Menu

Kabut Asap di Sumbar Makin Menggila

  Dibaca : 1971 kali
Kabut Asap di Sumbar Makin Menggila
Gubenur Kepri H Ansar Ahmad dan Wagub Kepri Hj. Marlin Agustina serta Pemimpin Wilayah 02 area Kepri, Sumbar dan Riau, Faizal A Setiawan di moment HUT Kepri serahkan 1 unit mobil Transfusi Darah sebagai CSR BNI.
Kabut asap makin parah di Payakumbuh . Raihan sekolah harus pakai masker - foto Hasperi Armi-facebook2

Kabut asap makin parah di Payakumbuh. Salah satunya, Raihan seorang anak yang harus pakai masker ke sekolah pada Sabtu (19/09/2015). (foto: Hasperi Armi/facebook)

PASAMAN, METRO–Kabut asap kembali mengganas di sejumlah kabupaten dan kota di Sumatera Barat pada Sabtu (19/9) kemarin, seperti yang terjadi di Kabupaten Pasaman sejak dua hari terakhir. Padahal, asap kiriman dari negeri tetangga itu sempat berkurang disaat daerah ini diguyur hujan lebat. Begitu juga di kawasan kota wisata, Bukittinggi.

Pantauan POSMETRO pada Sabtu (19/9), kabut asap kembali menyelimuti daerah tersebut sehingga menyulitkan masyarakat setempat untuk beraktivitas diluar rumah. Sementara kebutuhan masker belum tersedia. Kabut asap tersebut kiriman dari Provinsi Riau, Jambi dan Sumsel juga menyebabkan jarak pandang semakin pendek sehingga banyak pengemudi yang menyalakan lampu kendaraannya disiang bolong.

“Kabut asap sebenarnya  mulai hilang setelah hujan mengguyur satu minggu yang lalu, namun sejak kemarin kembali pekat,” tutur Nenggolan, warga Padanggelugur.

Namun, kata dia, kabut asap itu datang lagi. Intensitasnya semakin pekat dari sebelumnya. Padahal, kata dia, asap kiriman sudah hilang selama tiga hari.
“Tapi sejak kemarin asap pekat kembali menyelimuti daerah ini. Jarak pandang pun berkurang,” katanya.

Ia mengaku khawatir kabut asap yang kian pekat tersebut dapat mengganggu kesehatan, terutama anak-anak, dimana mereka mudah terserang penyakit akibat bencana itu. “Tidak hanya orang dewasa saja, tapi anak-anak mudah terpapar. Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) yang paling gampang menyerang,” tukasnya.

Sementara itu, Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Pasaman M Sayuti Pohan, mengimbau masyarakat untuk mengurangi aktivitas di luar rumah guna mencegah terkenanya penyakit ISPA. “Kurangi aktivitas di luar rumah jika tak perlu. Jika harus ke keluar rumah pakailah masker agar tak terpapar penyakit akibat kabut asap,” ujar Sayuti.

Ia pun mengajak masyarakat untuk memakai masker apabila keluar rumah serta memperbanyak mengomsumsi air putih serta buah-buahan. Selain itu, pihaknya juga meminta masyarakat untuk tidak melakukan pembakaran sampah yang ada di sekitar pemukiman serta lahan perladangan karena hal itu dapat memicu hotspot baru.

“Kabut asap kabut asap kian pekat jika hal itu dilakukan. Makanya, kita meminta warga hindari pembakaran sampah, lahan dan kebun  dulu,” katanya.

Jika mengalami gejala gangguan kesehatan, ia pun meminta warga secepatnya mendatangi pusat pelayanan kesehatan terdekat, seperti Polindes, Pustu dan Puskesmas. “Alami keluhan cepat berobat ke pelayanan kesehatan terdekat. Tim medis siap siaga melayani, obat-obatan kita terbilang cukup,” tukuknya.

Selain itu, kata Sayuti, pihaknya bersama Dinas Kesehatan setempat sudah menyediakan sebanyak 45 ribu masker. Ribuan masker itu, kata dia, disiagakan di Puskesmas.

“Masker kita standby kan di Puskesmas. Bagi masyarakat yang membutuhkan masker bisa langsung mendatangi puskesmas terdekat,” katanya.

Sayuti mengakui, pengadaan kebutuhan masker bagi masyarakat di daerah itu dinilai masih kurang. Pihaknya, kata dia, sudah mengajukan penambahan masker melalui dana tanggap darurat (DTT). Namun masih terkendala pada regulasi. “Sebenarnya masih kurang. Penambahan masker sedang diupayakan melalui dana DTT. Tapi sepertinya itu sulit direalisasikan mengingat terbatasnya kewenangan. seorang Plh,” tukasnya.

Kabut asap yang melanda Pasaman, menurut Sayuti Pohan belum bisa dikategorikan darurat bencana. Namun, pihaknya terus memantau perkembangan terkini perihal kabut asap ini.

Sementara itu, di Kota Bukittinggi bencana kabut asap di wilayah Sumatera telah mengganggu banyak sektor perekonomian masyarakat. Mereka mengeluh karena omset penjualan menjadi merosot. Sabtu (19/9) kemarin, terpantau aktifitas di Pasar Atas Bukittinggi terlihat lengang dari biasanya. Kondisi ini menurut pedagang sudah terjadi sejak bencana kabut asap melanda.

“Sejak bencana kabut asap, tingkat kunjungan pembeli dan omset penjualan semakin merosot,” ungkap Neli, seorang pedagang perhiasan aksesoris.
Pantauan POSMETRO, kabut asap terlihat cukup tebal pada Sabtu (19/9) pagi hingga sore hari. Jarak pandang dari Gedung Bung Hatta ke arah Pasar Atas dan Jam Gadang berkurang sementara langit tak terlihat.

Informasi dari BNPB, Sumbar terkena dampak kabut asap dari Riau dan Jambi. Namun, di Sumbar sendiri berdasarkan pantauan Satelit Terra Aqua juga terdeteksi titik api (hotspot) sebanyak 25 titik.

Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB, Sutopo Purwo Nugroho menyebut, upaya pemadaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang menjadi sumber bencana kabut asap terus dilakukan. Penegak hukum juga terus memburu pelaku pembakaran lahan. Sutopo juga menginformasikan, jumlah titik api terus berkurang.

“Hingga Jumat (18/9) titik api di Sumatera terpantau 471 titik sementara di Kalimantan terpantau 398 titik,” tulisnya.

Pembakar Hutan Ditangkap di Sumbar

Ada satu perusahaan di Riau yang ditetapkan sebagai tersangka pembakaran hutan dan manajer PT LIH berinisial FK (48) ini ditetapkan sebagai tersangka oleh Polda Riau dengan tuduhan melakukan pembakaran lahan. Dia diduga sengaja membakar lahan kawasan hutan sekitar 200 hektar untuk perkebunan sawit. Sementara, perusahaan ini mengantongi izin perkebunan seluas 500 hektar.
Informasi yang didapat, FK ditangkap Polda Riau di salah satu kawasan Sumatera Barat, tepatnya di perbatasan Riau dan Sumbar. Dari sana, pria berbadan tegap dan tinggi itu diboyong ke Pekanbaru. Setelah menjalani pemeriksaan langsung dilakukan penahanan.

“Tersangka adalah bagian dari 44 tersangka pembakar lahan yang sudah ditangani jajaran Polda Riau. Namun dari jumlah tersebut, baru satu dari pihak perusahaan,” kata Kapolda Riau Brigjen Bambang Doly.

PT LIH diketahui hanya bagian kecil dari perusahaan besar. Perusahaan induknya memiliki usaha yang sama di Kalimantan. Dan sejumlah aktifitas kehutanan pun mengatakkan kasus ini mesti dikawal agar proses hukum berujung ke pengadilan. Mereka harus dijerat dengan UU lingkungan. Dengan demikian, hukum yang diterapkan akan maksimal. (age/cr5/wan)

Editor:
KOMENTAR

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional