Menu

Kalah dek Bawang, Manang di Lado

  Dibaca : 96 kali
Kalah dek Bawang, Manang di Lado
Kalah dek Bawang, Manang di Lado oleh Sukri Umar (Wartawan Utama)

Meroketnya harga tiket pesawat sejak beberapa hari belakangan menjadi bahan perbincangan banyak orang. Naik pesawat yang selama ini dianggap sebagai hal biasa, kini mulai dianggap wah. Sama seperti di era sebelum adanya tiket murah.

Kalau kita di Sumbar tentu masih ingat ketika bandara Tabing masih dioperasikan. Siapa yang naik pesawat dianggap orang berduit atau seorang pejabat atau pegawai yang berangkat dengan dana “abidin” alias anggaran biaya dinas. Jika tak masuk dua kelompok itu mereka memilih jalur lain, baik darat maupun laut.

Bandara Tabing dulu juga ramai, baik pada musim haji, lebaran atau hari hari biasa. Ramai tidak hanya oleh calon penumpang pesawat tetapi juga keluarga atau teman yang mengantar. Melepas pesawat hingga hilang dari pandangan mata, di lantai dua bandara Tabing. Masuk ke lantai dua saat itu juga membeli tiket. Begitu benar wahnya naik pesawat kala itu.

Seiring perputaran waktu sejak beberapa tahun silam, orang yang berangkat dengan pesawat tak lagi dianggap wah. Maka tak terlalu berlebihan begitu kita melihat padatnya arus penumpang di Bandara BIM Padangpariaman. Sebagian adalah calon penumpang, sementara pengantar atau penjemput hanya beberapa orang saja.

Pilihan berangkat dengan pesawat tentu bukan tanpa alasan. Cepat, harga bersahabat dan relatif aman. Jika dibandingkan dengan arus darat dan laut tentu jalur udara memiliki banyak kelebihan. Booming atau ledakan penumpang pesawat seperti ini berlangsung bertahun tahun.

Penumpang pesawat tak hanya orang kaya atau berangkat dengan perjalanan “abidin” tadi, sampai ke buruh dan pembantu pun bisa berangkat dengan pesawat. Tak pandang pangkat dan jabatan, sekelas “kabayan” yang kain sarungnya digantungkan di leher dan kopiah miring juga bisa membeli tiket murah lalu berangkat dengan pesawat.

Sebagai daerah kepulauan tentu secara nasional pilihan jalur transportasi udara menjadi pilihan utama karena jarak dan waktu. Apalagi yang bekerja dengan mobilitas tinggi. Seorang pimpinan perusahaan berskala nasional bisa saja melakukan rapat di tiga daerah dalam satu hari. Begitulah efisiennya perjalanan dengan menggunakan pesawat.

Pedagang Minang baik di rantau maupun di kampung halaman juga banyak meraup keuntungan dengan tiket murah. Seringkali kita bertemu di pesawat ada pedagang yang berangkat subuh untuk membeli pakaian ke Tanah Abang atau tempat lainnya. Mereka balik dengan membawa barang dagangan dengan pesawat malam. Tak hanya biaya tiket yang murah, keleluasaan untuk bagasi juga murah dan tidak terlalu ketat.

Putaran waktu begitu cepat, kini kita dihadapkan dengan kenyataan bahwa harga tiket kembali melonjak. Tak pilih penerbangan apapun. Khusus rute lokal Padang Jakarta misalnya, harus merogoh uang yang cukup besar. Seringkat perjalanan “abidin” yang ada batasan tiket nya terkadang harus menambah dengan uang pribadi.

Fenomena mahalnya tiket pesawat sepertinya tidak sebatas kebijakan sesaat. Regulasi yang seakan akan mendapat persetujuan dari pengambil kebijakan tentu akan dimanfaatkan dalam jangka panjang oleh para operator. Kini para pedagang harus berpikir dua kali bolak balik dengan pesawat, masyarakat biasa harus mengubur mimpi terbang ke sana ke sini. Pariwisata yang menjadi andalan harus menerima kenyataan stagnan.

Setiap ada perubahan tentu membawa perubahan pada sisi lain. Jika penerbangan sepi karena mahal, tentu darat akan menjadi alternatif. Akankah pertumbuhan jalur jalur lintas yang selama ini mati suri akan berkembang lagi? Dengan tumbuh dan berkembangnya perekonomian masyarakat di jalur lintas. Jika ini terjadi maka khusus Sumbar bertemu lah istilah “kalah dek bawang, manang di lado. Kerugian pada satu sisi dapat diimbali dengan keuntungan di sisi lain. (*)

Editor:
KOMENTAR

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Fanpage Facebook

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional