hewan tersebut. Jadi tidak perlu menimbangnya. Jual beli pun berlangsung dengan tenang. Tidak seperti jual beli umumnya di pasar,” tutur H. Marlius salah seorang toke jawih dari Muaro Paneh, Kabupaten Solok yang datang ke Palangki. Selanjutnya, penjual dan pembeli akan melakukan negosiasi dengan cara berjabat tangan. Saat bersalaman, tangan akan ditutupi dengan kain, biasanya menggunakan kain sarung. “Disaat tangan berjabat, jari akan digerakkan, setiap jari dan gerakan pada tangan akan menentukan harga tersendiri,” ujarnya.

Umumnya orang yang melakukan transaksi jual beli di pasar ternak sudah saling paham dengan cara transaksi marosok. “Contohnya, jika harga hewan tersebut Rp5 juta, maka cukup dengan menggenggam 5 jari secara bersamaan saat berjabat tangan. Kalau Rp4,5 juta, genggam empat jari lalu tekukan jari jempol. Itu artinya empat setengah. Kalau setuju cukup anggukkan kepala saja,” ungkapnya. Setiap jumlah harga yang ditawarkan bisa melalui isyarat marosok. Karena setiap gerakan dan jari yang dipegang akan menyatakan harga tertentu. “Umumnya sudah saling paham. Berapa pun harganya bisa diisyaratkan. Kalau sudah bersalaman, kesepakatan harga akan segera ditemui sehingga tidak perlu lama-lama untuk berjabat tangan,” paparnya.

Apabila harga jual beli sudah disepakati, si pembeli akan memberikan uang tunai kepada si penjual. Itu pun juga ditutupi dengan kain. “Kalau sudah sepakat, baru dibayar, caranya sama dengan ditutupi kain. Jadi orang lain juga tidak melihat uang tersebut, barulah si penjual menghitung uangnya. Jika sudah selesai, barulah hewan ternak dibawa,” jelas H.Marlius. Dikatakannya, transaksi dengan cara marosok bermakna agar tidak menimbulkan rasa kecemburuan sosial antara pedagang dan pembeli lainnya.
“Maknanya agar tidak ada prasangka dan sebagainya. Karena bisa saja kesepakatan itu dibuat dengan harga yang lebih tinggi ataupun lebih rendah, yang jelas saling menyepakati atau bakarilaan istilahnya,” terang toke jawih itu.

Kepala UPTD pasar ternak Palangki, Fahrizal mengatakan. Setiap hewan yang akan dijualbelikan di pasar ternak dilakukan pendataan. “Kita data semua, dan lakukan pengecekan kesehatan. Karena saat ini menjelang lebaran haji, jadi lebih ramai dari hari biasanya. Untuk hari ini ada sekitar 10 ribu ekor hewan ternak yang masuk,” sebutnya.

Meski demikian, jumlah tersebut katanya, lebih rendah dibanding tahun sebelumnya. Hal itu disebabkan faktor ekonomi saat pandemi Covid-19. “Biasanya sampai 15 ribu ekor.
Kemarin kita sempat tutup selama tiga bulan karena Covid-19, saat new normal kita buka kembali, namun tetap menerepkan protokol Covid-19. Untuk jual beli pun tahun ini juga menurun karena kondisi ekonomi saat ini,” tambahnya. (ndo)

Editor:
KOMENTAR

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional